Rahasia Bantex Menaklukkan Pasar Stationery

Eco-friendly, inovatif dan ketersediaan barang terjamin menjadi kunci sukses bisnis office stationery merek Bantex. Selama 20 tahun Bantex hadir memenuhi kebutuhan alat tulis kantor di Tanah Air. Tidak heran bila produk alat tulis ini populer di kalangan perkantoran, kampus, sekolah dan lainnya.

Rahasia Bantex Menaklukkan Pasar Stationery

Siapa sosok di balik kesuksesan Bantex?

Popularitas Bantex bisa jadi melebihi nama Willianto Ismadi, generasi kedua PT Batara Indah (BI). Pria ini mengembangkan Bantex sejak tahun 80-an. Awalnya Bantex merupakan merek stationery yang diimpor dari Denmark. Namun, sejak Willi terlibat dalam bisnis keluarga BI, Bantex berhasil diproduksi langsung di Indonesia.

Sekadar informasi, orangtua Willi memiliki usaha PT Gading Murni, importir dan agen distributor Bantex di Surabaya. Juga, memasarkan berbagai merek perlengkapan kantor dan alat tulis lainnya asal Eropa, karena cikal bakal perusahaan orangtuanya itu sudah ada sejak zaman Belanda.

Diceritakan Willi, setamat kuliah jurusan Arsitektur di Universitas Kaiserslautern Jerman tahun 1977, Willi muda kembali ke Indonesia. Lalu, sembari membantu usaha keluarga, dia membaktikan diri untuk dunia pendidikan dengan menjadi dosen di Universitas Teknologi Surabaya dan Universitas Petra Surabaya.

Seiring berjalannya waktu, Willi mencoba mengembangkan bisnis Bantex ke Jakarta. Tahun 1986 dia ingin memproduksi sendiri stationery merk Bantex yang berasal dari Denmark. Namun, ide itu menemui banyak kendala. Pertama, sulitnya mendapatkan bahan baku yang sesuai standar kualitas Bantex. Hal ini, diakali dengan menggunakan karton lokal tipis yang dielaminasi dengan teknik sendiri. Hasinya, biaya produksi lebih murah dengan kualitas tidak kalah dari produk asli Denmark.

Kendala kedua, brand awareness Bantex belum kuat. Akibatnya, untuk pemasaran agak sulit mengingat banyak orang yang belum mengenal Bantex. Tantangan ini disiasati dengan membagikan produk Bantex secara gratis ke perusahaan-perusahaan besar seperti farmasi dan bank. Tidak dinyana, respons pasar antusias. Akhirnya Willi mulai mendapatkan pesanan yang cukup banyak. Setelah itu, Willi lebih percaya diri untuk memasarkan produknya ke toko-toko.

Willi, Bantex

Willi, Bantex

Masalah juga kembali muncul saat krisis moneter pada tahun 1998. Krisis yang dirasakan dikarenakan beberapa komponen produk mengharuskan impor dari luar negeri dan pada saat itu begitu susah.

Kendala ketiga, datang saat krismon tahun 1998. Lantaran sejumlah bahan baku tetap harus impor, Willi kewalahan karena kala itu kurs US$ sedang melambung, sehingga biaya produksi membengkak. “Waktu itu saya sempat bimbang, apakah produk Bantex ini dihentikan ataukah lanjut terus. Dengan sekuat tenaga, kami berusaha bertahan dan untunglah tetap ada sampai sekarang,” ujar pria yang pernah menjadi rektor di Universitas Widya Kartika – Surabaya, periode 2001 s/d 2009 tersebut.

Inovasi Bantex

Berbagai inovasi juga dilakukan oleh Bantex untuk terus memenuhi keinginan pasar. Salah satunya dengan memperbanyak jenis dan warna, serta menggelar lomba desain produk yang bekerja sama dengan kampus-kampus di Indonesia. Jadi, produk Bantex kini tak hanya digunakan untuk perkantoran, tetapi juga digunakan oleh individu bahkan anak-anak.

Strategi bisnis dilancarkan Willi untuk meningkatkan penjualan Bantex. “Produk-produk kami selalu mengutamakan eco-friendly, inovatif dan ketersediaan barang terjamin. Kami memperbanyak pilihan jenis , warna, serta, mengadakan lomba desain produk yang bekerja sama dengan kampus-kampus di Indonesia,” jelas pehobi dansa ini.

Kerja keras Willi membuahkan hasil gemilang. Sekarang, siapa yang tidak kenal Bantex. Produk untuk menyimpan file atau arsip ini mudah ditemukan di toko-toko alat tulis dan office equipment. Produksinya lancar melalui pabrik di Sentul, Bogor. Selain itu, didukung dengan tersebarnya gudang di beberapa wilayah. Distribusiya ada di Medan, Pekanbaru, Palembang, Banten, Bekasi, Bandung, Semarang,Yogyakarta, Surabaya, Bali, Banjarmasin, Balikpapan, Makassar, dan Manado. Bahkan, Bantex Indonesia sudah mulai mengekspor barang ke negara tetangga, seperti Malaysia, Australia, Filipina, dan Singapura. “Meskipun produk Bantex sudah diekspor, tapi kami memprioritaskan untuk menguasai pasar Indonesia dahulu dan menjadi ‘The King of Your Country,” dia menegaskan.

Bantex

Maraknya bisnis online pun tak luput dari perhatian Willi yang jeli melihat peluang pasar. Kini, team-nya pun tengah menggodog rencana penjualan Bantex melalui online.

Ya, keberhasilan yang diraih Willi tidak luput dari peran PT Bank Central Asia, Tbk (BCA). Bank papan atas ini berkomitmen membantu Willi sejak kondisi perusahaan sulit, terutama saat krismon. Padahal, waktu itu tidak banyak bank yang mau mengucurkan kreditnya. “Sejak awal usaha, saya sudah menjadi nasabah BCA dan menikmati berbagai layanan perbankan dari BCA, seperti transaksi ATM, internet banking, transaksi luar negeri, hingga kredit usaha,” kata Willi.

Bagi Willi yang tercatat sebagai nasabah Prioritas BCA KCP Kelapa Gading Villa itu, BCA dianggap sebagai bank yang sangat efisien, inovatif, produk-produknya praktis dan membantu sekali. “Saya tidak bisa membayangkan berbisnis tanpa BCA. Salah satunya, mengurus keuangan dari puluhan cabang PT Batara Indah yang ada di Indonesia jadi lebih mudah dan nyaman dengan KlikBCA Bisnis,” ungkapnya.

Namun sekarang Willianto lebih banyak menyerahkan urusan manajemen kepada Managing Director kepercayaannya – Kristanto. Sementara ia menikmati masa tua dengan menjalani hobinya yaitu menari. Di usianya yang sudah menginjak 68 tahun itu, Willianto memang masih lincah. Berbagai jenis tarian mampu dibawakannya. Mulai dari Latin American hingga Modern Ballroom Dance. (***)

BCA Senantiasa di Sisi Anda.

 


 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *