No Widgets found in the Sidebar

Perusahaan rintisan (startup) Tuft & Needle merupakan contoh kasus unik. Perusahaan dengan produk ranjang ini menolak suntikan dana dari modal ventura dan malah berhasil sukses di San Fransisco.

Source: smart-money.co
Source: smart-money.co

JT Marino dan Daehee Park mendapat ide mendirikan bisnis ini dari masalah ranjang. Awal berdirinya Tuft & Needle adalah ketika JT dan istri sulit menemukan kasur yang sesuai untuk mereka.

Hingga akhirnya, mereka membeli kasur mahal US$ 3,300 (Rp 45,9 juta) yang ternyata membuat mereka kecewa dengan kualitasnya. Lebih menyebalkan lagi, kasur itu tak bisa dikembalikan atau ditukar dengan jenis lain.

JT pun berkeluh kesah pada sahabat sekaligus rekan kerjanya, Daehee soal hal itu. Mereka pun berencana memperbaiki kasur dengan mengontak pemasok. Pemasok itu bilang, biaya untuk membuat kasur nyaman hanya US$ 300 (Rp 4,1 juta) saja.

“Kamis sudah siap terjun ke bisnis ini, dan jawaban dari pemasok itu membuat kami terkejut. Kami hanya ingin memecahkan salah satu masalah kami,” ujar JT pada Forbes.

Kemudian, rekan kerja ini memikirkan cara agar informasi tersebut juga bisa berguna untuk orang lain. Tak butuh waktu lama, keduanya keluar dari pekerjaannya sebagai software engineer dan mengumpulkan modal US$6 ribu (Rp 83,5 juta) untuk mendirikan perusahaan rintisan pada 2012.

Semua pemesanan tersedia secara online. Awalnya, mereka kerap menemui kegagalan dalam menjalankan bisnis. Mereka juga berencana mencari pembiayaan dari modal ventura.

Namun, ketika mereka telah mendapatkan investor dari salah satu perusahaan di Silicon Valley, mereka malah mengurungkan niat.

“Kami sudah tiga kali berbicara serius dengan modal ventura. Alasan kami akhirnya menolak tawaran mereka adalah, kami menyadari nantinya kami tak akan bisa beroperasi seperti keinginan kami,” kata JT.

Karena tak ingin Tuft & Needle ‘diobok-obok’, dua alumni Penn State University itu meminjam dana US$ 500 ribu pada Bond Street karena suku bunganya hanya 10% dan mereka tetap bisa mengendalikan perusahaan, dan melanjutkan pekerjaan dengan cara mereka sendiri.

Setelah berhasil meminjam dana, Tuft & Needle pun menjadi salah satu perusahaan rintisan yang diperhitungkan. Produk kasur mereka menjadi primadona karena menekankan no gimmicks on prices.

Sehingga, mereka dengan mudah meraup untung miliaran dolar dalam setahun. Salah satu ritel memperkirakan penjualan kasur di Amerika Serikat dalam setahun mencapai US$ 15 miliar (Rp208,7 triliun) dan didominasi Sealy, Serta, dan Simmons.

Sedangkan Tuft & Needle ada diantara ketiga merek raksasa tersebut. Mereka juga memiliki pesaing yang didanai modal ventura, Casper.

Meski harus berhadapan langsung dengan tiga perusahaan besar dan satu perusahaan rintisan, mereka yakin produk mereka mampu memberi kenyamanan menggunakan bahan baku unggul buatan AS, dijual langsung ke pelanggan dengan satu model dan tanpa gimmick harga dan pelanggan tetap bisa memiliki kualitas tidur prima.

Produk Tuft & Needle dipasarkan seharga US$ 350 – US$ 750 dan menjadi produk paling dicari di Amazon. Keuntungan perusahaan ini juga terus meningkat. Sejak 2012 ketika pertama berdiri, perusahaan ini tak butuh waktu lama untuk menikmati laba.

Dalam setahun, mereka bisa mendapat untung US$1 juta (Rp 13,9 miliar). Pada 2014, perusahaan ini mencatatkan laba US$9 juta (Rp 125 miliar) dan tahun lalu US$ 42 juta (Rp 585 miliar). Tahun ini, mereka menargetkan laba US$ 125 juta – US$ 225 juta.

Meski awalnya menolak mendirikan gerai, mereka menjembatani permintaan sebagian pelanggan yang ingin melihat kasur sebelum membeli. Lalu mereka mengetes mendirikan showroom di kantor pusat yang terletak di Phoenix.

Pelanggan akan dibantu tim penjual untuk menemukan kasur yang sesuai permintaan, bukan berdasarkan keinginan penjual. Karena penjual tak mendapat komisi jika penjualan melebihi kuota.

Awal tahun ini, mereka membuka gerai pertama di San Francisco. Menurut Forbes, Tuft & Needle merupakan salah satu perusahaan rintisan yang sukses tanpa embel-embel modal besar.

Membayar utang tak menjadi masalah perusahaan ini berkat untung yang berlipat ganda. Daehee bilang, kondisi keuangan perusahaan sehat. Tuft & Needle lebih nyaman menjalin kerja sama dengan pengusaha muda dalam mengembangkan bisnis.

Sebab, mereka dianggap lebih mengerti perusahaan rintisan dibandingkan pemodal besar.

“Kami tak datang untuk mengubah bisnis. Saya tak bilang merek dari perusahaan lain mengorbankan nilai mereka ketika menerima tawaran investor. Namun, mereka selalu melihat angka dan ingin pertumbuhan pesat,” jelas Daehee. (ANR)

Source: smart-money.co

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *