Transformasi Si Burung Biru di Tengah Era Disruptif 

Direktur Pemasaran PT Blue Bird Tbk., Amelia Nasution.

Kebutuhan akan brand value (BV) pada bisnis jasa transportasi sangat penting. Blue Bird sebagai jaringan transportasi moda taksi terbesar di Indonesia ini percaya akan value yang  didapatkan berasal dari kepercayaan para pelanggan. Untuk itu, perseroan berkomitmen melayani perjalanan yang aman dan nyaman hingga sampai tujuan.

Mengikuti tren yang ada, Direktur Pemasaran PT Blue Bird Tbk., Amelia Nasution, juga menggarap serius sisi experience pelanggan. “Transportasi kini bukan sekadar mendapatkan mobil, tapi soal experience, soal journey yang menyenangkan bersama Blue Bird,” tuturnya. Agar dapat tercapai, Blue Bird memberikan pelatihan untuk pengemudi yang disebut service culture.

Salah satu brand promise Blue Bird adalah melayani sepenuh hati dan diwujudkan dalam sebuah tindakan nyata melalui service kepada pelanggan. Selain itu, maintenance kendaraan Blue Bird juga diberikan dengan menyediakan bengkel di setiap pool untuk memastikan kondisi kendaraan tetap prima. “Begitu keluar pool, mobil harus layak jalan. Begitu juga dengan pengemudinya harus dalam kondisi sehat dan layak mengemudi,” ujarnya.

Hal itu dilakukan sebagai bagian dari membangun value Blue Bird yang memiliki core product berupa service. Peningkatan layanan dilakukan, baik tangible maupun intangible. Dari sisi digital yang masuk dalam bisnis, Blue Bird menyediakan My Blue Bird untuk pelanggan agar dapat memiliki multiakses dalam memesan Blue Bird. “Bekerja sama dengan Go-Car, Blue Bird juga memberi akses kepada pelanggan yang ingin memesan lewat aplikasi tersebut. Ini kemudahan yang disediakan melalui digitalisasi yang ada,” ungkap Amelia.

Blue Bird juga memiliki sentra panggilan dan situs web, tetapi masih dapat dilakukan pemanggilan di jalan. Cara ini merupakan wujud dalam memberikan akses pemesanan yang sangat beragam. Hingga saat ini, menurut Amelia, order Blue Bird yang masih dilakukan dengan pemanggilan langsung di jalan masih terhitung banyak. Akan tetapi, pertumbuhan pemesanan melalui My Blue Bird semakin hari semakin meningkat, mengikuti tren pemesanan secara online.

Pembaruan logo Blue Bird dilakukan untuk penyesuaian dengan zaman. “Logo kami yang baru lebih modern dan dinamis, melambangkan kesiapan kami untuk untuk tetap adaptif terhadap perubahan-perubahan dan dapat terus memberikan apa yang diinginkan konsumen,” paparnya. Peningkatan layanan juga dihadirkan Blue Bird dengan menyediakan layanan lain seperti Big Bird sebagai akomodasi penumpang menuju airport,jalan-jalan, dan keperluan lainnya.

Blue Bird berusaha tak hanya memberikan layanan point-to-point transportation melalui taksi, tetapi juga dengan moda transportasi lain seperti bus. Semua pengembangan bisnis ini terbukti mendogkrak kinerja brand value merek Blue Bird. Terbukti, tahun lalu merek ini menduduki peringkat 38, tahun ini naik menjadi peringkat 37 dalam 100 Indonesia’s Most Valuable Brands. Nilai mereknya pun naik cukup signifikan, yakni 18% menjadi US$173 juta tahun ini.

Dilihat dari kinerja keuangan perusahaan, pendapatan dan laba bersih Blue Bird menurun di kuartal pertama tahun ini. Tapi menurut analis sahma, Thennesia Debora, prospek sahamnya masih positif. Keberadaan transportasi online memberikan tekanan kuat pada kinerja taksi konvensional. Untungnya, Blue Bird ditopang armada sendiri yang jumlahnya terbanyak di Indonesia. Brand dan kondisi fundamental Blue Bird masih jauh lebih bagus dibanding perusahaan sejenis lainnya,” ungkap Thennesia.

Reportase: Nisrina Salma

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)