Kimia Farma Apotek, Integrasikan Semua Lini Produk dan Layanan

Direktur Utama Kimia Farma Apotek Nurtjahjo Walujo Wibowo.
Direktur Utama Kimia Farma Apotek Nurtjahjo Walujo Wibowo.

Tumbuh di tengah ketidakpastian perekonomian global akibat penyebaran Covid-19 menjadi tantangan bagi PT Kimia Farma Apotek (KFA). Perusahaan yang mengelola apotek-apotek Kimia Farma ini harus menghadapi daya beli masyarakat yang menurun akibat pembatasan aktivitas karena pandemi. KFA juga menghadapi terjadinya pergeseran perilaku pelanggan yang lebih memilih bertransaksi secara online dibandingkan datang langsung ke toko/gerai akibat pembatasan aktivitas masyarakat.

Direktur Utama Kimia Farma Apotek Nurtjahjo Walujo Wibowo mengakui bahwa 2020 merupakan tahun yang berat. Secara keseluruhan pertumbuhan industri farmasi lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, padahal pada tahun itu perekonomian negeri ini pun mengalami kontraksi pertumbuhan, yaitu sebesar 2,07% dibandingkan tahun sebelumnya.

Situasi itu mendorong KFA terus meningkatkan daya saing dan menambah customer experience baru. Seiring dengan berkembangnya teknologi digital, terutama e-commerce, dan ekspansi ritel farmasi asing ke Indonesia, KFA melakukan terobosan inovatif untuk meningkatkan kapasitas sekaligus mendapatkan peluang baru.

Dijelaskan Nurtjahjo, KFA telah memperkenalkan sistem Seven Solutions yang mengintegrasikan lebih dari 1.200 apotek dalam satu aplikasi yang diberi nama Kimia Farma Mobile. Aplikasi ini sudah dapat diunduh di Playstore atau Appstore. Selain menyediakan obat secara online, Kimia Farma Mobile juga melayani reservasi pemeriksaan Covid-19, baik PCR maupun rapid test yang terhubung ke sekitar 400 Klinik Kimia Farma.

Secara reguler KFA menggelar program untuk meningkatkan brand awareness dan customer acquisition. Di antaranya, bekerjasama dengan banyak korporasi, khususnya perusahaan di bawah Kementerian BUMN, seperti program Payday Campaign (Program Gajian Waktunya Shopping), promo reguler, promo tematis (saat hari-hari besar), program B2B dengan korporasi, dan aktivitas branding Kimia Farma Mobile.

Sepanjang 2020-2021, inovasi dan perbaikan KFA, antara lain, menggunakan medicine pocket sebagai bahan pengemas obat yang akan diserahkan kepada pelanggan, sebagai pengganti klip plastik; menerima layanan pesan obat melalui WhatsApp apotek dan pengantaran obat menggunakan armada delivery dari apotek; memberikan layanan telefarma oleh apoteker kepada pelanggan; serta memberlakukan protokol kesehatan di apotek dengan mewajibkan setiap orang mencuci tangan sebelum masuk apotek, mengukur suhu tubuh, menggunakan masker, memberikan jarak pada antrean, dsb.

Nurtjahjo percaya, beragam inovasi dan perbaikan itu dapat memberikan kontribusi pada peningkatan daya saing apotek Kimia Farma dalam menghadapi merek lokal ataupun asing. Ia pun yakin, upaya mengintegrasikan semua produk dan jasa layanan, termasuk digitalisasi layanan klinik dan laboratorium, dapat meningkatkan layanan kepada masyarakat.

Sejauh ini, mengutip Infobrand tahun 2020, KFA merupakan apotek yang paling dicari di era pandemi. “Ini membuktikan bahwa merek kami masih menjadi top of mind masyarakat Indonesia,” ujar Nurtjahjo bangga.

Namun, tidak ingin berpuas diri, pihaknya masih terus berbenah. Setelah me-rebranding apotek, yaitu mendesain ulang dan mengklaster seluruh Apotek Kimia Farma, KFA juga melakukan pengelompokan layanan yang berbeda sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Misalnya, Kimia Farma Premier, Kimia Farma Plus, Apotek Kimia Farma, Kimia Farma Express, serta Health and Beauty.

Ke depan, KFA sudah mencanangkan rencana lanjutan sebagai bagian dari strategi besar 2021. Di antaranya, membuat model bisnis baru yang mengombinasikan offline-online dengan strategi omnichannel, mengintegrasikan apotek-klinik-dan lab diagnostika, serta memanfaatkan new digital channel. Kemudian, menerapkan strategi partnership dengan berbagai perusahaan rekanan bisnis yang memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.

Ada pula sejumlah strategi lainnya. Yaitu, strategi Operation Excellence & Service Experience, yang bertujuan untuk menciptakan nilai keunggulan pada setiap proses operasional melalui penerapan berbagai prinsip, sistem, dan tools menuju perbaikan berkelanjutan; strategi Customer Relationship Management, yang dapat meningkatkan hubungan layanan pelanggan dan membantu retensi pelanggan, serta mendorong pertumbuhan penjualan; strategi Merchandising & Other Income, yang fokus pada produk yang tepat agar tersedia dalam jumlah, tempat, dan waktu yang tepat, juga utilisasi asset untuk meningkatkan pendapatan perusahaan; serta strategi Cost Effectiveness, yaitu inisiatif yang dapat diambil perusahaan untuk memaksimalkan keuntungan, serta meninjau dan mengendalikan semua biaya langsung atau tidak langsung dengan modul Fund Management dan Cash Flow Management.

Dengan menerapkan strategi tersebut, KFA optimistis, industri farmasi akan terus berkembang di Indonesia. KFA meyakini, di tahun 2021 dapat menghasilkan kinerja yang baik. Performa itu sudah nampak dalam lima tahun terakhir: pangsa pasar dalam penjualan farmasi di sektor apotek meningkat. Di tahun 2020 sebesar 32,17%, naik 3,58% dibandingkan tahun 2019 yang sebesar 28,59%.

Jumlah transaksi di 2020 menurun 13,68% dibandingkan tahun sebelumnya, dari 43,42 juta (2019) menjadi 37,48 juta (2020). Namun, secara rupiah masih menunjukkan pertumbuhan yang positif, sebesar 4,30%, dari Rp 5,05 triliun (2019) menjadi Rp 5,27 triliun (2020). (*)

Dyah Hasto Palupi/Vina Anggita

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)