Combiphar, Transformasi Menuju Pilar Keempat | SWA.co.id

Combiphar, Transformasi Menuju Pilar Keempat

Di usianya yang menginjak 50 tahun, Combiphar tampak kian perkasa dan lincah bergerak. Terutama, pada sepuluh tahun terakhir.

Michael Wanandi,  CEO Combiphar.
Michael Wanandi, CEO Combiphar.

Di bawah komando Michael Wanandi sebagai CEO-nya, perusahaan yang berdiri pada 1971 ini semakin berkembang. Combiphar tidak hanya fokus pada obat generik dan ethical, tetapi juga masuk ke over the counter (OTC), dan di akhir 2019, berekspansi ke kategori health and wellness, yaitu dengan masuk ke jamu dan functional food (madu). Mereka juga membuat pabrik di Cikarang (Jababeka) yang memproduksi biosimilar dan PHC (primary healthcare) berupa produk tetes mata di lahan seluas masing-masing 10 ribu m².

Regenerasi yang mulus dan melahirkan kepemimpinan yang solid serta penuh inisiatif terlihat menjadi salah satu kunci sustainability Combiphar. Berangkat dari sebuah industri rumahan di Bandung pada tahun 1971, perusahaan yang awalnya memproduksi antibiotik, analgesik, dan obat batuk hitam ini memasuki era baru di tahun 1985 sewaktu duet Biantoro Wanandi-Hamadi Widjaja masuk, lalu melakukan modernisasi.

Kehadiran Michael Wanandi di tahun 2011 memperkokoh kiprah Combiphar setelah generasi baru ini segera tancap gas begitu duduk di singgasana. “Saya langsung melakukan transformasi perusahaan. Tadinya, portofolio produk lebih banyak ethical product atau produk yang bersifat kuratif. Kemudian, kami melakukan transformasi untuk menciptakan produk-produk yang sifatnya lebih preventif. Ini merupakan perubahan mindset yang cukup drastis,” kata Michael.

Transformasi adalah lompatan penting bagi keberlanjutan bisnis Combiphar. Michael menjelaskan, transformasi dilakukan karena pihaknya melihat produk preventif memiliki peluang pertumbuhan bisnis yang lebih besar dibandingkan obat-obatan yang bersifat kuratif yang selama ini menjadi denyut kehidupan Combiphar. Mengapa?

Di tahun 2011, kata Michael, banyak orang menganggap bahwa obat sangatlah mahal. Mengamati hal tersebut, ia berpikir bahwa dengan menjadi sehat, orang tidak harus membeli obat. Menurutnya, pola pikir untuk hidup sehat harus dikedepankan.

“Inilah yang menjadi dorongan kami untuk melakukan transformasi ke arah produk wellness. Demografi Indonesia juga kebanyakan diisi anak-anak muda dan sangat disayangkan sekali jika sudah terkena penyakit degeneratif atau penyakit lifestyle di usia muda,” katanya.

Sejak itu, Combiphar pun berupaya masuk ke OTC, termasuk dengan menciptakan produknya. Akan tetapi, bukan hanya jalur organik yang ditempuh. Prinsip “Bila tampak lama untuk mencipta (build), belilah (buy) produk yang unggul” diterapkan sebaik mungkin.

Transformasi yang membuat perusahaan masuk ke wellness industry ini menuntun Michael membawa Combiphar memilih jalur akuisisi. Mereka mengambil Air Mancur pada 2019 yang memiliki produk andalan, antara lain Madurasa, dan sebelumnya mengantongi tetes mata Insto pada 2014.

Akuisisi ini tentu saja memperkuat posisi Combiphar. Dicaploknya Air Mancur, misalnya, menjadi kesempatan bagi Michael dan tim untuk memasarkan produk jamu ke pasar internasional, seperti Taiwan dan Nigeria.

Begitu pun dengan Insto, yang juga telah diekspor ke 10 negara, bahkan menjadi pemimpin pasar di Filipina. “Rencananya, akan kami perkuat di tahun-tahun mendatang. Ini menjadi indikator keberhasilan transformasi yang kami lakukan,” kata Michael penuh semangat.

Dengan langkah transformasi itu, Combiphar seperti berlari. “Produk preventif dan OTC kami berkembang. Kami telah memproduksi 80 brand, dengan 200 SKU yang mencakup produk curative and preventive,” ungkap Michael semringah.

