MAK, Raja Furnitur Rumah Sakit dari Jogja

Dari hanya pembuat bemper truk, PT Mega Andalan Kalasan (MAK) bertranformasi menjadi produsen peralatan rumah sakit dengan merek MAK sejak tahun 1998. Saat ini, pangsa pasar mereka mencapai 80% secara nasional. Berkat kualitas yang senantiasa terjaga, merek mereka pun kondang sampai ke mancanegara. “Susah, rasanya belum ada yang berhasil hingga besar. Bukan saja lokal, minimum nasional belum ada. Ini bukan industri yang mudah. Prosesnya panjang, terlebih ini bisnis B2B,” kata Buntoro, Komisaris dan Pendiri MAK.

Nama MAK telah dikenal banyak rumah sakit sebagai pemasok peralatan rumah sakit seperti tempat tidur, lemari pasien, meja pasien, kursi roda, alat untuk memindahkan pasien, meja periksa, lemari obat, dan sebagainya. Boleh dibilang, MAK adalah one stop services untuk produk furnitur rumah sakit. “Tahun ini, kami optimis market share mencapai 70%. Kami sudah memetakan daerah-daerah di seluruh Indonesia dan mengupayakan dimana saja pasar yang masih bolong-bolong,” kata dia.

Buntoro, Komisaris dan Pendiri PT Mega Andalan Kalasan (MAK) Buntoro, Komisaris dan Pendiri PT Mega Andalan Kalasan (MAK)

Tak hanya di level domestik, produk MAK sudah tersebar ke lebih dari 30 negara di dunia seperti Eropa, Timur Tengah, dan Asia. Nilai ekspor sudah mencapai lebih dari US$ 2 juta dengan pasar terbesar adalah Jepang yakni separuhnya. Hanya saja, produk mereka untuk furnitur rumah tangga dan bukan dengan merek MAK.

“Pasar home care sedang tumbuh cepat. Tahun lalu, ekspor ke Jepang kira-kira US$ 1 juta. Untuk pasar selain Jepang, MAK menggunakan mereka sendiri untuk ekspor,” katanya.

Dengan posisi 10 besar pemain furnitur rumah sakit di dunia, MAK bisa menjadi role model perusahaan lokal di Indonesia. Merek lokal yang berkualitas bagus juga bisa diapresiasi dan mengharumkan nama bangsa di level internasional. Kuncinya adalah kualitas dan produksi.

Buktinya, mereka bisa meyakinkan Enseval untuk memegang mereka tersebut sebagai distributor nasional sejak 2013. Saat pemerintah tengah gencar menjalankan program BPJS Kesehatan, penjualan MAK tumbuh 70%. Omset pada tahun 2015 lalu mencapai hampir Rp 300 miliar.

Kunci sukses di bisnis B2B adalah kualitas yang tidak tercela agar konsumen mau repeat order. Harga yang kompetitif menjadi parameter kedua. Dengan kualitas tersebut, harga juga harus oke. “Yang tidak kalah penting adalah kapasitas produksi juga harus memadai. Apalagi, di saat permintaan sedang tinggi,” kata Buntoro.

Dari 2.500 rumah sakit ukuran kecil hingga besar yang ada di Indonesia saat ini, sekitar 10% sudah diundang perseroan ke pabriknya di Jogjakarta. Dari 700 rumah sakit besar, sekitar 30% sudah diundang ke pabrik untuk melihat langsung pembuatan furnitur rumah sakit dengan merek MAK. (Reportase: Herning Banirestu)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)