Merek Tak Lagi Sekadar Nama (1)

Nama merek memiliki tujuan membedakan produk di kategori yang sama dari pesaing. Selain itu, merek juga berfungsi memengaruhi pembeli agar mau mencoba. Karenanya, nama merek akan membentuk citra merek itu sendiri.

Nama merek menjadi identitas dan pintu gerbang yang menggambarkan ekuitas merek tersebut. Belum lama ini, muncul kontroversi merek makanan ringan Bikini (Bihun Kekinian) dan produk kopi bernama ‘Jessica Coffeemix’ lengkap dengan foto Jessica Kumala Wongso.

Seperti diketahui, Jessica menjadi terkenal karena kasus kopi sianida yang menewaskan Wayan Mirna Salihin. Belajar dari kasus tersebut, hal yang perlu dicari tahu adalah, apakah membuat nama merek cukup mengikuti sebuah fenomena atau kejadian?

Brand (source: smart-money.co)

Brand (source: smart-money.co)

Dosen & Koordinator Konsentrasi Public Relations Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Inco Harper bilang, nama adalah sebuah doa. “Saya lebih setuju bahwa nama adalah sebuah doa. Persis seperti nama manusia, nama merek harus merupakan doa dan harapan pembuat merek,” katanya.

Jadi, proses penamaan menjadi bagian penting dalam proses branding. Masalahnya kemudian, nama merek harus berhubungan dengan identitas dan kualitas merek produk. Sebuah produk bagus tanpa penamaan yang bagus juga akan sia-sia.

Untuk membuat nama merek yang bagus butuh proses yang kompleks dan tak sedikit yang melibatkan konsultas besar namun akhirnya gagal di lapangan. Dalam proses komunikasi, nama merek merupakan sebuah pesan dari perusahaan ke pelanggan.

Dalam proses penerimaan pesan, tentu ada proses segmentasi dan targeting yang mengerucutkan bidikan konsumen perusahaan. Penamaan merek juga harus dilihat dari sudut pandang komunikasi antarbudaya agar tak terjadi keanehan atau penolakan dalam penyebutan nama merek itu.

Di dunia komunikasi pemasaran, tugas penamaan merek terletak pada tingkat manajer senior atau Board of Directors. Meski demikian, tak jarang tugas tersebut dibantu agency melalui kemampuan utak-atik kata seorang copywriter agar mudah diucap dan diingat.

Keawasan nama merek (brand name awareness) sering dianggap sebagai ‘gerbang’ pertama cara konsumen belajar soal asosiasi merek yang kemudian membentuk gambaran atau citra merek (brand image) dengan tujuan akhir agar merek bisa diasosiasikan dengan sebuah kategori produk secara tunggal (Top of Mind).

Menurut Shimp (2003), ada empat syarat. Pertama, merek harus bisa dibedakan dari penawaran para pesaing. Saat konsumen membaca sebuah merek, merek itu harus punya perbedaan jelas dari pesaing di kategori produk yang sama.

Di sinilah kekuatan positioning bisa tercermin. Penamaan merek yang serupa pesaing dan berharap mendapat ketenaran darinya merupakan usaha bunuh diri yang wajib dihindari.

Berlanjut ke bagian kedua.

Source : smart-money.co


Baca juga:

Merek Tak Lagi Sekadar Nama (2)

 


 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *