Polytron, Metamorfosis Gemilang Merek Asli Indonesia

Tekno Wibowo, Chief Commercial Officer PT Hartono Istana Teknologi (Polytron).
Tekno Wibowo, Chief Commercial Officer PT Hartono Istana Teknologi (Polytron).

Bahwa tak sedikit merek asli Indonesia yang menjuarai persaingan di berbagai pasar di dalam negeri, tentu itu sudah banyak diketahui. Terlebih, di bisnis fast moving consumer goods (FMCG). Namun di bisnis elektronik yang notabene butuh kekuatan riset dan teknologi, umumnya sangat sulit bagi merek asli Indonesia untuk mencapai poisi leading di pasar, baik dilihat dari ekuitas merek maupun pangsa pasar. Sebab itu, posisi Polytron yang menjadi pemimpin di pasar perangkat audio di Indonesia jelas menjadi prestasi yang luar biasa dan layak diacungi jempol.

Tak salah, kiprah Polytron di bisnis perangkat audio memang menarik. Dalam survei Indonesia Best Brand (SWA-MARS) tahun 2020 ini pun terbukti Polytron tetap menjadi jawaranya, peringkat 1, mengalahkan sederet pemain asing, termasuk Sony dan Samsung. “Kami terus melakukan inovasi. Tiap tahun kami selalu keluarkan produk-produk baru yang sesuai kebutuhan masyarakat Indonesia. Kami punya tim R&D sendiri,” kata Tekno Wibowo, Chief Commercial Officer PT Hartono Istana Teknologi (Polytron).

Tekno menjelaskan, sebagai perusahaan Indonesia, Hartono Istana Teknologi (HIT) mengenal betul kultur masyarakat negeri ini sehingga punya insight yang cukup mengenai pelanggan. “Di produk audio, nomor satu, yang paling penting, kualitas suara harus bagus. Orang Indonesia suka produk audio yang bisa menghasilkan suara bas yang besar, kuat, suara treble yang tinggi. Itu yang membedakan produk audio kami dengan lainnya,” katanya. Bahkan, equalizer suara masih dibagi: ada yang suara bas, suara middle, dan suara tinggi.

Tentu saja, pihaknya tak hanya mengandalkan kualitas (value) produk untuk meningkatkan brand value, tetapi juga aktif melakukan komunikasi pasar untuk menjaga top of mind.  “Kami gunakan beberapa media, seperti televisi. Sekarang lebih ke arah digital, baik itu lewat media sosial maupun e-commerce, termasuk di IG dan FB ya,” kata Tekmo.

Untuk distribusi, Polytron mengandalkan offical store di e-commerce. Juga hadir di Shopee, Blibli, dll. “Hampir di semua e-commerce kami sudah ada official store,” ujar Tekno. Belakangan ini Polytron juga makin aktif dipromosikan melalui sister company, Mola TV, baik melalui program konten maupun melalui paket-paket bundling hardware kerjasama dengan Mola. Selama dua tahun ini kerjasama dengan Mola dirasa cukup efektif bagi Polytron.

Soal kepuasan pelanggan, pihaknya menjaga brand dengan menjaga konsistensi kualitas produk dan menyediakan produk sesuai dengan kebutuhan konsumen. Tekno menjelaskan, di saat pandemi, permintaan produk audio tetap bagus karena konsumen lebih banyak tinggal di rumah dan mendengarkan konten.

Saat ini produk audio Polytron ia yakini pangsa pasarnya lebih dari 50%. Namun,  menurutnya, bukan berarti di masa pandemi ini perusahaannya tidak menghadapi tantangan. “Tantangannya lebih ke distribusi produk karena terhambatnya jualan toko-toko offline mitra Polytron, namun belakangan sudah tertolong melalui jalur e-commerce,” ungkapnya.

Polytron telah menyiapkan sejumlah produk baru untuk diluncurkan pascapandemi. “Dari sisi product development, kami sudah siapin. Bedanya, biasanya kami selalu optimistis, growth bisa 20-25% lebih dari tahun. Untuk tahun depan kami pasang target 5-10% dulu-lah. Nggak terlalu optimistis, tapi juga nggak pesimistis,” kata Tekno.

Yang pasti, pihaknya terus melakukan inovasi pada produk barunya. Dan biasanya, sebuah produk yang diluncurkan sudah dikembangkan sejak dua tahun sebelumnya. (*)

Sudarmadi & Arie Liliyah

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)