Yanto Sugianto, Pengusaha Jatiluhur yang Menolak Kalah oleh Badai

Deru angin dan hujan badai menerpa sebuah rumah non-permanen seluas 3×4 meter yang dibangun di atas keramba jaring apung (KJA), di tengah-tengah perairan Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat. Kecemasan meliputi sejumlah pengunjung yang baru pertama kali menyambangi tempat ini, mengingat badai sudah berlangsung beberapa jam dan belum ada tanda akan mereda. Di tengah cuaca buruk, mustahil bagi mereka untuk kembali pulang dengan perahu ke daratan. Satu-satunya cara adalah menunggu.

“Ini belum apa-apa,” ujar Yanto Sugianto seraya tersenyum menenangkan tamu-tamunya. Sebagai pemilik dari CV Jatiluhur Mas yang bergerak di bidang penjualan ikan, pakan ikan, serta pembuatan KJA, tempat ini memang bagaikan rumah kedua baginya. Usai mendapatkan gelar Sarjana Teknik Sipil dari sebuah universitas di Yogyakarta pada tahun 1990, Yanto sempat bekerja di sebuah pabrik tekstil asal Taiwan selama 2,5 tahun, sebelum akhirnya terjun menjadi petani ikan.

Yanto Sugianto

Yanto Sugianto

Ketika itu, dengan modal Rp 4 juta, Yanto menyewa dua petak kolam di Jatiluhur untuk membudidayakan ikan mas, nila, dan patin. Rutinitas memberi makan ikan sebanyak lima kali sehari pun dijalaninya, sehingga bermalam di atas KJA sudah merupakan hal yang lumrah. Ia bekerja mulai dari jam 6 pagi hingga jam 6 sore. Berbekal ketekunan dan kegigihan dalam membudidayakan ikannya, pada tahun 1996 kolamnya pun berkembang menjadi 16 petak.

Musibah arus balik (up welling) sempat membuat ribuan ikannya mati. Karena cuaca yang lembab, air di dasar danau yang terkontaminasi sisa-sisa pakan pun naik ke permukaan dan membuat ikan-ikan kekurangan oksigen. Bagi Yanto yang mempelajari segala hal tentang budidaya ikan secara otodidak, hal tersebut menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi lelaki kelahiran tahun 1963 ini.

“Ujian terberatnya adalah saat krisis 1998. Harga ikan jatuh, sementara pakan melonjak tinggi. Saya sampai harus menyiasatinya dengan mencari ikan liar, kemudian diberi makan dengan nasi bekas yang saya peroleh dari kantin-kantin,” kenang Yanto. Saat itu, yang ada di benaknya hanyalah bagaimana agar terus maju, tidak sekadar menunggu krisis berlalu. “Keluarga bergantung pada saya,” ujar ayah dari empat orang anak ini.

Beruntung, banyaknya korban PHK ketika itu membuka peluang baru. Banyak yang tertarik untuk berinvestasi membangun KJA di Waduk Jatiluhur. Yanto pun mulai menawarkan jasa pembuatan KJA, bersinggungan dengan ilmu konstruksi yang dipelajarinya semasa kuliah. KJA buatan Yanto yang berkualitas baik, membuatnya kebanjiran pesanan hingga ia pun sempat kewalahan untuk memenuhinya.

Seiring perkembangan bisnisnya, pada tahun 2003 Yanto mulai memasarkan sendiri ikan-ikannya. Bibit ikan diperolehnya dari Pabuaran, Subang. Hanya dalam waktu tiga tahun, kolamnya pun telah mencapai 120 petak. Ia menerapkan teknologi pemantauan kadar oksigen terlarut untuk mengantisipasi terjadinya arus balik. Yanto tak lagi harus mengerjakan semuanya sendiri, karena ia telah memiliki 25 orang karyawan.

Dalam memasarkan ikannya, Yanto mengutamakan kualitas. “Keistimewaan ikan Jatiluhur adalah rasanya yang enak,” jelasnya. Ikannya dijual ke Garut, Tasikmalaya Bandung, Jakarta, Cikampek, dan Purwakarta sendiri. Sukses memasarkan ikan, seorang rekan mengusulkan Yanto untuk berjualan pakan. Ternyata benar, pasar menyambut baik. Dimulai dari menjual 1,5 ton pakan, sejak 2009 Yanto kini dipercaya menjadi distributor resmi untuk sejumlah merek pakan ternama.

“Sekarang setiap bulannya saya bisa menjual 800 – 1.100 ton pakan. Ada enam distributor di Jatiluhur, tapi saya tidak merasa mereka itu pesaing. Yang penting bagaimana kita fokus memberikan kemudahan dan kenyamanan pada mitra petani. Saat ini kami memiliki 130 mitra petani yang masing-masing memiliki 20 petak. Mereka kami berikan kemudahan kredit pakan yang disesuaikan dengan kemampuan produksi mereka,” ungkap Yanto.

Bicara soal kemudahan dan kenyamanan, Yanto merasa beruntung bisa menjadi bagian nasabah BCA. Ia sudah menjadi nasabah BCA sejak masih bekerja tahun 1990, dan akhirnya bergabung sebagai bagian dari BCA Prioritas pada tahun 2012 silam. “Saya sangat merasakan kemudahan di BCA, pelayanannya cepat dan sangat memuaskan. Rata-rata pelanggan saya juga nasabah BCA,” ujarnya sambil menyebut KlikBCA Bisnis, Safe Deposit Box, dan Deposito BCA sebagai beberapa produk yang digunakannya.

Yanto Sugianto

Yanto Sugianto

Kini, putra pertama Yanto, seorang Sarjana Ekonomi dari Universitas Gadjah Mada, sedang dipersiapkan untuk melanjutkan tampuk bisnis CV Jatiluhur Mas. Kepada sang putra, dan juga siapapun yang menjalankan bisnis, Yanto berpesan untuk senantiasa menjunjung tinggi kepercayaan pelanggan. “Modal uang itu tidak selalu menjadi yang nomor satu, melainkan kerja keras dan kejujuran. Kalau seseorang jujur, ia tidak akan sulit mencari makan,” tandas Yanto. Menyimak kisah Yanto, tak terasa badai telah mereda. Para tamu pun bisa kembali ke daratan, menempuh 30 menit perjalanan dengan perahu.

BCA Senantiasa di Sisi Anda

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × 5 =