Ciputra Fokus Menengah ke Bawah

Pasar properti baik residensial maupun komersial belum banyak bergerak. Pengembang mesti jeli membaca pasar. PT Ciputra Development Tbk melakukan diversifikasi untuk mencapai target penjualan tahun ini. Candra Ciputra, President Director Ciputra mengatakan, total Ciputra memiliki 76 proyek dan 19 diantaranya adalah proyek residensial. Prospek proyek yang bagus, dengan kata lain, mampu menghasilkan keuntungan lumayan, adalah kekuatan Ciputra.

"Investor kan maunya profit, profit oriented. Mereka melihat profit tahun ini atau tahun depan. Jadi, paling penting proyeknya dulu, lalu melihat penjualan bagus," katanya.

Hingga kuartal I-2016, penjualan perseroan baru mencapai Rp 2,6 triliun. Ia masih yakin target sebesar Rp 9,3 triliun dapat tercapai. Seusai hari Raya Lebaran, penjualan biasanya mulai naik kembali.

Ia melihat kebijakan pengampunan pajak (Tax Amnesty) mampu mendongkrak penjualan, terutama di kelas menengah ke atas. Masyarakat kelas atas (high end) masih menahan diri untuk membeli rumah maupun apartemen segmen premium.

"Kontribusi ke depan masih perumahan. Kalau tanpa tax amnesty, ya menengah ke bawah yang disasar. Kalau ada tax amnesty, middle dan upper bergerak naik. Yang beli itu banyaknya rumah kedua dan ketiga," katanya.

Junita Ciputra; Widigdo Sukarman; Candra Ciputra; Tulus Santoso

Sebelum aturan tax amnesty berlaku, calon pembeli mengurungkan niat karena khawatir menjadi sasaran empuk Ditjen Pajak saat membeli rumah ataupun apartemen premium. Kehadiran aturan pengampunan pajak melegakan mereka.

"Pemerintah sedang mengejar (target) pajak. Waktu beli tidak matching antara tax filling dengan kemampuan. Jika beli bisa dikejar, takut mereka jadinya," ujar Candra.

Faktor lainnya adalah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memutuskan melonggarkan persyaratan pengajuan KPR inden. Seiring inflasi yang terkendali, Bank Indonesia juga terus mengimbau perbankan agar mau menurunkan suku bunga kredit.

"Itu (bunga) sangat pengaruh ke properti. Bottom-nya itu tahun lalu. Tahun ini, peraturan sudah dilonggarkan. Jadi, untuk properti kelihatannya bagus. Sebelum krisis pertumbuhan bisa 20-30%," ujar dia.

Secara umum, lanjut dia, pasar properti akan lebih bagus pada tahun ini. Pasar akan tumbuh sekitar 10-15% secara keseluruhan. Namun, pertumbuhannya tergantung harga yakni Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar. Untuk kelas menengah ke atas, pertumbuhan akan lebih tinggi.

"Kami masih akan mengeluarkan yang murah. Kebutuhannya memang seperti itu. Kami mengikuti pasar. Sebentar lagi, akan keluar lagi dengan harga per unit paling murah Rp 700 juta di tengah kota," kata dia. (Reportase: Sri Niken Handayani)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)