Kue Keranjang Ny Lauw, Berawal Dari Recehan Kini Banjir Pesanan

Pada Tahun Baru Imlek, sudah menjadi tradisi untuk menyantap kue keranjang sebagai suatu pengharapan agar selalu beruntung sepanjang tahun. Kue keranjang bahkan dapat dijumpai saat Idul Fitri di beberapa wilayah Tangerang. Hal ini menunjukkan adanya akulturasi budaya antara etnis Tionghoa dengan suku asli Tangerang yakni Sunda, sehingga menyantap kue keranjang saat Lebaran juga telah menjadi kebiasaan yang dinanti-nantikan.

Kue yang terbuat dari tepung ketan dan gula ini mendapat nama dari wadah cetaknya yang berbentuk keranjang. Kerap disusun tinggi atau bertingkat, kue keranjang juga memberikan makna peningkatan dalam hal rezeki atau kemakmuran. Adapun bentuknya yang bulat bermakna agar keluarga yang merayakan Imlek tersebut dapat terus bersatu, rukun, dan bulat tekad dalam menghadapi tahun yang akan datang.

Kue Keranjang Ny Lauw

Kue Keranjang Ny Lauw

Kebulatan tekad pasutri Winawati (Lauw Kim Wie) dan Lauw Kim Tay pula yang membawa keduanya sukses membesarkan bisnis keluarga dalam pembuatan kue keranjang dan dodol. Berlokasi di kawasan Tangerang, tepatnya di Jalan Bouraq, usaha rumahan dengan merek “Ny. Lauw” (Lauw Kim Wie) ini sudah eksis lebih dari 50 tahun silam. Kue keranjangnya yang legit serta memiliki aroma wangi daun pisang selalu menjadi buruan pembeli menjelang Imlek dan Lebaran.

“Awalnya dari kakek saya, Lauw Sun Lim yang berasal dari desa Cikoneng, bikin kue keranjang. Produksi rumahan, jumlahnya masih sedikit. Tapi ibu saya baru mulai merintis pabrik ini sekitar tahun 1962. Sekarang saya dan beberapa orang adik saya generasi ketiga,” ujar Tay yang ditemui di sela-sela proses produksi di pabriknya. Ia tak pernah tahu dari mana kakeknya mendapat resep membuat dodol dan kue keranjang tersebut, yang jelas pembuatan kue ini telah berlangsung turun temurun di keluarganya. “Kami sudah mulai membantu kakek sejak masih di bangku Sekolah Menengah Pertama,” kenangnya.

Kue Keranjang Ny Lauw

Kue Keranjang Ny Lauw

Dari 10 bersaudara, empat diantaranya termasuk Umar memilih meneruskan bisnis keluarga ini secara bersamaan. Namun setelah kelahiran putri keempatnya, Umar dan Winawati memilih menjalankan usaha mereka sendiri. Ayah dan ibu dari lima orang anak ini menggunakan dua lokasi pabrik yang berdekatan di jalan Bouraq. Satu pabrik khusus untuk memproduksi kue keranjang, lainnya untuk memproduksi dodol. Di lokasi pabrik, sejumlah karyawan wanita tampak sibuk meletakkan dodol yang matang di atas plastik kemudian dengan cekatan mengemasnya dengan plastik. Sementara itu, di bagian belakang tampak belasan karyawan pria yang mengaduk adonan kue keranjang dan kue dodol. Hawanya terasa amat panas karena keberadaan sejumlah tungku kayu bakar yang selalu menyala.

Dengan tampilannya yang bersahaja, agak sulit mengenali Winawati yang membaur bersama para karyawan. Sang pemilik memang senang mengawasi langsung pekerjaan mereka, memastikan semua proses berjalan baik. Hampir seluruh proses pembuatan masih menggunakan cara tradisional. Beras ketan ditumbuk sendiri untuk mendapatkan tepung berkualitas. Tepung dihaluskan dengan lumpang dan alu serta diayak hingga halus memakai saringan kain yang dibuat sendiri.

Kue Keranjang Ny Lauw

Kue Keranjang Ny Lauw

“Di awal berbisnis, produksi memang tidak banyak. Hanya berdasarkan pesanan, jadi langsung habis. Namun sejak 1984, produk kami semakin ramai dicari orang. Produksi pun meningkat, tak hanya berdasarkan pesanan saja,” tutur Winawati yang juga akrab disapa Ci Iin oleh warga sekitar. Menjelang Imlek, Winawati bisa mempekerjakan hingga 150 orang karyawan untuk dapat memenuhi seluruh pesanan yang berasal dari seputar Jabodetabek.
Sebelum akhirnya fokus menjalankan usaha kue keranjang dan dodol ini, Winawati mengaku sempat memiliki usaha lain yakni penjualan minyak tanah. Suaminya, ketika itu masih bekerja sebagai supir. Hingga suatu saat, sang suami mengalami kecelakaan yang mengakibatkan sebelah kakinya tidak lagi prima untuk dibawa mengemudi. Akhirnya, mobil mereka satu-satunya dijual untuk modal berjualan minyak tanah. Usaha ini berkembang cukup pesat, sebelum akhirnya berhenti karena kelangkaan minyak tanah.

Di sinilah Winawati dan Lauw Kim Tay ditunjukkan kepada jalan rezekinya. Suatu hari, ada orang menanyakan kue keranjang pada Winawati. Berbekal izin dari keluarga, akhirnya Winawati dan Lauw Kim Tay mencurahkan seluruh tenaganya untuk menjalankan operasional pabrik Ny. Lauw. Dalam hal dukungan finansial, produk dan layanan dari PT Bank Central Asia Tbk (BCA) diakui Winawati sangat membantu mereka dalam membesarkan bisnis ini. Mulai dari fasilitas tabungan, internet banking KlikBCA, hingga m-BCA telah begitu akrab bagi urusan bisnis mereka sehari-hari.
Mengenang masa-masa perjuangan ketika masih merintis bisnis, Winawati mengungkapkan bahwa ikatan batinnya dengan BCA telah terjalin sejak awal 1990an. Saat itu, ketika bank lain menolak setoran Winawati karena ia kerap membawa recehan hasil penjualan, BCA menjadi satu-satunya bank yang mau menerima. “Bank lain menolak uang receh saya, namun BCA mau menerimanya dan tetap melayani nasabahnya dengan baik. Makanya saya pakai BCA sampai sekarang,” tukas Winawati seraya tertawa.

BCA Senantiasa di Sisi Anda.

 


 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

16 + 7 =