Paimo, Inovator Rasa Leker Yang Kesohor

Ia mengaku butuh waktu yang lama untuk bisa merasakan kesuksesan dalam menjalankan bisnisnya. Sekitar 15-16 tahun, atau tepatnya pada tahun 1995.

“Kue leker saya sudah melanglang buana. Saya sering menerima pesanan dari luar kota hingga luar negeri mulai dari Singapura, Australia, bahkan Amerika. Itu sudah biasa,” kata Paimo, penjual Leker Paimo, leker kaki lima di Semarang.

Paimo, Inovator Rasa Leker Yang Kesohor

Paimo, Inovator Rasa Leker Yang Kesohor

Menurut Paimo, leker tersebut tidak dikirimkan langsung olehnya ke negara-negara tersebut. Ia mengaku tidak memiliki banyak waktu untuk mendatangi perusahaan jasa pengiriman logistik sekedar untuk mengirimkan leker buatannya.

Oleh karena itu, ia memberi syarat pesanan leker ini harus diambil langsung ke rumahnya oleh kerabat mereka di Indonesia. Dengan begitu, kerabatnya inilah yang nantinya bertugas mengirimkannya ke luar negeri.

Oh ya, bagi Sahabat Prioritas yang belum tahu, leker adalah jajanan tradisional yang banyak ditemukan di sekolah-sekolah khususnya di daerah Jawa Tengah. Kue ini juga relatif murah. Sangat wajar jika banyak orang tidak menyangka akan bisa sukses dengan jajanan kue tradisional ini.

Bahkan, Paimo sendiri juga tidak menyangka bisa menikmati buah hasil kerja kerasnya dalam menjajakan leker. Ia mengaku butuh waktu yang lama untuk bisa merasakan kesuksesan dalam menjalankan bisnisnya. Sekitar 15-16 tahun, atau tepatnya sejak tahun 1995. Padahal Paimo memulai bisnis leker pada 1979.

Paimo memulai menjadi penjual kue leker setelah ia membeli gerobak milik temannya. Awalnya, ia hanya menjual es kombor alias es gosrok. Dagangan es ini juga bukan milik Paimo, namun milik bosnya, ia hanya bertugas sebagai penjual saja. Menjual es kombor ini hanya ia lakoni selama satu tahun.

Pembelian gerobak leker ini dilakukan karena temannya memutuskan berhenti berdagang. Dengan modal sebesar Rp 70 ribu, gerobak itu telah jadi miliknya. Paimo pun belajar membuat adonan leker tersebut dari temannya. “Saya kan sering memperhatikan dia saat buat adonan dan bikin leker, lama-lama saya paham,” kenang dia.

Awalnya Paimo berjualan menggunakan pikulan di daerah Kebon Dalem, Semarang. Hal ini ia lakoni selama sekitar 15 tahun. Kue yang berhasil dia jual pun minim. Bahkan, Paimo harus kesulitan membayar uang kontrakan dan memenuhi kebutuhan makannya sehari-hari.

“Dulu saya tidak punya saudara di Semarang sehingga tidak bisa meminta bantuan kalau tidak punya uang, bahkan sekedar untuk makan. Saya kan merantau dari Blora. Orang tua saya petani dan saya tidak mau jadi petani,” ungkap Bapak enam bersaudara ini.

Pada tahun 1996, Paimo memutuskan untuk berjualan di depan gerbang sekolah Kolese Loyola. Ia tidak lagi berkeliling. Keputusan ini diambil karena ia mengaku capek jika setiap hari harus berkeliling menjajakan dagangannya.

Walau telah menetap, Paimo tetap banyak menemui kendala. Pada awal berjualan hampir tidak ada pembeli yang datang. Menurut dia, selama tiga bulan pertama ‘mangkal’ ia hanya berhasil menjual sekitar 10 biji saban hari. Hal ini berlangsung selama tiga hingga enam bulan.

Kesabaran Paimo ini ternyata mendatangkan keberkahan. Pasca enam bulan ia ‘mangkal’, Paimo mulai membukukan kenaikan omzet. Setiap harinya, ia bisa menjual ratusan biji kue leker.

Paimo mengaku saat ini setiap hari ia menghabiskan adonan sebanyak 15 kilogram (Kg) tepung terigu. Pada tahun-tahun sebelumnya ia hanya bisa menjual sekitar 2-3 kg tepung terigu. “Waktu tahun 80-an, saya jual dua leker Rp 25. Terus harganya naik jadi Rp 30-Rp 50-Rp 60 per buah,” ungkap dia.

Namun, kenaikan harga ini sempat membuat pelanggannya protes. Leker jualannya kembali tidak diminati lantaran dinilai mahal. Paimo pun terpaksa menuruti keinginan pelanggan. Padahal, biaya produksinya juga terbilang tinggi karena harga bahan baku pembuatan leker terus merangkak naik.

