Lompatan Sukses Hariyanto Arbi di Bisnis Peralatan Olahraga

Nama Hariyanto Arbi sudah tidak asing lagi di arena perbulu tangkisan Indonesia. Sejak berusia 21 tahun, pemain tunggal putra kelahiran Kudus tahun 1972 ini telah menjuarai berbagai turnamen internasional seperti All England 1993 dan 1994, ASEAN Games juara perorangan dan beregu 1994, World Championship 1995, serta empat kali memenangkan Thomas Cup di tahun 1994, 1996,1998, 2000.

Lompatan Sukses Hariyanto Arbi di Bisnis Peralatan Olahraga

Lompatan Sukses Hariyanto Arbi di Bisnis Peralatan Olahraga

Motivasi pertama Hari untuk menjadi atlet profesional muncul dari keinginannya membahagiakan orang tua. Hari terinspirasi dari kedua kakak kandungnya, Hastomo Arbi dan Eddy Hartono, yang juga merupakan pebulu tangkis nasional dengan prestasi dunia. Hastomo berhasil merebut Thomas Cup di tahun 1985, sementara Eddy menjuarai ganda putra All England di tahun 1992.

“Sejak kecil kami sudah diarahkan orang tua untuk bermain bulu tangkis. Waktu Hastomo menang Thomas Cup dan diarak berkeliling kota, saya merasa jika mau menyenangkan orang tua, saya harus tekun berlatih agar menjadi juara dunia. Waktu itu euforianya memang luar biasa sekali,” kenang Hari ketika diwawancarai SWA di kantor Flypower, bisnis peralatan olahraga bulu tangkis yang dirintisnya, di daerah Kebayoran Lama, Jakarta.

Semasa sekolah, Hari tinggal di asrama PB Djarum Kudus untuk membina kemampuan bulu tangkisnya. Setiap hari, mulai jam 07.00 hingga 13.00 ia belajar di sekolah, dilanjutkan latihan bulu tangkis pada jam 15.00 hingga 17.00, lalu berlatih kembali dari jam 19.00 hingga 21.30. “Saya sih lebih suka latihan dibanding sekolah. Tapi ada peraturan kalau bolos sekolah dilarang latihan, jadi saya sembunyi-sembunyi kalau bolos,” ujarnya tertawa.

Hariyanto Arbi

Hariyanto Arbi

Hari menyebut Liem Swie King sebagai pemain idolanya, yang kebetulan sama-sama berasal dari Kudus dan jebolan PB Djarum. Maka ketika banyak yang menyebut Hari sebagai reinkarnasi Liem Swie King berkat jumping smash-nya yang mirip sang idola, hal ini menjadi kebanggaan tersendiri baginya. Selain itu, Hari juga dikenal dengan julukan “Smash 100 Watt” karena pukulannya yang bertenaga.

Berkontribusi Lewat Bisnis Peralatan Olahraga

Menjelang akhir dekade 1990-an, Hari mulai sering mengalami cedera. Tak pelak, kemampuannya menguasai pertandingan pun berkurang. Tahun 2000, setelah memenangkan Thomas Cup keempatnya, ia memutuskan gantung raket. Hari mengakui, ini adalah persimpangan yang sulit dalam kehidupan seorang atlet. Pasalnya, selama ini ia hanya menguasai satu hal, yaitu bermain bulu tangkis. Pemerintah juga belum memberi perhatian soal tunjangan bagi para atlet yang pensiun.

Bermodalkan tabungan yang dikumpulkan Hari semenjak menjadi atlet, pada tahun 2003 ia merintis usaha produksi sepatu olahraga. Berkat bantuan rekan sesama atlet, Fung Permadi, Hari mendapat pesanan dari perusahaan di Taiwan yang menjual merek Flypower. Dengan perjanjian barter, Hari diperbolehkan menggunakan merek tersebut di Indonesia. Hingga akhirnya, Flypower di negara aslinya tidak berkembang dan justru diterima dengan baik oleh pasar Indonesia.

Kini, lini produk Flypower telah membentang mulai dari sepatu, raket, shuttlecock, kaus, celana, tas, hingga karpet lapangan bulu tangkis. Sekarang agen-agen penjualan Flypower sudah tersebar di belasan negara, sebut saja Malaysia, Singapura, Korea Selatan, India, Swiss, Belanda, Jerman, dan Prancis. Salah satu keunikan produk Flypower adalah desainnya yang menyertakan motif batik.

“Kami ingin produk-produk dari Indonesia juga dikenal di dunia, tidak hanya atletnya saja. Dengan ratusan modelnya, produk Flypower diterima dengan baik oleh pasar dan bisnisnya terus bertumbuh setiap tahun. Tantangannya banyak, persis seperti bulu tangkis yang juga harus kerja keras jika ingin berhasil. Saya belajar berbisnisnya mengalir saja,” ungkap Hari seraya menyebutkan saat ini perusahaannya telah mempekerjakan 40 orang karyawan.

Untuk membangkitkan kembali kejayaan bulu tangkis nasional, Flypower aktif mensponsori klub-klub bulu tangkis di Indonesia serta menjadi sponsor kejuaraan nasional sejak 2009. Puncaknya, pada bulan April lalu Hari menggagas Flypower Single Badminton Open Championship 2015 di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, yang diikuti oleh tak kurang dari 1170 peserta.

Walau baru pertama kali digelar, turnamen tersebut langsung masuk ke dalam kalender ajang rutin tahunan PBSI dan dicatat sebagai ranking poin nasional. Dengan begitu, kontribusi Flypower pada kemajuan bulu tangkis Tanah Air tidak hanya sekedar memproduksi perlengkapan tanding berkualitas, namun juga turut terjun langsung dalam menyediakan batu loncatan yang penting bagi para atlet nasional untuk menuju turnamen kelas dunia.

Hari menanggapi positif keterlibatan BCA sebagai sponsor utama dalam BCA Indonesia Open Superseries Premier (BIOSSP) 2015, yang akan digelar pada tanggal 2 – 7 Juni 2015 di Istora Senayan, Jakarta. “Langkah BCA dalam mendukung kejuaraan internasional ini sangat baik. Lewat turnamen ini, atlet-atlet junior kita bisa mengetahui standar dari pemain-pemain kelas dunia,” tandasnya. Hari optimistis olahraga bulu tangkis di Indonesia akan bangkit seiring popularitasnya yang kembali terangkat di Indonesia.

BCA Senantiasa di Sisi Anda.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ten + thirteen =