Fokus Garap UMKM, Nilai Merek BRI Pun Terus Menanjak

Tahun 2017, nilai merek (brand value) PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BRI berada di posisi ke-3, naik dua tingkat dibandingkan tahun lalu. Nilai merek BRI sebesar US$ 2,56 miliar, naik 61,12% dari tahun lalu.

Dalam meningkatkan nilai mereknya, BRI berusaha tetap fokus pada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). “Kami melakukan inovasi yang berkaitan dengan produk bisnis UMKM,” ujar Sis Apik Wijayanto, Direktur Konsumer BRI. Inovasi tersebut meliputi inovasi program, fitur produk, dan kanal. “Kami terus berusaha secara konsisten membentuk positioning BRI sebagai bank terbesar dengan mengembangkan infrastruktur yang lengkap ditambah dukungan teknologi satelit BRIsat, sehingga secara luas dapat menjangkau konsumen hingga pelosok negeri,” lanjut Sis menjelaskan strategi BRI meningkatkan nilai mereknya.

Selain itu, BRI juga mengembangkan program-program yang bertujuan memberikan brand experience bagi nasabah. Dengan terus mengembangkan program promosi yang memberikan manfaat bagi nasabah, diharapkan akan terbangun kepercayaan, kepuasan, dan loyalitas nasabah kepada berbagai produk BRI.

Sis menjelaskan, untuk memberikan brand experience kepada nasabah, BRI harus menciptakan inovasi program yang dapat dirasakan semua segmen, dari pedesaan hingga perkotaan, dari masyarakat menengah-bawah sampai masyarakat menengah-atas. Sebut saja, ada program Untung Beliung Britama, program produk e-channel, parade UMKM, program pembelian pulsa/listrik via mobile banking, program transaksi e-Pay berhadiah, dsb. “Semua program tersebut dapat meningkatkan awareness, pengalaman, sekaligus loyalitas nasabah karena dapat dirasakan nasabah di seluruh Indonesia,” ujar Sis tandas.

Brand Value Sis Apik Wijayanto, Direktur Konsumer BRI

BRI pun menciptakan program aktivasi yang kreatif dan interaktif. Contohnya, Junio Racer, Zero on 25, dan BRItama untuk generasi milenial. Semua program tersebut untuk meningkatkan awareness dan engagement terhadap BRI dalam aktivitas digital. “Kami mulai banyak memanfaatkan channel digital dan media sosial sebagai salah satu sarana untuk berkomunikasi dengan nasabah kami, mengingat di sanalah tempat para Gen Y atau nasabah BRI masa depan berada,” kata Sis.

Pemanfaatan kanal digital dan medsos yang pernah dilakukan BRI adalah melakukan placement iklan dalam bentuk web banner atau advertorial di single site atau Google Display Network (GDN). Juga, menggunakan platform medsos seperti Instagram, Line, Twitter, dan Facebook dalam bentuk aktivasi berupa kuis, tanya-jawab interaktif, dll.

Kemudian, dari sisi pengembangan jaringan layanan perbankan, BRI terus mengembangkan agen BRILink yang saat ini sudah lebih dari 100 ribu agen untuk layanan Laku Pandai & LKD serta layanan Teras BRI Kapal, sehingga keberadaan touch point BRI semakin kuat dan merata di seluruh Indonesia. Hal ini juga dibantu dengan adanya satelit BRIsat yang bisa menjangkau seluruh negeri. Untuk segmen yang lebih menengah dan premium, BRI menciptakan digital branch, gerai digital, dan layanan BRI Prioritas sehingga mampu memberikan pelayanan yang sama baiknya kepada seluruh nasabah.

Lalu, bagaimana memperkuat aspek input dan ekuitas merek (brand equity)? Untuk soal itu, BRI telah melakukan pengendalian dan pengembangan dalam hal produk, pogram pemasaran, dan komunikasi pemasaran yang berorientasi untuk menjaga dan meningkatkan brand awareness dan membangun ekuitas merek. “Hasilnya tecermin pada satu dekade ke belakang, kami selalu menunjukkan financial performance yang sangat baik dengan selalu membukukan laba yang terbesar selama 10 tahun berturut-turut, dengan tetap fokus pada segmen microbanking dan selalu menjadi market leader untuk segmen tersebut,” ungkap Sis.

