Inilah Kota Bisnis Terbaik Bagi Kalangan Pengusaha Nasional

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, berdasarkan survei Indonesia Best Cities for Business (Indonesia BCB) 2016, menempati peringkat pertama sebagai kota terbaik untuk berbisnis. Survei ini mewawancarai ratusan pengusaha nasional untuk memberi penilaian kepada 21 pemerintah kota (Pemkot) dan pemerintah kabupaten (Pembkab). Penilaian responden di survei itu mencakup 8 variabel, yaitu infrastruktur, dukungan pemerintah daerah, perizinan, ketersediaan atau kemudahan memperoleh lahan, transparansi pajak daerah, tenaga kerja, keamanan berbisnis, serta pelayanan terpadu (kemudahan dan kecepatan layanan publik).

Pemkot Surabaya membukukan skor tertinggi di 3 variabel dari jumlah total variabel tersebut. Responden memberi penilaian ke Pemktor Surabaya sebesar 81,82 di variabel penilaian mengenai tenaga kerja, keamanan berbisnis (81.4), dan pelayanan terpadu (81,10). Skor Pemkot Surabaya di empat variabel lainnya (infrastruktur, dukungan pemerintah daerah, perizinan, dan pajak daerah) bertengger di posisi lima besar. Sedangkan skor di variabel lahan, Pemkot Surabaya hanya meraup nilai 75,96 sehingga menempatkan Kota Pahlawan ini menghuni posisi 14.

Skor tertinggi di variabel lahan disabet Pemkab Tangerang dengan skor 82,71. Pemkab Tangerang juga meraih skor tertinggi di variabel  perizinan 83,21. Adapun, Pemkot Bekasi meraup skor tertinggi di variabel infrastruktur (82,50), Pemkot Palembang meraih nilai tertinggi di variabel dukungan pemerintah daerah (88,08), dan Pemkab Bogor menyabet skor tertinggi di variabel pajak daerah (80,69). Kedelapan variabel merupakan bagian penilaian dari survei Indonesia BCB di tahun ini. Majalah SWA yang menggelar survei itu telah mewawancarai 288 responden yang berprofesi sebagai pengusaha berskala nasional. Responden tersebut terdiri dari pemilik perusahaan yang jumlahnya sebanyak 10 orang, CEO (45), Direktur (81), dan GM atau setingkat Manajer Senior (152). Setiap responden memberi penilaian mengenai tingkat kepuasan dalam berinvestasi di kota/kabupaten yang disurvei ini. Skor penilaian di delapan variabel itu dihitung dalam skala 1-10. Kemudian, data yang terkumpul itu diolah lebih lanjut oleh tim riset SWA. Pengolahan data ini akan menghasilan skor Indeks Best Cities (IBC).

Metode survei Indonesia BCB itu berdasarkan sampel purposive, yakni pengambilan sampel yang telah ditentukan target respondennya dan mewawancarai responden dari kelompok tertentu, yaitu para pengusaha serta pelaku bisnis nasional. Survei dilaksanakan pada Mei-Juli 2016. Sejatinya, hasil survei BCB 2016 menempatkan Jakarta sebagai kota terbaik bagi kalangan pengusaha nasional, dengan pencapaian Indeks Best Cities alias IBC sebesar 80,40. Hanya saja, Jakarta tidak dicantumkan ke peringkat lantaran posisinya sebagai sebagai ibu kota negara dan dipimpin  kepala daerah tingkat I (Gubernur). Jadi, posisi Jakarta dalam survei ini hanya menjadi acuan (benchmark) bagi kota-kota lainnya setingkat Pemkot dan Pemkab.

Tri Rismaharini, Surabaya, Walikota, Green, Taman Kota, Hutan Kota, penghijauan, kebijakan, leadership Tri Rismaharini

Sedangkan, Kota Surabaya di Indonesia BCB tahun ini memuncaki posisi pertama dan menjadi kota bisnis terbaik lantaran meraup skor IBC sebesar 80,16. Skor itu lebih tinggi 2-3 poin dari skor Kabupaten Bogor (78,26), Kota Tangerang (78,25), Kota Malang (77,83), dan Kabupaten Tangerang (77,46), yang berturut-turut berada di peringkat kedua hingga urutan kelima.

Rahma Gafmi, dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga menyebutkan Kota Surabaya merupakan pintu gerbang utama bagi perdagangan di Indonesia bagian Timur. ”Potensi, fasilitas, dan posisi geografis Surabaya membuat  pertumbuhan ekonominya semakin pesat. Sektor primer, sekunder, dan tersier di Surabaya semakin memperkokoh Surabaya sebagai kota perdagangan dan ekonomi,” ucap Rahma. Berbicara potensi ekonomi, sektor jasa dan perdagangan di kota ini berpeluang besar untuk berkembang di masa mendatang.

Kota Surabaya dikelilingi berbagai pusat industri yang diantaranya terdiri dari pusat industri logam dan pengolahan hasil-hasil pertanian. Pusat industri itu, “Juga didukung infrastruktur yang memadai,” kata Rahma. Belakangan ini, Pemkot Surabaya mengembangkan industri kreatif. Kota Surabaya, Rahma menambahkan, adalah replikanya Kota Jakarta dari segi bisnis dan perekonomian. Menurutnya, produk domestik regional bruto (PDRB) Kota Surabaya membukukan PDRB tertinggi diantara daerah-daerah lainnya di Jawa Timur. PDRB Surabaya pada 2014 sebesar Rp 365 triliun. Enny Sri Hartati, pengamat ekonomi dari INDEF, menyebutkan Kota Surabaya merupakan daerah yang pertumbuhan ekonominya cukup menonjol. Kota ini merupakan kawasan pesisir yang daerah penyangganya juga terkoneksi dengan laut, seperti Lamongan, Malang, Sidoarjo, dan Pasuruan. (*)

Reportase : Tiffany Diahnisa & Nerissa Arviana.

Riset : M. Khoirul Umam.

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)