Antam, Luncurkan Beragam Produk dan Kampanye Emas Halal

Iwan Dahlan, VP Penjualan dan Pemasaran Logam Mulia Antam
Iwan Dahlan, VP Penjualan dan Pemasaran Logam Mulia Antam

Dulu, nama Antam --sebutan untuk PT Aneka Tambang Tbk.-- hanya beredar di kalangan orang pertambangan dan BUMN. Namun, belakangan ini nama Antam juga cukup dekat dengan kalangan masyarakat umum (perorangan). Penyebabnya, tak lain, Antam juga makin menggencarkan perdagangan logam mulia (emas) lewat Unit Bisnis Refinery Logam Mulia.

Di bisnis logam mulia ini, sudah cukup banyak jenis produk yang dikeluarkan Antam. Yang paling awal dikembangkan adalah produk Emas Bar, yang terdiri dari beberapa jenis ukuran, yaitu 1 gram, 3 gram, 5 gram, 10 gram, 25 gram, 50 gram, 100 gram, 250 gram, dan 1 kg (hanya untuk pesanan khusus). Menurut Iwan Dahlan, VP Penjualan dan Pemasaran Logam Mulia Antam, produk Emas Bar merupakan kontributor utama bisnis logam mulia perusahaannya. “Karena, sudah lebih lama (dikembangkan) dan orang lebih familier dengan produk ini,” ujar Iwan.

Selain produk Emas Bar, Antam juga telah mengeluarkan produk Batik Series, Gift Series, Dinar dan Dirham, Silver Bar, alat penguji kadar emas (untuk industri dan bisnis), jasa emas pesanan untuk perusahaan/lembaga pemerintahan, dan produk-produk tematik seperti untuk Idul Fitri, Natal, dan Imlek.

Antam menjual produk-produk ritel logam mulianya itu melalui 15 butiknya yang tersebar di berbagai kota: Jakarta, Medan, Banjarmasin, Balikpapan, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, dan Makassar. Menurutnya, Pulau Jawa, khususnya Jakarta, masih merupakan pasar utama.

Iwan menyebut pertumbuhan bisnis logam mulia Antam antara 10% dan15%. Menurutnya, masyarakat sudah mulai sadar terhadap pentingnya logam mulia emas. “Dulu butik kami sepi, sekarang sudah mulai ramai,” ujarnya. Bahkan, beberapa waktu lalu, saat harga emas turun-naik, orang tetap ramai membeli emas. Ia mengklaim setiap hari unit bisnis logam mulia Antam bisa menjual 20-25 kg.

Meski produk emas merupakan produk investasi, agar konsumen tidak bosan, Antam berinovasi dengan meluncurkan produk Gift Series. Ada lima jenis Gift Series yang diluncurkan, yakni Gift Card Congratulation, Gift Card Selamat, Gift Card Wedding Ring, Gift Card Wedding Pink, dan Gift Card with Love. Seri produk ini berbentuk kartu yang ditanami emas seberat ½ gram atau 1 gram.

Alasan peluncuran Gift Series, menurut Iwan, ketimbang orang memberikan hadiah barang yang umumnya tidak sampai dua tahun harganya mengalami penurunan, lebih baik memberikan hadiah dalam bentuk emas yang harganya tidak akan turun, malah cenderung naik. “Selain itu, Gift Series ini bisa dijadikan sebagai koleksi,” ujarnya. Pasalnya, produknya dibuat dalam jumlah terbatas (limited).

Selain Gift Series, Antam juga mengeluarkan produk emas Batik Series. Saat ini ada dua seri batik yang dikeluarkan. “Kami ingin menjadikan produk emas ini bukan hanya sebagai alat lindung nilai, tetapi juga bisa dikoleksi seperti perangko,” kata Iwan.

Selain berinovasi pada ragam produknya, sejak 2018 Antam pun berinovasi pada kemasan produknya. Iwan mengatakan, kemasan produk emas Antam sekarang terlihat lebih elegan dan eksklusif, sekaligus lebih aman.

Untuk mempromosikan produknya, terutama lewat dunia maya, Antam merilis kampanye #EmasAntamHalal. “Orang sekarang, terutama kalangan milenial, pengetahuan hukumnya sudah bagus,” ujarnya.

Menurut Iwan, kalau orang membeli emas dari Antam, lindung nilai dan sertifikasinya jelas. Dengan kampanye ini, lanjutnya, selain bersertifikat halal, Antam juga ingin menyatakan sebagai satu-satunya produsen logam mulia yang memiliki sertifikat London Bullion Market Association (LBMA) di Indonesia. “Jadi, emas dari kami kalau dijual di luar negeri juga laku, karena telah diterima di pasar internasional,” katanya.

Iwan menuturkan, untuk mendapatkan sertifikat LBMA itu tidak mudah. Sumber logam mulianya harus jelas dan bebas dari praktik pencucian uang (money laundry). Proses penambangannya pun harus mematuhi peraturan lingkungan yang berlaku.

Rencananya, Antam akan mengembangkan jaringan butiknya, termasuk melalui kerjasama dengan perusahaan lain, seperti Pegadaian dan para pemilik bisnis perhiasan. “Saat ini masih dalam tahap pembicaraan, namun pada prinsipnya kami telah bersepakat bahwa emas ini harus mudah diperoleh dan gampang dijual kembali,” ungkapnya.

Antam juga telah memiliki fasilitas e-commerce. Di sana, investor bisa melihat harga harian emas Antam. Fasilitas e-commerce ini juga punya fitur untuk mengalkulasi: jika investor punya sejumlah dana tertentu, kira-kira apa saja dan seberapa banyak produk Antam yang bisa dimiliki dengan dana tersebut.

Di samping penjualan emas, seiring dengan perkembangan investasi masyarakat yang ingin menabung dalam bentuk emas, Antam juga menyediakan jasa penyimpanan atau depositori emas (dengan biaya saat ini Rp 100 ribu/tahun).

Sebenarnya, Antam menjual logam mulia emasnya bukan hanya di pasar domestik, tetapi juga ke pasar ekspor. Bahkan, hingga saat ini komposisi penjualan ke pasar ekspor dan domestik adalah 60:40. “Yang dijual ke pasar ekspor adalah produk emas batangan yang memiliki berat lebih dari 1 kg,” ungkap Iwan. Sejauh ini Antam menjual emasnya ke Singapura, dengan alasan biayanya lebih murah dan negeri itu menjadi salah satu pusat perdagangan dunia.

Tantangan utama kami adalah bagaimana pasar domestik bisa menyerap lebih banyak lagi,” kata Iwan. (*)

Joko Sugiarsono & Anastasia A. Suksmonowati

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)