Pralon, Pelopor Pipa Paralon di Indonesia

Vincent Gunawan Rusli, Direktur PT Pralon
Vincent Gunawan Rusli, Direktur PT Pralon

Pralon merupakan merek dagang pipa uPVC (unplasticized polyvinyl chloride) yang diproduksi PT Pralon. Perusahaan yang berdiri sejak 1963 ini merupakan pionir perubahan dari pipa besi (pipa ledeng) menjadi pipa PVC. Tidak mengherankan, merek Pralon pun menjadi generik, untuk menyebut pipa air plastik yang dikenal saat ini: pipa paralon. Ada juga yang menyebutnya pipa PVC dan uPVC. Perbedaan keduanya adalah pada bahan materialnya. Bahan uPVC sudah diolah kembali untuk menghilangkan sifat plastiknya sehingga menjadi keras, kokoh, dan tahan api.

Pralon pun terus melakukan berbagai perbaikan yang signifikan pada kualitas dan layanan teknisnya setelah pembentukan usaha patungan dengan perusahaan Jepang, Marubeni dan Sekisui, pada 1975 serta dengan Aronkasei pada 1995. Sejak tahun 2000 Pralon berada di bawah Grup Argo Manunggal bersama Fumira dan Cakratunggal Steel.

Vincent Gunawan Rusli, Direktur PT Pralon, menjelaskan, tantangan yang dihadapi perusahaan saat ini adalah bagaimana agar tetap eksis di era Revolusi Industri 4.0. Tentu, perusahaan harus beradaptasi dengan teknologi karena dengan teknologi, produktivitas dan efisiensi akan meningkat. “Pralon juga tidak bisa membendung itu. Kami mempertahankan mutu. Kami juga melakukan improvement di service, terutama di pengiriman. Kami juga menggunakan software untuk memetakan kebutuhan produk,” katanya. Dengan cara itu, dampak yang sangat terasa adalah sampai saat ini Pralon mampu bertahan.

Vincent menambahkan, dibandingkan dulu, perusahaannya saat ini lebih mengutamakan restrukturisasi yang cepat di pelayanan. Rantai birokratis yang panjang dipotong. Contohnya, pesanan yang masuk dapat dipantau langsung oleh gudang. Dulu, prosesnya dari bagian penjualan, lalu ke manajer pabrik, baru ke gudang. Sekarang, bagian gudang bisa langsung melihat pesanan yang masuk ke bagian penjualan sehingga mereka bisa lebih cepat memproses. Hal tersebut sangat memengaruhi produktivitas perusahaan ini. “Dengan revitalisasi ini, kami bertahan di sektor industri pipa PVC,” ujarnya.

Pralon juga merevitalisasi teknologi produksi dengan menggunakan teknologi yang baru dan terus memperbarui keterampilan SDM, sehingga mereka senantiasa beradaptasi. Pembaruan teknologi dilakukan setiap tahun. Misalnya, speed mesin lebih tinggi atau pengoperasian berubah dari tombol-tombol menjadi layar sentuh (touchscreen).

Berbicara tentang teknologi, sebenarnya teknologi pembuatan pipa PVC kami dari tahun 1960 hingga sekarang tidak terlalu berubah secara signifikan. Yang berubah adalah dari segi kontrolnya,” ungkap Vincent. Berkat masukan dari pemasok, pihaknya mencoba mengadopsi teknologi supaya produktivitas tinggi. “Artinya, kami replace mesin yang sudah tua. Kami sangat concern pada perkembangan hardware,” ujarnya. Kapasitas produksi pabriknya saat ini, ia menambahkan, 2.000 buah per bulan untuk kapasitas terpasang. Angka yang sama untuk kapasitas gudang.

Inovasi yang dilakukan: dulu Pralon hanya memproduksi pipa, sekarang menambah cakupan produk dengan mengeluarkan produk aksesori. “Kami juga memproduksi pipa dengan bahan di luar PVC, yaitu HDPE,” ujar Vincent.

Untuk pemasaran produk, Pralon membagi menjadi dua, yaitu pasar ritel dan pasar proyek. “Porsi terbesar kami ada di ritel. Perbandingannya 60% ritel, 40% proyek dari pemerintah,” ungkapnya. Pihaknya lebih memilih memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri.

Vincent mengungkap strategi perusahannya agar tetap bertahan sampai sekarang. Pertama, konsisten soal mutu. Kedua, berkomitmen merawat jejaring dengan distributor. Sejauh ini, Pralon telah memiliki 15 distributor di 10 provinsi. Ketiga, mengadopsi teknologi. “Kami tidak menghindari perubahan. Justru kami terus mengadopsi perubahan. Kami juga akan mengukur apakah perubahan tersebut akan berdampak positif atau tidak. Jika perubahan tersebut berdampak positif, kami akan mengikuti,” katanya tandas.

Hal lainnya, Pralon sangat menonjolkan kualitas dan pelayanan. Perusahaan ini juga terus melakukan brand awareness dan customer retention program berupa gathering. Dengan berbagai strategi itulah, Pralon bisa tetap tumbuh sekitar 5% per tahun. (*)

Dede Suryadi dan Andi Hana Mufidah Elmirasari

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)