Tak hanya soal pelanggan, cuaca juga seringkali menghambat jualannya. Menurut dia, jualan lekernya sering sepi jika sudah memasuki musim hujan karena pelanggannya malas keluar rumah. Adonan yang dibuatnya juga menjadi kendala jika tidak bisa dibuat menjadi leker.

Paimo, Inovator Rasa Leker Yang Kesohor

Paimo, Inovator Rasa Leker Yang Kesohor

Inovasi Rasa

Dalam berbisnis makanan, inovasi rasa merupakan hal yang patut dilakukan demi mengatasi rasa bosan dari pelanggan. Olah karena itu, Paimo sering melakukan inovasi leker buatannya. Saat ini, Paimo mengaku telah menciptakan variasi ras untuk leker dagangannya, tidak hanya manis, namun juga asin dan pedas.

Menurut dia, saat ini lekernya telah memiliki 25 varian mulai dari pisang cokelat, keju abon, keju jagung manis, telur sosis keju, telur sosis tuna, hingga telur sosis mozarella. Awalnya, leker Paimo hanya tersedia sekitar empat hingga lima varian saja antara lain coklat, pisang cokelat, cokelat kacang, dan keju.

Inovasi varian rasa ini dilakukan Paimo juga demi mengatasi persaingan usaha. Maklum saja, di Semarang yang menjual leker tidak hanya dirinya saja. “Walau banyak yang juga jualan leker, saya tidak pernah takut kalah bersaing karena yang lain tidak punya resep seperti saya,” ungkap dia.

Menurut Paimo, ia sering berinovasi dalam menciptakan varian leker saat malam, selepas ia selesai jualan. Ia mengaku isian leker itu ia ciptakan sendiri dan dinikmatinya sendiri. Untuk mendapatkan masukan dan memastikan kenikmatan inovasi varian lekernya, ia suka menjajakan gratis kepada pelanggannya.

Ia mengungkapkan hingga saat ini sebenarnya banyak varian leker yang telah ia ciptakan. Namun, karena harga produksinya terlalu mahal pelanggannya keberatan untuk membeli. Sehingga, inovasi varian leker itu tidak jadi dijual olehnya. “Ada dua rasa yang tertolak karena harganya mahal, bukan rasanya tidak enak,” papar dia.

Pengembangan menu-menu leker yang bervariasi dan unik ini membuat Leker Paimo menjadi laris. Larisnya jualan lekernya ini membuat Paimo sering lembur untuk mengerjakan pesanan leker yang akan di bawa ke luar kota. Hingga saat ini, lekernya telah dikirim ke seluruh daerah di Indonesia.

“Pesanan itu sering datang dari Bandung, Surabaya, Makassar, dan lain-lainnya. Kalau cuma mengandalkan penjualan di Semarang saja, saya makan apa? Kan orang Semarang sedikit,” kata dia terkekeh.

Pesanan leker luar kota itu harus dikerjakannya malam hari. Karena, pagi harinya ia harus kembali berdagang. Menurut dia, leker pesanan itu harus dikerjakan sendiri olehnya agar rasanya tetap terjaga demi menjaga kepuasan pelanggannya.

Keliling Kota

Tak hanya melakukan layanan pesan luar kota, demi mengatasi rasa kangen pelanggannya, Paimo juga sering memenuhi panggilan ke luar kota. Hal ini mulai dilakoninya sejak 2005. Namun, panggilan ke luar kota ini baru dilayani olehnya khusus untuk wilayah Jawa saja. Maklum, ia harus tetap membawa gerobak lekernya agar memudahkannya dalam membuat leker di kota tujuan.

“Permintaan dari luar Jawa sebenarnya banyak, seperti dari Bali, Makassar, Lampung, dan lain-lainnya. Namun, saya belum bersedia karena capek. Saya harus menggunakan jalur darat soalnya,” papar dia.

Kini Paimo juga telah memiliki beberapa pegawai demi membantunya berdagang. Namun, ia mengaku kesulitan mendapatkan karyawan karena banyak yang tidak jujur. Pada tahun lalu, pegawai Paimo mencuri uang hasil dagangan berhari-hari yang belum disetor ke bank. “Rp 40 juta uang saya hilang,” papar dia.

Oleh karena pengalaman buruk yang sering menimpa, Paimo harus bekerjasama dengan perbankan dalam menjaga dan meningkatkan asetnya. Paimo telah memilih PT Bank Central Asia Tbk sebagai mitranya.

Ia mengaku puas selama bekerja sama dengan BCA. “BCA banyak mewujudkan keinginan saya. Saya menjadi nasabah BCA sejak 15 tahun lalu dan pelayanannya bagus. Bahkan, saya sama bosnya saja kenal,” ungkap dia.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read previous post:
SAKUKU Bagi-Bagi Voucher MAP!
SAKUKU Bagi-Bagi Voucher MAP!

Hallo, kawula muda! Sudah punya Sakuku belum? Itu lho, aplikasi dompet elektronik dari BCA yang kereeen abiisss! Hari gini belum...

Close