Yang juga membuatnya senang, kinerja produk yang diakuisisi di pasar domestik terbilang sangat membanggakan. Insto adalah penguasa obat tetes mata nasional dengan pangsa pasar lebih dari 50%. Begitu pun Madurasa yang menjadi jagoan di kategori madu sachet. Sementara untuk produk ethical, mereka memiliki produk Gamaras yang dibutuhkan sejak pandemi Covid-19 merebak untuk pasien yang kritis.

Merujuk pada langkah transformasi selama sepuluh tahun terakhir, selain mengembangkan akuisisi, disiplin inovasi juga menjadi andalan Combiphar untuk sustain. Termasuk, dalam mempertahankan produk legendaris mereka, OBH Combi, yang sudah identik dengan Combiphar.

Obat batuk tersebut terus dijaga khasiatnya, ditambah varian rasanya, serta disempurnakan kemasannya. Menurut Michael, kedisiplinan inovasi ini akan terus dipacunya agar bisa menopang target pertumbuhan yang diharapkan mencapai tiga kali lipat dalam lima tahun mendatang.

Dalam buku agendanya sebagai CEO, ia mengungkap ada banyak rencana agar Combiphar makin kuat dan lincah melewati usia separuh abad. Dari sisi produk, selain mengembangkan existing brand, mereka juga akan meluncurkan produk-produk baru.

Dari sisi komunikasi pasar, seluruh media akan terus diaktifkan dan dikuatkan. Termasuk, mengombinasikannya dengan kegiatan CSR. Sejauh ini, Combiphar tergolong perusahaan yang aktif mensponsori kegiatan olahraga, seperti event Combirun (event golf bekerjasama dengan Asian Development Tour untuk memberikan kesempatan bagi pemain Indonesia berkompetisi secara internasional) dan event tenis.

“Selain itu, kami adalah satu-satunya perusahaan farmasi yang mensponsori Asian Games 2018 dan juga membantu Tim Nasional Basket Perempuan,” kata Michael penuh rasa bangga.

Dari sisi pemasaran, selain memperkuat kanal yang ada, juga menambah kanal. Caranya, dengan channel expansion di general trade (GT). Kanal ini dianggap masih sangat potensial untuk digarap, terlebih mereka memiliki produk jamu dan madu yang bisa dikembangkan secara lebih dalam dan luas lewat kerjasama dengan para distributor yang kuat di area GT.

Termasuk dalam perluasan kanal pemasaran ini adalah pasar ekspor. Hanya saja, seperti pelaku bisnis lainnya, mereka kini melangkah perlahan. Covid-19 tentu saja menjadi penyebabnya. Keterbatasan selama pandemi membuat langkah mereka untuk merambah negara yang ingin dibidik jadi terbatas sehingga harus menundanya. Namun, pasar yang sudah dimasuki akan terus dieksplorasi.

Satu hal yang menarik dan terpenting dalam agenda Michael adalah manuver menambah pilar bisnis. “Dalam waktu dekat ini, kami akan meluncurkan pilar ke-4, yakni nutritition. Pilar ini akan melengkapi tiga pilar yang telah kami garap sebelumnya, yakni ethical, OTC, dan wellness,” ungkapnya.

Realisasi peluncuran pilar keempat itu masih ditunggu. Yang pasti, ini merupakan kelanjutan transformasi yang diayun sejak sepuluh tahun sebelumnya. Yang pasti pula, sebagai nakhoda, Michael memegang peran penting untuk menavigasi perusahaan menjalankan transfromasi tersebut.

Bicara tentang hal ini, ia mengaku punya pandangan tersendiri. “Kiat bisnis hingga bisa berumur panjang adalah seorang leader harus memiliki purpose yang bisa diterjemahkan ke karyawan, sehingga mereka bisa membantu mencapai purpose yang dimiliki, yakni bisa membangun Indonesia yang lebih sehat,” katanya tandas. Selain itu, ia menambahkan, dirinya juga dituntut harus bisa memberikan kenyamanan kepada karyawan untuk bekerja di Combiphar.

Bila semua itu bisa dijalankan dengan baik, setidaknya aset vital perusahaan, yakni SDM, akan menjadi penopang seluruh gerak dan inisiatif Michael membawa Combiphar melaju kokoh selewat usia separuh abad, tetap tumbuh berkelanjutan, tetap gagah sebagai living legend.  (*)

Teguh S. Pambudi dan Anastasia A.S.

www.swa.co.id

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)