Banyuwangi Dorong Peran Aktif Arsitektur Untuk Ekonomi Kreatif

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas Membuka Festival Arsitektur Nusantara 2019 Di Banyuwangi

Banyuwangi bisa dikatakan sebagai kota kabupaten kreatif. Jauh dari hiruk-pikuk ibu kota dan berada di pelosok daerah, tak menyurutkan semangat Banyuwangi untuk berbenah diri. Sebanyak 7 dari 16 subsektor dunia kreatif yang digagas Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), telah dikembangkan Banyuwangi. Ketujuh subsektor ini meliputi fashion, kriya (kerajinan), seni rupa, seni pertunjukan, kuliner, musik, dan desain komunikasi visual.

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, sepertinya sangat paham mengembangkan Banyuwangi. Meretas dari kegiatan ekonomi kreatif, Anas mampu membawa Banyuwangi “berlari kencang” hingga dikenal oleh banyak orang. Bahkan, kesuksesan ini pada akhirnya mampu menarik para investor dalam dan luar negeri untuk berinvestasi di Banyuwangi. Di titik inilah, Anas sadar bahwa Banyuwangi butuh peran arsitek.

Kini, hampir seluruh proyek besar di Banyuwangi melibatkan arsitek hebat Tanah Air, seperti Yori Antar, Andra Matin, Budi Pradono, dan masih banyak lagi. Berbagai karya arsitektur dari para arsitek hebat tanah air ini bisa dilihat di Bandara Udara Banyuwangi, Stadion Olahraga Diponegoro Banyuwangi, tempat wisata, hotel, ruang terbuka hijau, bangunan pemerintah, industri, hingga lembaga pendidikan dan kesehatan.“Banyuwangi ingin menjadikan arsitek dan arsitektur sebagai bagian integral dalam pembangunan daerah. Saya ingin semua bangunan publik di Banyuwangi tak sekadar sukses secara fungsional, tapi juga estetis dan berkelanjutan,” ungkap Anas dalam sambutannya. “Sekaligus, dapat menjadi ikon dan destinasi wisata,” dia menambahkan. Atas dasar inilah, Pemkab Banyuwangi menggelar Festival Arsitektur Nusantara yang diadakan pada 14-15 Maret 2019.

Demi menyukseskan acara Festival Arsitektur Nusantara, Pemkab Banyuwangi berkolaborasi dengan PT Propan Raya, Kementrian Pariwisata RI, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Timur, dan Arsitek Muda Banyuwangi (AMB). Pada acara ini, sebanyak 175 arsitek Tanah Air direncanakan bakal mengikuti Festival Arsitektur Nusantara. Bahkan, ajang ini akan dihadiri dan dibuka oleh Menteri Pariwisata, Arief Yahya.

"Festival Arsitektur Nusantara adalah komitmen Banyuwangi mendukung pengembangan kekayaan arsitektur lokal yang sangat beragam di Tanah Air. Di Banyuwangi, arsitektur adalah bagian penting dari pembangunan. Kami menitipkan arsitektur sebagai produk kebudayaan kepada kemajuan ekonomi yang sedang berlangsung,” jelas Anas.

Mengusung nama Festival Arsitektur Nusantara, acara ini akan dihadiri sejumlah arsitek hebat tanah air seperti Andra Matin, Yori Antar, dan Budi Pradono. Selain itu, ada Josef Prijotomo, Jeffrey Budiman, Adi Purnomo, Denny Gondo, Achmad Noerzaman, dan arsitek lainnya. Bahkan, sebagian dari arsitek tersebut telah terlibat mengembangkan proyek-proyek prestisius di Banyuwangi.

Pada penyelenggaraan kali ini, Festival Arsitektur Nusantara menyajikan beragam kegiatan. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Cipta Karya Banyuwangi, Mujiono, mengungkapkan bahwa dalam festival tersebut para arsitek akan mengikuti lokakarya dan mengunjungi sejumlah ruang publik di Banyuwangi yang telah mendapat sentuhan arsitek. “Lokakarya akan mengangkat berbagai tema seputar peran arsitektur dalam pariwisata dan industri kreatif untuk pengembangan daerah,” ujar Mujiono.

Para pembicaranya adalah Abdullah Azwar Anas, Msi (Bupati Banyuwangi), Prof. Dr. Ir. Josef Prijotomo, M.Arch. (Guru Besar Arsitektur dan Peneliti Arsitektur Nusantara), Ir. Andramatin, IAI (Arsitek), Ir. Yori Antar, IAI (Arsitek), dan Dr. Ir. Yuwono Imanto, MBA. (Dewan Pengarah Jejaring Kota Kabupaten Kreatif Indonesia-ICCN). Dalam acara imi juga akan diluncurkan buku 'Banyuwangi Now' karya Imelda Akmal.

Yang tak kalah penting, pada festival kali ini akan diluncurkan sayembara desain arsitektur dengan mengusung tema “Sayembara Arsitektur Tourist Information Center (TIC) Banyuwangi”. Rencananya, desain ini akan dibangun oleh Pemkab Banyuwangi. “Kami mengajak seluruh arsitek untuk ikut menyumbangkan idenya mendesain bangunan TIC yang lokasinya berada di kaki Gunung Ijen Banyuwangi,” ujar Anas.

Apa yang dilakukan Pemkab Banyuwangi ini sangat sejalan dengan apa yang telah dibuat Propan Raya, seperti menyelenggarakan sayembara Desain Arsitektur Nusantara, roadshow arsitektur nusantara ke kampus-kampus jurusan arsitektur di universitas-universitas terbaik Indonesia, hingga mengembangkan cat untuk mendukung eksistensi Arsitektur Nusantara.

“Propan Raya sudah berencana akan membuat buku Collaborative Innovation dimana Ekosistem Inovasi dan arsitektur sebagai inffrastuktur untuk Membangun Kota Kreatif. Dan Banyuwangi merupakan role model yang tepat karena sudah mampu menyandingkan Arsitektur Dalam Pembangunan Daerah,” tutup Yuwono Imanto yang juga menjabat Direktur Propan Raya.

Editor : Eva Martha rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)