Kesulitan adalah Kesempatan

Kerja keras, tak membatasi diri belajar dari siapa saja, berpadu dengan kejelian membaca peluang, merupakan cerita paling ringkas tentang perjalanan hidup dan usaha Toni, sependek namanya. Namun, cerita yang tampak ringkas itu bermula sejak puluhan tahun silam, dengan beragam liku dan pernak-pernik.

Toni

Toni

Toni kecil harus berhadapan dengan kerasnya kehidupan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Kondisi keluarga membuat anak ketiga dari tujuh bersaudara ini bekerja, sekadar untuk bisa makan setiap hari. “Sebagai anak lelaki, saya harus membantu keluarga, setidaknya tidak menambah beban,” ujar dia soal masa kecilnya. Mulai dari berjualan kue di pasar, menjaga toko, mengumpulkan getah karet, berjualan bahan bakar minyak (BBM), hingga membantu bisnis perkapalan dan sembako, menjadi sederet “pengalaman kerja” Toni sejak masih bocah SD sampai menjadi anak kuliahan.

Lahir dan tumbuh di Bengkalis, Toni pindah ke Batam saat kelas 2 SMA di SMA Yos Sudarso. Di sana, dia tetap membantu bisnis saudaranya. Alasannya pindah ke Batam adalah untuk memperluas wawasan, terutama karena kawasan industri ini sedang maju-majunya saat itu. Pada 1994, dia memutuskan pindah lagi ke Pekanbaru, Riau, dengan alasan yang sama, sembari melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah.

Di Pekanbaru, Toni membantu pakcik yang punya bisnis perkapalan. Dengan rute Pekanbaru-Bengkalis, kapal milik sang pakcik ini sekaligus menangani bisnis sembako, BBM, dan karet. Seiring waktu, Toni memutuskan untuk memulai bisnisnya sendiri. “Saya mulai dari bisnis papan gypsum. Selain karena produk ini masih baru, saya juga tidak mau menyamai bisnis saudara,” ujar dia soal pilihan bisnis pertama yang dia awali pada 1998 dari sebuah ruko di Pekanbaru.

Toni melihat, papan gypsum punya peluang berkembang karena kayu semakin mahal dan langka seiring berkurangnya pasokan. Insting bisnisnya ternyata bersambut, meski untuk meraup pasar harus dia lewati pula dengan menawarkan produknya dari rumah ke rumah.

Pada 1999, perusahaan Toni dipercaya menjadi distributor papan gypsum. Toko cabang pun mulai buka, dimulai dari Batam pada tahun 2000. Tak perlu waktu lama, setiap tahun muncul satu cabang baru, hingga pada tahun 2006 sudah ada cabang usaha Toni di seluruh kota besar di Sumatera. Pada tahun 2006 juga, Toni melirik bisnis baru, yaitu menggarap pasar polycarbonate.

Lagi-lagi, insting Toni melihat ada peluang dari polycarbonate. Setelah itu, dia memutuskan mengimpor langsung dari produsen di Taiwan, sembari melebarkan sayap usaha ke Kalimantan dan Sulawesi. Pada tahun 2007, cabang usaha Toni sudah menyebar di Kalimantan dan Sulawesi.

Ekonomi lesu, saatnya benahi internal

Memasuki tahun 2008, perekonomian Indonesia lesu terimbas gejolak keuangan di Amerika Serikat. Toni pun memilih mengerem laju ekspansi perusahaan. “Ketika market lesu, saatnya pembenahan internal,” tegas dia. Toni menggunakan “jeda” tersebut untuk mulai mencari orang yang bisa menjadi kepercayaannya mengelola usaha, setelah sejak tahun 1998 menjalankan usaha dengan gaya “one man show”.

Menurut Toni, saat ekonomi lesu, pasar juga tak akan bisa dipaksa. “Karena itu kami fokus memperbaiki sumber daya manusia, hire orang untuk bantu saya,” tutur dia. Dalam merekrut orang, prinsip Toni adalah mencari orang yang bisa dipercaya, jujur, dan mau kerja.

Begitu situasi ekonomi membaik, lanjut Toni, usahanya pun langsung melaju kencang. Pada akhir tahun 2008, Toni pun makin melebarkan sayap usahanya hingga Pulau Jawa, dimulai dari Surabaya, menyusul ke Semarang, Bandung, dan tahun 2010 menjajaki pasar Jakarta.

Pada tahun yang sama, 2008, Toni mulai masuk ke industri baja ringan dan genteng metal. Lagi-lagi alasannya memilih dua komoditas tersebut karena melihat peluangnya. Empat pabrik genteng metal pun sudah dan sedang dibangun, yakni di Pekanbaru, Jakarta, Pontianak, dan Batam.

Toni mengakui pilihannya memulai usaha dari Pekanbaru bisa jadi adalah berkah hidupnya. “Kami mulai dari daerah, karena kalau dari Jakarta persaingan terlalu ketat. Kuatkan dulu di daerah. Kepung dari daerah, baru masuk Jakarta,” ungkap dia.

Pada tahun 2010-2011, giliran sektor properti dilirik Toni. Kali ini dia sudah bisa membagi konsentrasi dengan mendelegasikan pengelolaan usaha yang telah berjalan baik kepada para karyawan. “Biasanya bisnis baru, saya yang rintis dulu. Lalu, bisnis yang sudah jalan didelegasikan ke karyawan. Awalnya harus pegang sendiri, biar kita tahu ada masalah di mana. Risiko akan lebih tidak ada. Daripada investasi yang sifatnya hanya spekulasi. Biasa pegang dari kecil, lebih safe, risiko lebih kecil,” papar dia.

Ketika ekonomi kembali terasa melambat pada 2015, langkah Toni pun tak berbeda dengan saat ekonomi lesu pada 2008. Sekarang Toni fokus pada jaringan dan pabrik. “Kondisi sulit itu sebenarnya merupakan kesempatan yang sangat baik, karena banyak yang tak bisa memanfaatkan situasi seperti itu,” imbuh Toni.

Terlebih lagi, dengan populasi, usia produktif maupun prospek perekonomiannya ke depan, Toni optimis prospek usaha di Indonesia masih bagus. “Kesempatan masih sangat besar ke depan. Saya yakin sekali Indonesia punya potensi besar, tinggal bagaimana kita bisa mengambil kesempatan, ambil momen-momen untuk menunggu saatnya (perekonomian) naik,” papar dia.

Toni tak menampik dia mulai menjajaki peluang mengembangkan usaha di luar Indonesia. Namun, kata dia, sejauh ini baru membuat usaha bersama dengan teman-temannya di Thailand, Tiongkok, dan Taiwan. “Karena Indonesia potensinya besar, saya masih fokus di Indonesia meski tak menutup kemungkinan ekspansi ke luar negeri,” kata dia sembari berkeyakinan kemampuan dan daya saing orang Indonesia tak kalah dibandingkan bangsa lain.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × two =