Bank Rakyat Indonesia, Hadirkan BRIStars untuk Mewujudkan Visi 2022

Pengarahan kepada milenial BRI/BRILiaN mengenai core values perusahaan dan strategi membangun digital culture yang dilakukan di Bank BRI.

Industri 4.0 sudah pasti menghadirkan lanskap yang berbeda dibandingkan sebelumnya, tak terkecuali di industri perbankan. Di bidang sumber daya manusia atau human resources (HR), akan banyak kompetensi baru yang dibutuhkan. Hal ini disadari betul oleh manajemen PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BRI). Contohnya, konsep kantor cabang (bank) bisa jadi berubah drastis dari yang dikenal sekarang, yang mungkin berimplikasi pada beberapa kompetensi yang dapat digantikan oleh teknologi, baik Big Data Analytics, Internet of Thing (IoT), maupun Machine Learning.

Karena itu, BRI pun mulai melakukan remapping kompetensi jabatan, menyusun kembali kurikulum untuk pengembangan talenta melalui kerjasama dengan lembaga dalam dan luar negeri, serta memperkuat culture transformation untuk mengiringi transformasi di era digital. Fokus transformasi yang dicanangkan oleh bank BUMN ini adalah Digital & Culture.

Dalam konteks human capital (HC) management, BRI sudah mencanangkan visi menjadi home to the best talent pada tahun 2022. Parameter yang ditetapkan: produktivitas sebesar Rp 700 juta per pekerja, top 5 employer of choice (saat ini Bank BRI berada di peringkat 17 berdasarkan survei employer branding yang dilakukan oleh Luximore Talent Research di tahun 2019), dan engagement index 3,5. Untuk mengakselerasi pencapaian visi tersebut, sejak tahun lalu BRI mentransformasi HC supaya praktik dan sistem yang diimplementasikan bank ini berstandar kelas dunia. Transformasi ini meliputi tiga pilar, yakni people, culture, dan organization.

Dari sisi people, Isahdi Askandar, Asisten Manajer HC Planning & Development BRI, menjelaskan, manajemen bank ini melihat adanya talent war, meningkatnya kebutuhan untuk employee experience dan people analytics.

Kemudian, dari sisi culture, adanya fenomena Always on Culture. Berkembangnya teknologi menjadikan satu dengan yang lain terkoneksi, sehingga garis batas antara work life dan personal life menjadi tidak jelas lagi.

Sementara, dari sisi organisasi, “Kami melihat adanya kebutuhan untuk mendigitalkan HR, lalu adanya big generation gap di workforce,” kata Isahdi. Maka, Bank BRI pun menghadirkan BRIStars.

Di sisi internal BRI, lanjutnya, ada beberapa isu yang memicu pengembangan BRIStars. Pertama, BRI tergolong sebagai young company, dalam arti 80% karyawan adalah milenial. Kedua, talent attraction; BRI butuh employer branding yang lebih baik untuk mendapatkan talenta terbaik. Ketiga, BRI adalah big numbers of people & channels, dengan jumlah karyawan mencapai sekitar 124 ribu orang dan memiliki sekitar 9.600 cabang. Dan, keempat, HR perlu mengambil role yang lebih strategic (to act as strategic business partner).

Implikasinya, menurut Isahdi, hal-hal yang terkait administrasi perlu didigitalkan dan ditransformasi. “Keseluruhan insiatif ini didukung oleh beberapa aspek enabler. Jadi, kaitan inisiatif pengembangan BRIStars dengan strategi human capital secara keseluruhan adalah di bagian enabler-nya,” katanya.

Isahdi menjelaskan, BRIStars awalnya sebuah portal human capital service (web & mobile based). Namun, seiring dengan berjalannya waktu, BRIStars bertansformasi, bukan lagi sistem yang isinya hanya terkait HC, tetapi telah menjadi virtual office baru. “Di dalam BRIStars ada sekitar 10 fitur dan aplikasi yang terkait dengan human capital management,” ujarnya.