Survei berbagai lembaga independen pun menunjukkan tingkat awareness dan loyalitas nasabah terhadap merek BRI, khususnya di produk microbanking, meningkat secara progresif. “Di 2016, kami mendapatkan peringkat ke-1 BUMN Terbaik 2016, peringkat ke-1 Best Microfinance dan Best Bank in Indonesia dari The Asian Banker,” kata Sis bangga.

Sis menjelaskan, BRI selalu menggunakan data eksternal untuk mengetahui positioning brand produknya dibandingkan pesaing, terutama dalam hal level of awareness, image, usage, consideration level, hingga loyalitas nasabah dan atau masyarakat. Data eksternal tersebut didapatkan dari hasil evaluasi atau brand tracking yang setiap tahun dilakukannya. Analisis pada BRI secara keseluruhan terus dievaluasi pihak independen di luar BRI yang memberikan penilaian dan masukan untuk meningkatkan kinerja produk dan perusahaan.

Yang pasti, peningkatan ekuitas merek BRI telah memberikan penguatan pada portofolio bisnisnya. “Pertumbuhan bisnis BRI melebihi rata-rata industri, baik simpanan maupun pinjaman serta penguasaan market share. Proporsi current account savings account (CASA) meningkat, outstanding simpanan dan pinjaman UMKM juga terus meningkat. BRI pun menjadi market leader di segmen pasar microbanking sampai sekarang,” kata Sis. Adapun pertumbuhan fee-based income (FBI) BRI mencapai 20% lebih, di atas rata-rata industri. Dilihat dari total aset, setiap tahun BRI berhasil menjadi bank dengan aset terbesar.

Berdasarkan data riset SWA, aset BRI pada kuartal I/2017 sebesar Rp 995,9 triliun. Sementara per akhir 2016 sebesar Rp 1.003,6 triliun atau naik 14,3% dibandingkan periode yang sama di 2015 sebesar Rp 878,4 triliun. Pendapatan bunga dan syariah pada kuartal I/2017 mencapai Rp 17,9 triliun, sedangkan di akhir 2016 sebesar Rp 94,7 triliun. Lalu, laba bersih BRI pada kuartal I/2017 mencapai Rp 6,47 triliun, sedangkan per akhir 2016 sebesar Rp 26,2 triliun atau meningkat 3,1% dibanding periode yang sama di 2015 yang sebesar Rp 25,4 triliun.

Ke depan, dalam upaya meningkatkan kinerjanya, BRI selain tetap fokus pada bisnis UMKM juga akan terus melakukan inovasi di bidang digital yang ditunjang oleh teknologi satelit BRIsat. Hal ini termasuk inovasi digital pada kanal BRI seperti digital branch, BRI Digital, Teras Digital, BRILink, dan e-Pasar.

Ada pula inovasi di bidang pembayaran digital pada produk BRI, terutama untuk pengembangan produk berbasis transaction banking, antara lain fasilitas pembayaran digital dengan fitur Pay By QR; Internet banking, baik bisnis maupun individual; cash management system; serta kartu debit yang berbasis chip, 3D Secure, dan EMV. Lalu, ada uang elektronik yang berbasis kartu ataupun server-based, dan pengembangan BRILink Mobile yang berbasis ponsel pintar, dll.

Fasilitas-fasilitas tersebut akan secara konsisten disediakan BRI untuk meningkatkan FBI dan memperbaiki struktur income ratio-nya. Dengan inovasi di bidang digital, ke depannya Bank BRI dapat semakin menjangkau seluruh masyarakat Indonesia sampai pelosok dan mampu melayani masyarakat, baik di perkotaan maupun pedesaan dengan sama baiknya,” ungkap Sis.

Pada akhirnya, dengan nasabah yang jumlahnya lebih dari 50 juta, BRI dapat memiliki customer base yang kuat di tengah persaingan perbankan yang sangat ketat saat ini. Dan, BRI pun terus berupaya menjawab tantangan dan kebutuhan nasabah di kawasan lokal, regional, bahkan global.(*)

Reportase: Herning Banirestu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)