Kisah Jatuh Bangun Bisnis Distribusi di Bukittinggi, Sumatera Barat

Menjadi perusahaan distribusi terbesar di Bukittinggi tidak terpikirkan sebelumnya oleh keluarga Rudy Wahyudi. Tidak main-main 12 prinsipal mempercayakan distribusi produk mereka ke usaha Rudy. Wajar saja, lantaran sekitar tahun 1991, usaha distributor masih tergolong langka untuk wilayah Sumatera Barat. Namun, tekad Rudy sudah bulat untuk merintis usaha distribusi. Saat itu, mekanismenya masih sederhana, kulakan barang di pasar, kemudian dijual lagi di rumah.

Ari Irsyad Wahyudi & Rudy Wahyudi, PT Anugerah Wahyudi Sejahtera (AWS)

Ari Irsyad Wahyudi & Rudy Wahyudi, PT Anugerah Wahyudi Sejahtera (AWS)

Sejak tahun 1991 hingga 2006, Rudy masih mengendalikan penuh roda bisnis usahanya. Namun, pada 2006 itu juga Rudy ingin agar anak-anaknya terlibat mengelola bisnis keluarga tersebut. Akhirnya, Rudy meminta sang anak, yaitu Ari Irsyad Wahyudi (35 tahun) untuk ikut membantu usaha PT Anugerah Wahyudi Sejahtera (AWS) yang dibesutnya dari nol. Ari menerima kepercayaan itu dengan senang hati.

“Waktu itu, sebenarnya saya sudah bekerja di Jakarta, tepatnya disebuah bank yang bergerak dalam bidang pialang saham. Saat itu dari kami berlima, ayah melihat bahwa saya memiliki bakat dalam bidang distribusi, makanya saya pulang ke Bukittinggi untuk mengembangkan usaha keluarga,” tutur Ari berkisah.

Tahun 2006, akhirnya Ari memutuskan untuk resign dari kantornya terdahulu dan mulai terjun di bisnis AWS. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang distribusi makanan, minuman, kosmetik, dan perlengkapan bayi, Ari menyadari bahwa bisnis ini sangat dinamis, sehingga dia tertantang untuk ikut mengembangkan.

Dengan bekal pendidikan S1 dari Australia dan S2 dari Inggris serta pengalaman hidup di negeri orang, tidak sulit bagi Ari untuk menata ulang AWS dengan manajemen lebih modern. Beranjak dari kondisi perusahaan awal, Ari mulai berpikir bagaimana caranya agar bisa menyalurkan barang-barang ke daerah-daerah lainnya di wilayah Sumatera Barat.

Selanjutnya, putera pasangan Rudy Wahyudi dan Sianawati ini mulai membentuk sistem dan struktur usaha, mulai dari pekerja, hingga catatan pembukuan data dan keuangan. Sampai akhirnya Ari menemukan pasar yang sesuai dengan AWS sekitar tahun 2008. Dalam perkembangannya, terobosan – terobosan yang dilakukan Ari membuahkan hasil. Para prinsipal mulai melirik jasa distribusi yang ditawarkan AWS. Ari boleh bangga, ketika masih belum banyak kompetitor, para prinsipal berdatangan untuk bekerja sama. “Bukan kami yang mencari mitra bisnis, tapi malah para prinsipal yang mencari AWS, karena memang saat itu usaha distributor sangat dibutuhkan,” jelas pria berkulit putih ini.

Melihat kegigihan prinsipal, membuat Ari semakin yakin bahwa usaha yang digelutinya hingga saat ini sangat penting, bahkan dirinya sangat terkesan dengan salah satu pimpinan prinsipal sebuah produk asal Jepang yang menawarkan kerja sama. “Padahal, waktu itu prinsipal Jepang itu saya suruh nunggu sampai seminggu dan mereka mau jauh-jauh datang ke sini untuk bekerja sama dengan AWS,” dia menguraikan lagi.

Dari kejadian tersebut, Ari dapat menarik pelajaran berharga: usaha distribusi membutuhkan suatu kepercayaan dan saling menghargai. Oleh karena itu, ia pun menerapkan hal tersebut kepada karyawannya tanpa pandang bulu. Dengan pola pendidikan itu para pekerja bisa loyal dan mampu bertanggung jawab dalam membantu usaha AWS.

Ketika sistem sudah terbangun rapi dan struktural lebih jelas, AWS melebarkan sayap dengan membuka beberapa divisi di sejumlah daerah, seperti Kota Padang, Solok, Pasaman,Dhamasraya, dan Bukittinggi.

Namun, bencana gempa tahun 2009 mengubah perjalanan nasib AWS yang kala itu sedang di atas awan. “Gempat bumi pada 2009 lalu hampir membuat usaha kami hancur, karena beberapa gudang dan usaha konsumennya ikut rata dengan tanah. Ini benar-benar pukulan hebat bagi usaha keluarga kami. Seluruh barang yang ada di gudang ikut ambruk bersama bangunan yang digoncang gempa hebat kala itu. Usaha konsumen pun tidak bisa diselamatkan, sehingga menyisakan banyak utang,” kenang Ari dengan nada pilu.

Kejadian ini merupakan ujian berat bagi Ari dan keluarga. Toh, mereka tidak putus asa dan berusaha mengambil hikmah dari musibah ini. Saat itu setelah berembuk bersama-sama, kami memilih untuk bangkit,” ucap Ari. Dia memilih mengambil tindakan dengan memberikan kelonggaran kepada konsumen-konsumennya, dengan tidak mengambil dan menagih utang-utang mereka. Ari mengajak mereka kembali untuk membangkitkan kembali usaha masing-masing dan pihaknya bersedia membantu memasok barang-barang asalkan usaha para konsumen kembali dijalankan.

Tidak ada usaha yang sia-sia. Ari dan mitra bisnsinya pun berhasil bangkit kembali. Bangkit dari kejatuhan dan belajar dari pengalaman membuat usaha AWS terus menanjak. Bahkan,