Federal Oil Tambah Touch Point

Selama 22 tahun menjadi oli resmi Honda, Federal Oil tak gagap menghadapi persaingan di pasar after market. Branding yang kuat menjadi strategi jitu perusahaan yang kini berusia 28 tahun itu. Sengitnya persaingan berhasil dilewati berkat agresifitas perseroan di iklan, event, dan lainnya untuk meningkatkan brand awareness.

“Kami melihat titik utamanya itu di konsumen. Target market kami adalah anak-anak yang mulai bisa naik motor,” kata Patrick Adhiatmadja, President Director PT Federal Karyatama.

Namun, biasanya keputusan soal ganti oli baru dipegang sejak sang anak memasuki jenjang kuliah atau usia 18 tahun hingga usia 40 tahun atau sudah memiliki mobil. Maklum, produk mereka adalah oli untuk kendaraan bermotor dan mobil penumpang seperti minibus dan pick up.

patrick-adhiatmadja Patrick Adhiatmadja, President Director PT Federal Karyatama.

Di era digital, konsumen yang merupakan generasi millenial mengalami pergeseran nilai. Mereka mulai mencari informasi, analisa, seperti bertanya ke teman atau komunitas, yang sudah memakai sebuah produk. Ini tentu berbeda jauh dengan generasi sebelumnya.

Menurut dia, kuncinya adalah memperbanyak touch point agar komunikasi dengan pelanggan bisa lebih menyeluruh. Di media sosial, perseroan meng-upgrade landing page di website. Komunikasi di Facebook, Instagram, dan Twitter pun dioptimalkan.

“Yang paling penting adalah penambahan pada aspek atau kanal digital. Kami mulai gencar di media sosial sejak tahun 2013,” katanya.

Touch point di media sosial ini juga digunakan untuk mendukung segala aktivitas perseroan. Interaksi antara touch point inilah yang kemudian mengangkat branding Federal Oil. Seperti, saat perseroan membuat iklan di above dan below the line. Perseroan kemudian meminta feed back konsumen lewat media sosial.

“Kami buat activity yang menarik. Ini bagian dari strategi yang 6 tahun lalu belum ada. Below the line juga sama. Kami punya Gerebek Bengkel yang dikaitkan dengan media sosial,” kata dia.

Meski begitu, tantangan di media sosial adalah cenderung tidak punya struktur dan bebas. Bandingkan dengan teori komunikasi dan branding lama yang sangat terstruktur. Untuk menyatukannya dibutuhkan seni dan keahlian khusus mengingat usia pelanggan mereka yang berkisar antara 20-40 tahun.

“Kami mulai merekrut tim marketing yang lebih mengerti masalah. Kami rekrut anak-anak muda yang memang aktif di media sosial. Untuk membentuk konsep dan strategi jangka panjang, kami menggandeng konsultan, agency, dan narasumber lain,” ujar dia. (Reportase: Aulia Dhetira)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)