Sebagai contoh, di bagian Planning & Analytics, ada aplikasi HC metrics & analytics untuk meng-generate laporan demografi atau proyeksi karyawan yang akan pensiun beberapa tahun ke depan, dan sebagainya. Kemudian, ada aplikasi OD Apps untuk membantu proses work of planning.

Selanjutnya, di bagian Talent Attraction, ada e-recruitment BRI, yang sudah di-costumized. Salah satunya, ada social media analytics, sehingga bisa menganalisis media sosial pelamar.

Di bagian Talent Development, ada BRI Smart (learning management system). Ada pula BRILLiance untuk mengumpulkan aspirasi karyawan yang berkaitan dengan career path mereka, dan SMK Online untuk mendigitalisasi proses performance management.

Adapun di bagian Talent Retention, BRI mengembangkan menu employee self service, contohnya E-SPJ untuk approval karyawan yang melakukan business trip. “Jadi, kalau karyawan ditugaskan untuk business trip mendadak, tidak ada lagi isu mengenai uang perjalanan dinas yang belum cair, dan sebagainya,” ungkap Isahdi. Dan, di bagian Talent Offboarding, ada e-pensiun dan portal HBI.

Di samping itu, dalam BRIStars juga ada Digital Office untuk surat-menyurat, nota, memo, dan sebagainya. Kemudian, ada juga BRISpot (aplikasi khusus para tenaga pemasar mikro BRI atau Mantri BRI untuk memproses pinjaman mikro), BRITax, dan BRI Sistem Manajemen Logistik. Jadi, hampir dalam semua hal, karyawan mengakses sistem tersebut, dan menjadi sistem dengan user terbanyak di BRI yang di dalamnya ada 90 fitur.

Tentunya, Isahdi menegaskan, ke depan BRIStars akan terus dikembangkan, misalnya membuat versi mobile-nya lebih komprehensif, dalam arti semua fitur bisa diakses secara mobile. Kemudian, memberikan akses VPN (virtual private network) untuk karyawan BRI supaya BRIStars bisa diakses kapan saja dan di mana saja. “Saat ini VPN baru diberikan kepada beberapa karyawan tertentu,” ujarnya.

BRI juga akan menguatkan BRIXpresi, medsos internal, dengan tujuan internalisasi budaya kerja melalui sistem ini. Isahdi mengakui, penggunaan BRIXpresi paling rendah dibandingkan fitur lain. Menurutnya, “musuh” BRIXpresi umumnya adalah medsos, seperti Facebook dan Instagram. Selama satu hari baru sekitar seribu yang mengunggah, sementara karyawan jumlahnya ratusan ribu. Jadi, terhitung masih kecil.

Terkait itu, akan ada mekanisme untuk mendorong penggunaan BRIXpresi. Salah satunya, dengan mengadakan lomba secara rutin, misalnya lomba foto terbaik. Hadirnya medsos internal BRI ini dimaksudkan untuk mendorong karyawan berbagi cerita tentang pengalamannya sebagai karyawan BRI, misalnya bagaimana memprospek klien.

Lalu, pengembangan aplikasi BRILliance, yang akan disambungkan dengan BRISmart atau knowledge management. Sehingga, kalau ada karyawan yang ingin belajar suatu hal, sistem akan otomatis memberi suggestion. “Kami juga ingin hadirkan Machine Learning HC Metrics & Analytics,” ujar Isahdi.

Ada tiga dampak dari adanya BRIStars yang dibangun sejak 2013 itu. Pertama, peningkatan efektivitas dan efisiensi. Menurut Isahdi, “Semua servis HC bisa di-deliver dengan lebih cepat dan lebih mudah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.”

Kedua, engagement booster, yakni pengembangan fitur-fitur BRIStars bisa menghasilkan employee experience yang bagus, terutama bagi anak-anak muda di BRI. Sehingga, ujungnya diharapkan bisa meningkatkan engagement.

Dan, ketiga, data driven decision making. “BRIStars mepunyai segala fitur dan aplikasi yang mengandung data yang sangat banyak, yang bisa diolah sebagai dasar untuk mengambil kebijakan strategis,” kata Isahdi. (*)

Yosa Maulana 

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)