Merek Juara Fokus Kebutuhan Konsumen

Merek terbaik tak hanya dilihat dari produk yang berkualitas dan strategi mengomunikasikannya kepada konsumen. Ujung-ujungnya adalah bagaimana setiap pengelola merek mengetahui apa sesungguhnya kebutuhan konsumen. “Saya percaya konsumen tidak selalu tahu apa yang mereka butuhkan. Nah, brand harus senantiasa bisa mencari produk atau service baru yang sebenarnya dibutuhkan konusumen, namun saat ini belum ada yang menawarkan,” kata Yoris Sebastian, Founder & Creative Thinker OMG Consulting.

Yoris Sebastian, Founder & Creative Thinker OMG Consulting. Yoris Sebastian, Founder & Creative Thinker OMG Consulting.

Ia mencontohkan hotel di Bali yang dirancang khusus untuk perusahaan melakukan Meetings, Incentives, Conferences and Exhibitions (MICE). Saat ini, Pulau Dewata belum memiliki satu hotel yang berkapasitas 70 kamar atau bisa menampung sekitar 100 orang dan dapat dipesan secara eksklusif.

“Misalnya, ingin menggelar gathering di Bali untuk 70-100 orang dan satu hotel eksklusif. Saat ini, belum ada yang menawarkan. Termasuk untuk wedding di hotel yang berskala 100 orang, belum ada hotel yang bisa di-book the whole hotel,” kata dia.

Untuk memasarkan produk, lanjut dia, perusahaan harus menonjolkan konsumen mereka baik dalam kampanye above maupun below the line. Selama ini, pemasaran berlomba-lomba mengagungkan merek sendiri.

“Saat ini, konsumen semakin pintar untuk tahu bahwa A sebenarnya hanya dikontrak untuk pura-pura pake brand X. Padahal, sehari-hari dia memakai brand Y. Semua bisa dilihat dari media sosial mereka. Ke depan, hal yang real lebih diperlukan sebuah merek,” kata dia.

Di era inovasi disrupsi ini, lanjut dia, perseroan tak bisa hanya mengandalkan pemasaran via online. Kampanye model ini sifatnya hanya untuk brand awareness dengan cepat. Sementara, aktivitas serupa di kanal offline juga diperlukan untuk pendekatan jangka panjang.

“Harus dua-duanya. Mereka harus saling mengisi karena memiliki pendekatan yang berbeda,” katanya.

Selanjutnya, strategi Word of Mouth (WOM) alami akan meningkatkan loyalitas konsumen. Hasilnya pun akan berumur panjang ketimbang melakukan WOM palsu seperti postingan berbayar di media sosial. Lagi-lagi, konsumen semakin pintar untuk mengetahui mana yang rela memberikan testimoninya dan mana yang berbayar.

“Para juara pengelola mereka harus mulai fokus pada real happy customer mereka. Jangan sampai disibukkan akuisisi new customer tanpa memikirkan real happy customer yang sebenarnya sudah cukup lama menjadi pengguna mereka,” kata Yoris. (Reportase: Tiffany Diahnisa)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)