Chandra Asri Hadirkan Kebutuhan Plastik dari Hilir ke Hulu

Menjadi satu-satunya perusahaan petrokimia yang terintegrasi, Chandra Asri Petrochemical (CAP) mampu menyediakan kebutuhan akan plastik dari hulu ke hilir untuk konsumennya. Alasan CAP memilih Indonesia sebagai ekspansi usahanya, karena Indonesia memiliki konsumen sekitar 250 juta jiwa akan mempengaruhi peningkatan nilai Gross Domestic Product (GDP). CAP hadir memenuhi demand konsumen Indonesia akan kebutuhan plastik sebagai packaging makanan dan minuman untuk dijual lebih lanjut.

Chandra Asri

                                                                   (foto: www.chandra-asri.com)

Kompetisi bisnis dalam usaha petrokimia sangat padat modal dan memerlukan skala yang cukup besar. Hal ini dilakukan untuk nilai efisiensi secara jangka panjang. Selain itu, usaha CAP harus terintegrasi dengan produk-produk lain yang masih berkaitan dengan bahan baku plastik. Berbagai program untuk mengenalkan produk karya CAP kerap dilakukan untuk mengenalkan brand kepada masyarakat luas mengenal karyanya. Penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa ini akan memberikan kenaikan nilai pertumbuhan GDP rata-rata tiap tahun sebesar 5%. Demand bahan baku plastik berbanding lurus dengan nilai GDP, malah akan lebih tinggi dengan kenaikan 7% - 8%.

Posisi CAP yang masuk ke Indonesia's 100 Most Valuable Brand ini menjadi prestasi baik, dikarenakan sebelumnya CAP belum pernah masuk. Usahanya untuk dikenal luas memberikan angin segar, CAP melakukan penambahan kapasitas sehingga mampu menambah sumpply ke para konsumer. Hal ini menciptakan kepercayaan pada konsumer. “Kami akan membangun pabrik karet sintetis terbaru dan satu-satunya di Indonesia dengan ber-partner bersama Michelin. Ini menjadikan brand image kami naik dan menciptakan kepercayaan lebih jauh. Partnership lainnya akan lebih banyak lagi dan rencananya akan ada kerjasama dengan SCG Thailand,” tutur Erwin Ciputra, Presdir PT Chandra Asri Petrochemical Tbk.

Volume penambahan investasi yang dilakukan CAP dalam 10 tahun terakhir naik hampir 100%, dari 1,5 Juta ton menjadi hampir 3 Juta ton untuk seluruh produknya. Untuk mengontrol kualitas hasil usahanya, CAP yang pemegang sahamnya mayoritas adalah Barito Pacific dan Siam Cement Group (SCG) dari Thailand, secara rutin melakukan customer feedback untuk setiap tahunnya. Customer gathering dengan tujuan survei terhadap servis perusahaan dilakukan dengan seksama demi kepuasan pelanggan. Nama besar CAP di arena lokal Indonesia merupakan pemain besar dengan produksi yang beranekaragam.

Trademark dagang CAP yang telah dikenal luas adalah biji plastik bernama Asrene dan Trilene sejak tahun 1992 dan 1995. CAP telah melayani untuk berbagai sektor mulai dari consumer packaging, plastic packaging, automotive packaging, pipa PVC dan PE perumahan sebagai penyedia bahan baku. CAP di Indonesia telah melakukan produksi secara penuh 100%, namun hanya dapat dapat supply sekitar 35%. Maka dari itu Indonesia masih tetap harus melakukan impor. Erwin Ciputra mengungkapkan bahwa, “We are the largest most integrated. Kita satu-satunya yang terintegrasi. Pemain lain ada yang besar tapi hanya satu produk saja. Kalau kami dari hulu sampai hilir. Misalnya Pertamina, mereka juga bikin biji plastik, tapi biji plastik cuma satu, kalau kami semuanya satu rantai produksi. Dari naphtha cracker sampai ke biji.”

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)