Jalani Semua dengan Enjoy!

Toni

Toni

Hal yang dilakukan dengan baik juga akan berbuah baik. Hal itu pula yang diyakini oleh Toni, pengusaha sukses Pekanbaru, Provinsi Riau. Pria kelahiran Bengkalis ini berbekalkan filosofi yang selalu ia pegang teguh. Bekerja keras, jujur, tulus menjalankan amanah, dan menikmati semua yang ia jalani dengan sepenuh hati serta enjoy! Toni percaya, ketika semua ia jalani dengan hati, hal-hal baik pun akan menghampiri.

Bicara soal kiat menjalankan usaha dari nol sampai memiliki jaringan luas, Toni mengaku tak banyak resep khusus. “Saya selalu menjalankan dengan enjoy apa yang saya lakukan. Dinikmati. Usaha, saya jalankan dengan santai, bukan sebagai beban. Kedua, pentingkan kejujuran. Komitmen dijaga, selalu apa yang kita ucapkan sesuai dengan yang kita lakukan. Selalu cari win-win solution,” ungkap dia.

Selain menjalankan usaha, Toni juga aktif berkegiatan sosial, termasuk menjadi Ketua Umum Ikatan Keluarga Persaudaraan Tionghoa Bengkalis dan Ketua Umum Happy Golf Club. Sama seperti menjalankan bisnis, Toni mengaku menikmati aktivitas sosialnya ini. “Ini kepercayaan juga. Kalau di bisnis, kepercayaan dari principal dan customer yang di-maintain sebaik mungkin, di organisasi juga begitu. Namanya amanah, dipercayai sesepuh dan anggota, ada beban moral, kalau dijalani dengan tulus tanpa kepentingan maka semua bisa diatasi,” tutur dia.

Waktu untuk keluarga tetaplah utama bagi Toni. Dalam kesibukannya yang luar biasa—dia menggambarkan dalam sepekan bisa 10 kali terbang ke berbagai wilayah di Indonesia—dia memastikan Sabtu dan Minggu ada di Pekanbaru, tempat keluarganya berada. Adapun Senin-Jumat, sesibuk-sibuknya dia bekerja tetap sebisa mungkin makan malam bersama keluarga. “Makan malam bersama istri dan anak-anak dibiasakan supaya ada komunikasi, supaya kalau ada apa-apa bisa dikomunikasikan,” tegas Toni. Dia mengatakan, bisnis, keluarga, dan bahkan teman-teman sama penting dalam hidup karena kita tidak hidup sendirian.

Bila masih ada waktu luang, Toni mengaku juga menyempatkan diri mengajak sang ibunda berjalan-jalan ke berbagai tempat. “Harus seimbang. Kita yang harus bisa atur waktu, itu yang paling penting, tetapi semua harus kita jalankan dengan tulus, nikmati, dan tidak menjadikannya beban,” tutur dia.

Belajar dari pengalaman sang ayah yang tak kuat menanggung beban ketika usahanya jatuh, Toni mengaku tak mau memaksakan diri. “Kadang saya tak mau pusing, kalau sudah selesai ya sudah, kalau sudah jam tidur ya saya tidur. Jangan dipaksain,” tegas dia.

Menurut Toni, krisis sekalipun bila dilihat dari sudut pandang positif merupakan momentum yang membuat kita lebih kreatif. Masukan dari teman-teman, bagi Toni juga sangat penting. Dari para teman yang lebih senior, kata dia, banyak pengalaman yang sudah mereka alami dapat menjadi masukan. , termasuk kondisi sulit yang pernah mereka hadapi dan jalani,” ujar dia.Adapun dari teman dari negara lain banyak pula hal yang Toni pelajari. “Apapun yang kita hadapi di sini, sudah dihadapi di negara lain,” ujar dia.

