FIF Targetkan Pembiayaan Tumbuh 15%

PT Federal International Finance (FIF) optimistis kinerja perusahaan semakin membaik tahun ini seiring gencarnya pembangunan infrastruktur di Tanah Air, naiknya harga komoditas, juga tercapainya tingkat inflasi yang terukur. Total pembiayaan FIF tahun ini ditargetkan tumbuh 10-15% menjadi Rp 36 triliun, sedangkan laba dipatok naik 5-10% dibanding tahun lalu.

Direktur Utama FIF, Suhartono menuturkan, tantangan paling besar yang dihadapi industri pembiayaan tahun ini adalah tingkat inflasi yang bisa mempengaruhi daya beli masyarakat, likuiditas, dan kestabilan ekonomi atau politik di dalam negeri. Untuk itu, perusahaan akan lebih berhati-hati dan selektif dalam melakukan pembiayaan, selain berusaha memperluas jenis pembiayaan ke sektor produktif dan berbasis syariah.

Suhartono, CEO FIFGROUP

“Tapi kami tetap optimistis menghadapi 2017. Hal ini karena melihat berbagai pembangunan infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah. Kami menargetkan total pembiayaan tumbuh 10-15%. Selain infrastruktur, motor penggerak bisnis tahun ini adalah kenaikan harga komoditas dan inflasi yang terukur,” ujar dia.

Suhartono menuturkan, agar industri tumbuh semakin kencang tahun ini maka sudah seharusnya pemerintah memberikan kepastian hukum dan peraturan yang mengatur industri pembiayaan. Kepastian hukum tersebut akan membuat industri makin optimistis dalam menyikapi tahun ini.

“Industri juga mestinya lebih optimistis tahun ini, karena adanya peluang peningkatan daya beli masyarakat seiring pelaksanaan proyek-proyek infrastruktur di Indonesia, juga kondisi politik yang relatif stabil, belum lagi tingkat likuiditas bank yang masih terjaga, kebutuhan masyarakat akan transpotasi yang menjadikan motor sebagai alternatif yang reasonable juga masih ada,” jelas dia.

Pada 2016, kata dia, kondisi ekonomi domestik secara umum juga cukup menantang akibat faktor eksternal seperti fluktuasi nilai tukar, capital outflow, dan ketidakpastian dari beberapa negara besar. Namun hal itu tidak terlalu membawa dampak negatif terhadap kinerja perusahaan, karena perusahaan dapat melakukan antisipasi terlebih dahulu melalui berbagai inisiatif dan aktivitas.

“Kami berupaya mempertahankan bahkan meningkatkan performance perusahaan. Total pembiayaan naik sekitar 12,5%, dari Rp 28 triliun ke Rp 31,5 triliun pada 2016. Kenaikan ini disebabkan perusahaan melakukan ekpansi network dan aktif melakukan pembiayaan motor bekas, kredit multiguna, dan pembiayaan berbasis sharia,” jelas dia. (Reportase: Tiffany Diahnisa)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)