Astra Otoparts, Mendominasi Komponen Otomotif

Hamdhani Dzulkarnaen Salim, Presiden Direktur Astra Otoparts (AOP)
Hamdhani Dzulkarnaen Salim, Presiden Direktur Astra Otoparts (AOP)

Tidak keliru jika Astra Otoparts (AOP) disebut sebagai pemimpin pasar di industri komponen otomotif dalam negeri. Jangkauannya terluas, pabriknya di dalam dan luar negeri, yang sebagian di antaranya menuju smart factory. “Bahkan, di regional tidak banyak perusahaan yang coverage-nya luas seperti kami. Saat ini kami dalam proses menjadi global player,” kata Hamdhani Dzulkarnaen Salim, Presiden Direktur AOP.

Untuk menguasai pasar komponen otomotif, AOP memiliki 57 anak usaha, sebagian bergerak di after market (antara lain melalui Shop and Drive), ekspor, dan manufacturing. Pada bidang manufaktur ini, berdiri dua ujung tombak: Divisi R&D (Engineering Development Center/EDC) dan Divisi Winteq (Workshop for Industrial Equipment). EDC berfungsi mendesain produk, sedangkan Winteq mendesain prosesnya.

Divisi R&D dibentuk pada 2012, berisi sekitar 150 engineer dan ekspatriat Jepang. Tujuan dibentuknya divisi ini adalah mendukung kebutuhan R&D anak usaha. “Saat ini OEM punya kecenderungan menyerahkan desain kepada supplier. Kami ingin mempunyai kemampuan tersebut. Kalau barang didesain oleh kami, harganya lebih tinggi daripada barang yang didesain OEM,” kata Hamdhani.

EDC sampai saat ini sudah mencatatkan 41 paten. Di antaranya, Seat Bottom, Spare Tire Carrier, dan Fan Blade. Sejumlah komponen itu dipasok ke banyak perusahaan, antara lain Isuzu dan Fuso. Toyota bahkan memercayai AOP untuk menyuplai 40% komponen Avanza.

Hamdhani menggambarkan bahwa dalam industri komponen, perusahaan tidak bisa 100% membuatnya sendiri. Maka, terdapat pembagian level: first tier, second tier, dst. AOP merupakan first tier yang bisa menyuplai langsung ke prinsipal seperti Toyota. Adapun yang menyuplai ke AOP tergolong second tier. “Kami bersikeras memiliki R&D sendiri agar berkemampuan mendesain sendiri sehingga standar atau drawing itu menjadi milik kami yang disetujui Toyota. Nah, standar ini yang akan menjadi patokan bagi second tier dan seterusnya,” dia menjelaskan.

Winteq juga tidak kalah produktif. Fungsi utama divisi yang beranggotakan 150 orang ini memang untuk menunjang pabrik AOP, tetapi juga untuk memenuhi permintaan sejumlah mitra atau pembeli umum. “Salah satu kemampuan (Winteq) adalah membuat sistem otomasi, misalnya AGV (Automated Guided Vehicle), yakni kendaraan otomatis yang biasa digunakan untuk menarik barang di pabrik,” kata Hamdhani.

Terkait sumber bahan baku, ia menjelaskan, ada empat bahan utama, yakni baja, plastik, alumunium, dan karet. Sebagian besar material itu didapat dari impor. “Lebih dari 50%. Ini memang masih menjadi salah satu kelemahan di industri hulu kita, tidak cukup berkembang dengan baik,” katanya masygul.

Kendati demikian, AOP juga sempat menjalin kerjasama dengan sejumlah perusahaan dalam negeri, di antaranya Krakatau Steel untuk baja dan Inalum untuk alumunium. “Beberapa bulan lalu Toyota mengundang salah satu anak perusahaan kami untuk seremoni karena pabrik kami membuat velg yang disuplai ke Toyota yang materialnya dari Inalum. Memang belum banyak, tetapi ini sudah mulai,” tuturnya.

Meski AOP memiliki anak perusahaan yang mengekspor komponen untuk OEM ke luar negeri, seperti Thailand, Filipina, dan sejumlah negara Asia Tenggara lainnya, Hamdhani mengaku total produksi paling besar tetap untuk pasar domestik, sekitar 95%. “Karena pasar sepeda motor yang paling besar itu di Indonesia, komponen akan mengikuti. Harganya juga cukup kompetitif, jadi kadang mereka juga membeli komponen ke sini,” katanya menerangkan.

Atas tingginya kompetensi di bidang komponen otomotif yang dimiliki, sehingga memungkinkan membuat produk komponen lain, sejak beberapa tahun lalu AOP juga melirik permintaan di luar otomotif. Hamdhani mencontohkan, mereka telah mendesain beberapa produk untuk penerangan jalan raya, serta membuat baterai untuk base transceiver station (BTS). Kemudian, membuat rantai untuk industri, yakni menargetkan industri-industri besar yang menggunakan conveyor belt seperti pada industri gula. “Saat ini sudah banyak dealing dengan perusahaan seperti itu. Walaupun sektor-sektor ini seolah di luar otomotif, sebenarnya related, karena produk rantai atau baterainya kurang-lebih sama,” katanya.

Tak mengherankan AOP bisa melakukan itu. Begitu sebuah kompetensi engineering dan manufaktur sudah dimiliki, akan terbuka jalan untuk masuk ke sektor-sektor lain yang membutuhkan produk berbasis teknologi mekanik. (*)

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)