Belajar gigih dari orang tua

Meski terbuka soal kejatuhan ‘usaha’ ayahnya, Toni tetap melihat sosok sang ayah sejatinya adalah lelaki yang gigih. Sedangkan dari sang Ibu, Toni mengaku sangat mengagumi dan salut dengan kekuatannya menanggung beban dari kejatuhan sang ayah, mulai dari membesarkan tujuh anak seorang diri sampai membayar utang-utang bisnis sang ayah. “Itu semua membuat kami juga gigih. Sekarang saya ingin bisa berbuat terbaik buat Ibu, setelah Bapak tak ada,” kata dia.

Kebangkrutan keluarga adalah pelajaran berharga bagi Toni. “Kami lihat sendiri kondisinya. Saya belajar dari semuanya, dari ayah bankrut, Ibu yang gigih, bekerja dari kecil. Apa yang kita lihat itu menjadi pelajaran, dari siapa saja bisa belajar, tidak harus dia siapa. Dari buruh angkat, supir, sampai cleaning service pun saya belajar. Saya banyak (belajar) dari praktik daripada teori,” ungkap Toni. Dari semua pelajaran dan kiatnya menjalani usaha, Toni kini memiliki 1.000-an karyawan.

Keluarga, rekan usaha, dan pelanggan, menurut Toni saling terkait menjadi motivasinya berbisnis. Keluarga yang sangat mendukung, sebut dia, pelanggan yang memotivasi dengan kepuasan terhadap layanan dan produknya, juga principal yang membuat usahanya maju sekaligus menyemangatinya mengembangkan usaha, pun pelanggan yang loyal sehingga memupuk kepercayaan dirinya dalam berbisnis. “(Tetapi) keluarga dan kesehatan adalah yang paling penting. Kalau tidak didukung keluarga dan kondisi tubuh yang sehat, tidak akan mungkin bisa. Yang kita butuhkan adalah fisik yang prima dan dorongan moral dari keluarga,” imbuh dia.

Memilih BCA Sebagai Pendukung Usaha

Layanan perbankan yang mumpuni, menjadi satu lagi faktor pendukung jalan usaha Toni. Dia mengaku sejak 1998 memilih BCA sebagai bank yang menyokong laju usahanya. “Jaringannya ada di mana-mana. Memudahkan saya, ketika buka cabang di sana sudah ada BCA,” kata dia sembari mengapresiasi pelayanan yang baik dan keramahan karyawan bank ini. Fasilitas BCA, lanjut Toni, juga memudahkan kegiatan bisnisnya. Dia menggambarkan, ke mana pun dia pergi cukup berbekal key BCA untuk bisa bertransaksi dengan KlikBCA.

Bahkan, Toni mengaku sedang berusaha mempelajari dan meniru kepemimpinan maupun manajemen dari bank yang juga memberinya fasilitas kredit untuk pengembangan usaha ini. “Banyak yang bisa kita ambil, mulai dari kebersihan, pengelolaan SDM, mesin dan teknologinya, sampai cara mendelegasikan penugasan,” aku dia.

Saat ini, kantor pusat usaha Toni sudah berpindah ke Jakarta, tak lagi di Pekanbaru. Usaha yang makin besar, menjadi alasan pemindahan kantor pusat itu. “Harus ada di Ibu Kota, karena customer dan principal pasti ke Jakarta,” ujar dia. Meski demikian, Toni tetap menjadikan Pekanbaru sebagai “basis” keluarganya. “Kalau di Jakarta, fokus kerja saja, di sini (Pekanbaru) saya bisa rileks” ujar dia sembari tergelak.

Sejalan waktu, Toni mulai berpikir soal regenerasi. Meski anak pertama dari tiga anaknya pun masih remaja, dia ingin menyiapkan perusahaannya menjadi lebih profesional dan tertata, sehingga kelak anak-anaknya tak susah saat melanjutkannya. Perlahan, perusahaan Toni pun mulai melakukan digitalisasi, menjalankan usaha yang terkomputerasi dan berjejaring di dunia maya.

Meski begitu, anak-anaknya—terutama yang lelaki—kerap dia ajak ke tempat usaha atau mengikuti pertemuan bisnis. “Beri pelajaran dari hal kecil, beri kepercayaan untuk dia menunjukkan performance. Sama seperti mendidik karyawan, agar merasa memiliki (perusahaan),” kata Toni.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − two =