Polygon, Konsisten Berinovasi dan Kembangkan Ikatan Emosional

William Gozali, Direktur Polygon Bikes Indonesia
William Gozali, Direktur Polygon Bikes Indonesia

Bicara sepeda, merek Polygon sudah cukup dikenal masyarakat Indonesia. Bahkan, ada yang mengira merek sepeda ini sebagai merek kuat asal luar negeri. Padahal, Polygon merupakan merek asli Indonesia.

William Gozali, Direktur Polygon Bikes Indonesia, mengatakan, di pasar Indonesia merek Polygon masih menjadi pemimpin pasar sepeda, baik dilihat dari volume penjualan, variasi produk, maupun jaringan dealer dan ritel yang dimilikinya. Ia mengklaim rata-rata pertumbuhan omset Polygon setiap tahun berkisar 15-20%.

Polygon rupanya bukan hanya berjaya di pasar nasional. Menurut William, di pasar Asia Pasifik, produk Polygon diakui dan mampu bersaing dengan merek sepeda terkemuka lainnya. Bahkan, di pasar internasional, seperti di Australia, Jerman, dan Inggris, merek Polygon juga cukup diperhitungkan dan sering mendapatkan penghargaan dari media internasional.

Keunggulan Polygon, menurut William, karena selalu berinovasi untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Salah satu inovasi mutakhirnya adalah menghadirkan teknologi suspensi yang telah diakui dunia, yakni Floating Suspension System. Media Jerman, World of MTB, mengakuinya sebagai teknologi yang otentik dan berkontribusi terhadap inovasi teknologi buat kategori sepeda gunung (mountain bike/MTB).

Polygon telah mengeluarkan produk terbaru dengan seri XQUARONE, yang hadir dengan inovasi desain suspensi terbaru yang disebut-sebut sebagai pelopor di Indonesia, bahkan di dunia. Adapun seri Siskiu telah berhasil mendapatkan penghargaan bergengsi Bikerumor Editor’s Choice Awards 2018. Bikerumor merupakan salah satu portal sepeda online ternama di dunia. Seri Siskiu juga menjadi salah satu nominasi penghargaan The Best Value MTB of the Year dari Pinkbike.com --portal sepeda online terbesar di dunia-- bersanding dengan beberapa merek sepeda global lainnya.

Inovasi ini merupakan salah satu kunci bagi kami untuk meningkatkan kepuasan dan loyalitas konsumen,” kata William. Ia menjelaskan, target konsumen Polygon adalah semua kalangan peminat bersepeda dengan berbagai genre/kategori produk. Mulai dari kalangan non-cyclist (pemula), pehobi, kelompok antusias, hingga atlet sepeda. Adapun dari sisi profilnya, yang diutamakan adalah pria usia 25-45 tahun, kelas sosial B, berkarakter terbuka, serta menyukai hal baru dan aktivitas olahraga/kegiatan outdoor.

Selain berinovasi, menurut William, untuk memberikan layanan terbaik kepada konsumen, Polygon meregenerasi standar produksi di pabrik melalui investasi alat dan teknologi tinggi dalam proses produksinya. Jaringan distribusi mandiri juga diperluas agar dapat mengontrol kualitas produk hingga ke pengiriman akhir. Di tahun 2019, Polygon telah memiliki sekitar 500 dealer yang tersebar di seantero Indonesia, plus 41 gerai Rodalink yang tersebar di beberapa kota.

Mengenai program yang terkait langsung dengan pelanggan, Polygon membuat aneka program seperti test ride dengan pemilihan daerah sesuai dengan permintaan pelanggan. Untuk konsumen yang tergabung dalam komunitas, Polygon berusaha mendukung kegiatan mereka. Selain itu, dengan modal database pelanggan yang dimilikinya, secara reguler Polygon mengirimkan informasi produk, tip, dan program berhadiah.

Untuk memperkuat aktivitas pemasarannya, Polygon menggandeng sebanyak mungkin figur influencer, misalnya dengan membuatkan komunitas di area mereka. Polygon menggunakan pendekatan persuasif kepada calon pelanggan, dengan mengedepankan konsep gaya hidup (lifestyle), pengalaman bersepeda (experience), dan cerita menarik (story) di balik pengalaman bersepeda.

Halaman Selanjutnya
Agar bisa masuk ke kalangan...
Pages: 1 2

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)