BCA Bangun Merek dengan Consumer Centric

Senior Vice President Transaction Banking Business Development PT Bank Central Asia Tbk. (BCA), I Ketut Alam Wangsawijaya.

Bagi PT Bank Central Asia (BCA) Tbk., brand telah menjadi ekuitas perusahaan. Tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan brand turut memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan bisnis perusahaan, terkait dengan pemasaran hingga engagement pelanggan.

Meski tumbuh dengan produk dan layanan yang inovatif, BCA terus  berupaya mendongkrak nilai mereknya. Hal ini terefleksi dari perhitungan brand value (BV) yang dilakukan BrandFinance, mencatatkan peringkat BCA menjadi nomor 4. Naik dari tahun sebelumnya yaitu peringkat 5.

Tahun 2018, nilai BV BCA mencapai US$2,3 miliar atau tumbuh dibandingkan sebelumnya US$1,8 miliar. Sementara enterprise value (EV) sebesar US$37,2 miliar. Sedangkan untuk rating brand strength masuk dalam kategori AAA. Kenaikannya sebesar 24% dari sisi BV dan 6% dari sisi EV. Bagi Senior Vice President Transaction Banking Business Development PT Bank Central Asia Tbk.I Ketut Alam Wangsawijaya, kenaikan nilai BV ini tak lepas dari upaya yang dilakukan tim BCA untuk proaktif mendengar suara dan kebutuhan konsumen.

BCA memiliki satu unit kerja yang khusus mencermati hal tersebut, yaitu divisi riset. “Kami juga memiliki sub-divisi yaitu komunikasi pemasaran untuk menindaklanjuti bagaimana cara berkomunikasi dan tim pemasaran yang terus mengeksplorasi cara-cara pemasaran agar tepat sasaran,” paparnya. Selain itu, divisi layanan operasional berguna untuk terus melakukan perbaikan dari sisi layanan dan pengembangan produk yang menindaklanjuti dari sisi produk-produk yang dibutuhkan.

Ketut mengungkapkan bahwa pendekatan yang dilakukan BCA dalam membangun mereknya sangat consumer centric. Produk atau layanan yang diluncurkan dirancang dengan benar-benar melihat apa yang dibutuhkan nasabah. Pengaplikasiannya juga sesuia dengan brand promise, yakni inovatif, prudent, dan aman. Contohnya, pegembangan mobile banking dengan kecanggihan yang mencakup keamanan, keterandalan, dan kenyamanan.

Brand promise harus terus di-deliver sehingga bisa menghasilkan customer experience yang sesuai dengan brand promise. Mungkin ini yang membantu brand equity BCA,” ujar Ketut. Cara ini dilakukan secara menyeluruh di semua lini yang berkaitan langsung dengan nasabah. Tujuannya untuk membangun sebuah customer experience.

Ketut juga mengakui banyak tantangan dalam mengelola BV karena begitu banyak atribut yang dilekatkan pada ekuitas sebuah merek. “Kami melihat dan mengevaluasi brand itu secara komprehensif menjadi atribut-atribut yang berkontribusi terhadap ekuitas dan kekuatan brand itu sendiri baik dari sisi awareness, costumer experience, produk & layanan yang dipersonifikasikan terhadap masyarakat,” jelasnya.

Dalam menjalankannya, BCA dibantu oleh lembaga independen yang memang berkompeten untuk melakukan pemeringkatan brand-brand tersebut setiap tahunnya. Hal ini untuk mengetahui posisi BCA lebih baik atau tidak dibandingkan dengan brand lainnya. Keberadaan lembaga tersebut membantunya dalam pemeringkatan posisi brand baik dari sisi ekuitas dan lainnya setiap tahun.

Analis Senior Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada, melihat kekuatan BCA terletak pada produk dan layanannya yang sudah memasyarakat, seperti tahapan BCA. Dari sisi keuangan, bank ini memiliki fundamental yang bagus. Laba bersihnya Rp5,5 triliun pada kuartal I/2018, naik 10,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Untuk pendapatan operasional juga mengalami pertumbuhan sebesar 8,7% menjadi Rp14,7 triliun pada kuartal I/2018. Keberhasilan BCA dalam menciptakan produk dan layanan yang begitu kuat, menurut Reza, menjadi fondasi yang baik untuk semakin melejitkan bisnisnya.

Reportase: Sri Niken Handayani

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)