Electronic City Bangun Pusat Distribusi dan Pergudangan

Dulu orang membeli barang elektronik hanya di toko-toko elektronik tradisional. Namun, kehadiran dan kiprah Electronic City (EC) lewat toko ritel elektroniknya yang modern mampu mengubah persepsi bahwa belanja barang elektronik pun bisa di tempat yang nyaman, mempunyai banyak pilihan, dan harganya terbuka (open price).

Kuatnya merek EC di kategori ritel elektronik terlihat dari hasil survei Indonesia Original Brands 2017. EC muncul sebagai yang terbaik di kategori ini, mengatasi ritel elektronik pesaingnya, Electronic Solution dan Hartono Elektronika. Keunggulan EC terlihat pada seluruh parameter penilaian survei ini, mulai dari kepuasan, loyalitas, advokasi, hingga tingkat daya saing merek lokal. Secara keseluruhan, skor indeks EC sebesar 7,28, lebih tinggi dibandingkan Electronic Solution yang sebesar 7,20 ataupun Hartono yang sebesar 7,16.Electronic City

EC memulai bisnisnya dengan membuka gerai ritel elektronik modern tahun 2001, di bilangan Sudirman, Jakarta. “Konsep awalnya adalah membangun big box, di mana kami ingin menghadirkan semacam pameran sepanjang tahun,” kata Wiradi, Direktur Pemasaran PT Electronic City Indonesia Tbk. “Kami ingin menyediakan tempat yang lengkap untuk menjual berbagai barang elektronik untuk semua kalangan,” katanya lagi.

Wiradi menilai potensi pasar di bisnis ini masih sangat besar. Pasalnya, saat ini perbandingan besaran penjualan di pasar ritel elektronik modern dengan gerai tradisional masih 18:82. “Boleh dibilang, pesaing kami sebenarnya bukan ritel elektronik modern, tapi para penjual elektronik tradisional,” kata Wiradi. “Kami ingin mengubah gaya belanja masyarakat menjadi lebih modern,” tambahnya.

Menurut Wiradi, keistimewaan gerai ritel EC adalah memberikan fasilitas lebih untuk pelanggan, berupa kenyamanan tempat belanja, beragam pilihan produk, serta harga yang fair dan terbuka. Untuk memperbesar pasarnya, EC melakukan inovasi dan membangun jaringan gerai. Juga, membangun pusat distribusi guna mempercepat pengiriman pesanan pelanggan. “Dengan membangun pusat distribusi, akan mengurangi proses indent, sehingga bsia memenuhi ekspektasi dan membangun loyalitas pelanggan,” katanya.

EC juga memanfaatkan platform online sejak 2012. Namun, kata Wiradi, keberadaan online store-nya ini lebih untuk mendukung toko-toko offline-nya. “Jadi, online store kami isinya promo untuk offline store.

Untuk lebih meningkatkan layanannya, EC juga mengundang para mitra kerja dan periset untuk memberi masukan. Contohnya, pernah ada keluhan mengenai lamanya waktu pengiriman. “Dari situ akhirnya kami menyiapkan pengiriman dalam waktu enam jam dengan menggunakan armada sendiri,” ungkap Wiradi. Dari masukan pihak lain itu pula EC sekarang menyiapkan kontrak servis, sehingga pelanggan tidak perlu mengingat kapan jadwal servis barang elektroniknya.

Wiradi mengklaim, di antara pelaku ritel elektronik modern, EC merupakan yang terbesar. Saat ini, jaringan penjualan EC tersebar di berbagai wilayah Indonesia, terdiri dari 48 toko stand alone, 15 gerai (ada di mal-mal), dan 10 gudang/warehouse (di Jawa, Bali, Sumatera, dan Kalimantan). Saat ini juga tengah membangun satu gudang lagi di Citeureup, Bogor. Produk yang memberikan kontribusi penjualan terbesar sejauh ini adalah TV, peralatan rumah tangga (seperti AC), dan telepon seluler.

Sepanjang 2016, Electronic City Indonesia mengalami penurunan pendapatan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2016 penjualannya Rp 1,66 triliun, sedangkan pada 2015 sebesar Rp 1,78 triliun. Karena itu, laba bersihnya pun turun dari Rp 37 miliar pada 2015 menjadi Rp 20,7 miliar pada 2016 (Wartaekonomi.co.id, 19 Juni 2017).

Wiradi mengakui dalam 2-3 tahun terakhir pertumbuhan penjualan EC memang masih kurang bagus. Ia beralasan hal ini terkait dengan kondisi ekonomi nasional juga. (Reportase: Anastasia Anggoro Sukmonowati)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)