Merek Tak Lagi Sekadar Nama (2)

Kemudian kedua, merek harus bisa membuat konsumen paham akan asosiasi merek itu sendiri. “Nama merek harus bisa diasosiasikan dengan keuntungan dari produk itu sendiri. Misalnya, Frestea mewakili kondisi teh yang segar,” papar Inco.

Jadi, nama merek bisa mencerminkan keuntungan, gabungan kata atau diarahkan pada citra tertentu yang diinginkan. Ketiga, merek harus sesuai desain dan kemasan produk.

Merek yang ingin dicitrakan modern harus punya nama yang terdengar modern dan cocok dipadukan dengan desain kemasan yang terlihat modern pula. Dalam kasus Coca-Cola, merek ini mempertahankan logo klasik karena memang citra orisinil yang ingin ditampilkan.

Brand (source: smart-money.co)

Brand (source: smart-money.co)

Keempat, mudah diingat dan diucap. Banyak merek yang membuat singkatan tertentu agar lebih mudah diingat dan diucap, seperti Kentucky Fried Chicken menjadi KFC. Meski demikian, banyak pula kasus penamaan merek yang berhasil meski tak mengikuti syarat tersebut.

Keberhasilan tersebut merupakan perpaduan hasil riset dan intuisi para manajer dan konsultan pemasaran perusahaan terkait. Kesuksesan penamaan merek tak bisa lepas dari proses perencanaan panjang dan berliku. Proses itu bisa berlangsung tahunan dan melibatkan banyak pihak.

Seperti tulisan Shimp (2012), ada beberapa proses penamaan merek. Langkah pertama, ada tujuan khusus untuk nama merek. Misalnya, untuk menentukan citra seperti apa yang diinginkan nantinya. Langkah kedua, menciptakan kandidat atau usulan nama-nama merek.

Melalui utak-atik kata, proses kreatif dan brainstorming panjang akan dihasilkan sekitar 50 usulan nama merek sebelum dikerucutkan ke jumlah yang lebih kecil. Dalam proses ini, biasanya perusahaan bekerja sama dan memakai bantuan konsultan atau agency.

Langkah ketiga, evaluasi kandidat nama. Dalam proses ini, evaluasi akan mengerucutkan nama merek yang sudah diusulkan. Biasanya sering terjadi perbedaan pendapat antara konsultan atau agency dengan perusahaan.

Mulai dari pertimbangan nama yang catchy atau unik hingga keuntungan produk dan kemudahan diingat. Di langkah ini, sering diadakan FGD (Focus Group Discussion) yang pesertanya diambil dari bidikan konsumen merek.

Langkah keempat, memilih nama merek. Biasanya pengerucutan kandidat nama merek akan melalui proses voting ataupun riset pada responden. Seringkali pula pemilihan bersifat subyektif dan bukan mencerminkan hasil riset pemasaran.

Langkah terakhir, mendaftarkan merek dagang. Lindungi nama merek dengan mendaftarkannya secara hukum agar tak ada pihak lain yang bisa menggunakan nama yang sama atau serupa.

Source : smart-money.co


Baca juga:

Merek Tak Lagi Sekadar Nama (1)

 


 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *