Alfamind, Toko Virtual Mainan Baru Alfamart

PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart) segera meluncurkan toko barunya yang dinamakan Alfamind. Dengan aplikasi mobile yang tengah digodok tim Virtual Reality Alfamart ini, penggunanya bisa memiliki toko Alfamart virtual. Teknologi yang digunakan adalah Virtual dan Alternate Reality.

Direktur Utama Alfamart, Anggara Hans Prawira, menyebut Alfamind sebagai toko virtual. Model bisnisnya bukan hanya Alfamart yang jualan, tapi juga merekrut banyak pemilik toko untuk menjadi mitra. Jika sekarang ada franchise toko fisik, nantinya juga akan ada franchise toko virtual.

“Ini akan menjadi sesuatu yang sangat baru di bidang ritel. Sudah cukup banyak item yang kami masukkan ke dalam Alfamind. Tapi, kebanyakan bukan groceries melainkan peralatan rumah tangga,” katanya.

Direktur Utama Alfamart, Anggara Hans Prawira. Direktur Utama Alfamart, Anggara Hans Prawira.

Seseorang sudah bisa menjadi mitra dengan cara mendaftar melalui aplikasi mobile Alfamind dan menempatkan sejumlah uang sebagai deposit yang nanti digunakan sebagai alat pembayaran mitra kepada Alfamart. Nantinya, lanjut Hans, platform Alfamind ini akan didorong ke Alfacart, anak perusahaan yang bergerak di e-commerce.

“E-commerce adalah sistem penjualan yang pasif. Alfamind dan mitra-mitranya akan mendorong aktivitas e-commerce Alfamart menjadi lebih aktif. Jadi, ini model bisnis baru, tokonya virtual dan model penjualannya direct selling,” ujar dia.

Ada dua misi utama yang diusung Alfamart lewat mainan barunya ini. Pertama, membuka lapangan kerja baru. Seseorang lebih mudah memiliki toko dan berjualan sendiri dengan modal yang terjangkau.

Kedua, Alfamind akan membantu memberdayakan UKM, khususnya kerajinan di Indonesia. Pemasaran masih menjadi masalah klasik untuk para pengusaha kerajinan kecil. E-commerce bisa sangat membantu. Apalagi dengan dukungan Alfamind yang aktif memasarkan produk.

Hans percaya dukungan digital tak bisa dipisahkan dalam bisnis ritel. Mulai dari sisi komunikasi internal serta proses bisnis, e-commerce, hingga engagement ke konsumen melalui marketing tools digital. Termasuk menyediakan lapangan kerja baru.

“Strategi digital juga bisa mendukung strategi bisnis ritel. Digitalisasi sangat relevan dengan konteks bisnis Alfamart karena konsumennya berkembang ke sana. Ada dua unsur utama di bisnis ritel yakni pelayanan dan efisiensi,” katanya.

Setelah sukses memiliki 11.359 gerai toko fisik, yakni Alfamart dan Alfamidi dengan 3.173 diantaranya gerai waralaba, Alfamart meluncurkan e-commerce dengan brand Alfacart. Ini adalah rebranding dari toko online mereka yang sebelumnya bernama Alfaonline.

Sepanjang tahun 2015, Alfamart sukses mencetak penjualan hingga Rp 49 triliun. Sekitar Rp 120 miliar diantaranya diperoleh dari penjualan tiket dan pembayaran token listrik PLN. (Reportase: Raden Dibi Irnawan)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)