Jurus Berrybenka Mengatasi Tantangan Bisnis E-Commerce

Dengan jumlah ribuan order per hari, Berrybenka menjadi salah satu e-commerce fashion dan kecantikan yang patut diperhitungkan di Indonesia. E-commerce yang berdiri pada 2012 itu aktif menyasar konsumen pria dan wanita usia 20-35 tahun.

Danu Wicaksana, Direktur Pengelola Berrybenka, memaparkan, Berrybenka merupakan salah satu situs belanja online fashion dan kecantikan ternama di Indonesia yang menawarkan lebih dari 1.000 merek lokal dan internasional. Meski demikian, Danu menjelaskan, dalam membesarkan bisnisnya, terdapat dua tantangan utama yang bersumber pada dua hal, yakni faktor internal dan eksternal.

Faktor internal yakni kebutuhan untuk mencari talenta yang mampu membangun sistem teknologi demi menunjang laju bisnis perusahaan. Sementara faktor eksternal terdiri dari tiga aspek. Pertama, akses Internet yang belum merata, hanya 37% penduduk yang bisa mengaksesnya. “Menurut data yang diambil dari riset The Economist dan Kemenristek, sampai 2015 hanya ada sekitar 37% masyarakat Indonesia yang memiliki akses Internet, masih agak rendah jika dibandingkan China yang 50% dan Brazil, 74%,” ujar Danu.

Kedua, kondisi infrastruktur yang belum memadai di Indonesia yang notabene negara kepulauan. Danu mengungkapkan, di bisnis e-commerce, kualitas layanan logistik merupakan salah satu hal penting karena terkait dengan pengalaman belanja konsumen. Ketiga, kepercayaan masyarakat untuk berbelanja daring masih harus terus dipupuk. “Ada sebagian masyarakat yang masih ragu-ragu belanja online dan penyebab utamanya berkutat seputar ketidaktahuan cara navigasi di website, repotnya cara pembayaran, dan ketakutan adanya penipuan,” Danu memaparkan.

Untuk mengatasi hal tersebut, Berrybenka menggunakan dua strategi pemasaran: membangun merek secara daring dan secara offline. Untuk daring, di antaranya melalui iklan di berbagai media sosial. Selain itu, Berrybenka juga kerap bekerja sama dengan selebritas di Instagram (selebgram) untuk melakukan endorsement mengenai produk ataupun situs Berrybenka.

Kami fokus pada pembangunan awareness akan adanya brand dan website Berrybenka kepada target pasar kami. Channel yang kami gunakan bermacam-macam, misalnya iklan di berbagai media sosial seperti Facebook dan Instagram, maupun berpartner dengan Google untuk menampilkan berbagai iklan di website-website yang kami identifikasi sebagai tujuan populer target pasar kami,” Danu menguraikan.

Strategi kedua ditempuh dengan bekerja sama co branding dengan brand besar: BCA, Mandiri, Telkomsel, Indosat Unilever, Loreal, dan sebagainya di media massa lokal dan nasional. Selanjutnya, di tahun 2016 ini Berrybenka memiliki strategi pemasaran anyar yang menggabungkan dua kanal, yakni strategi omnichannel yang menyasar kanal daring dan offline. “Kami akan menyediakan layanan kepada pelanggan kami, baik melalui online yaitu website, mobile web dan app maupun melalui berbagai gerai offline atau pop-up store kami di seluruh Indonesia,” Danu menerangkan. Strategi ini ditempuh karena masih banyak penduduk Indonesia yang belum terbiasa membeli secara daring.

Berrybenka Danu Wicaksana, Direktur Pengelola Berrybenka

Untuk menarik minat konsumen mengunjungi toko fisiknya, Berrybenka pun menyematkan berbagai fitur menarik. Di antaranya, Retur di Toko. Fitur ini memungkinkan pelanggan mengembalikan barang yang telah dibeli secara daring di pop-up store. Selain itu, tersedia pula fitur Cash on Delivery (COD), yang memungkinkan pelanggan memesan dari website dan kemudian membayarnya di pop-up store.

Strategi di atas untuk melengkapi berbagai program yang telah dijalankan sebelumnya, seperti retur produk gratis hingga 30 hari, gratis ongkos kirim, dan COD di seantero Indonesia. Tidak hanya itu, setiap hari Berrybenka juga menghadirkan ratusan produk baru di situsya dan setiap dua minggu di pop-up store. “Hal ini kami lakukan sebagai fast fashion company untuk memastikan pelanggan tidak akan bosan mengunjungi website dan store,” ujar Danu. Kemampuan Berrybenka menghadirkan layanan di atas berkat kekuatan “dapur”-nya.

Saat ini Berrybenka memiliki gudang di BSD, tepatnya di Taman Tekno, seluas 5.000 m2 dengan kapasitas lebih dari 1.5 juta barang. Gudang itu ditenagai dengan sistem manajemen gudang (WMS) yang dikembangkan sendiri. Dengan begitu, perusahaan dapat meningkatkan sistem secara berkala sesuai dengan perkembangan fitur yang dibutuhkan. “Di warehouse kami juga terdapat conveyor otomatis yang memudahkan pemindahan produk dari berbagai level di warehouse kami dan proses pengepakan produk. Sistem ini mampu menjaga ketepatan waktu pengiriman kami,” Danu memaparkan.

Dengan strategi di atas, Berrybenka yang menyediakan 40 ribu item produk di situsnya mampu tumbuh hingga 2-3 kali setiap tahun. Adapun jumlah transaksi daring mencapai 2.500 -3.000 pesanan per hari. “Persentase penjualan item clothing sebanyak 55%, tas dan sepatu masing-masing di angka 29%, aksesori 11%, dan produk kecantikan 5%,” kata Danu.(*)

Eddy D. Iskandar

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)