Investasi Makin Kencang di Semarang

Jakarta, Surabaya, Bandung, menjadi buruan para investor lokal maupun asing seiring pesatnya pertumbuhan di ketiga kota tersebut. Namun, Semarang mulai mencuri perhatian di tengah maraknya pembangunan infrastruktur.

Dari data Badan Penanaman Modal Daerah (BPMD) Jawa Tengah, ada 162 perusahaan asing yang berinvestasi di Kota Semarang sepanjang semester I-2016. Nilainya mencapai US$ 57,4 juta. Semarang menjadi kota dengan jumlah proyek PMA paling banyak diantara kota dan kabupaten lain di Jawa Tengah.

“Dari data statistik, investasi dari 2010-2015 naik terus. Saat ini, investasinya sudah sekitar Rp 9 triliun di 2015,” kata Walikota Semarang, Hendrar Prihadi.

walkot semarang

Dia memerkirakan investasi di Kota Semarang akan melonjak tajam menjelang 2018 mendatang. Hal ini seiring rampungnya renovasi Bandara Internasional Ahmad Yani, tol Pemalang-Semarang dan tol Semarang-Demak.

Pada saat yang sama, PT Pelabuhan Indonesia (Persero) III juga sudah merenovasi Pelabuhan Tanjung Emas dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) menyelesaikan revitalisasi jalur kereta sehingga jarak Jakarta-Surabaya hanya makan waktu 5 jam.

“Artinya, ke Semarang hanya butuh waktu 2,5 jam. Harapannya, akan ada lonjakan ekonomi dengan adanya arus penumpang dan barang yang meningkat,” kata dia.

Menurut Hendrar, Semarang memiliki visi menjadi kota perdagangan dan jasa agar rakyatnya lebih sejahtera. Program pengembangan ekonominya difokuskan pada dua sektor tersebut. Meski begitu, pemerintah daerah tetap memelihara 9 kawasan industri yang banyak menyerap tenaga kerja.

“Penyerapan tenaga kerja terus meningkat. Tahun 2016 saja, ada kebutuhan tenaga kerja sebanyak 6.000 pegawai. Kami membuat percepatan pembangunan dan perizinan untuk menarik investor,” katanya

Sejauh ini, industri tekstil menyerap hingga ribuan tenaga kerja. Industri lain yang mulai naik daun adalah pengelolaan kayu dan makanan kecil. Semarang juga semakin semarak dengan akan hadirnya hotel bintang 5 dari Group Sido Muncul. Itu belum termasuk kehadiran peritel besar, seperti Carrefour, Superindo, yang kelas menengah yakni Indomaret dan Alfamart.

“Untuk kuliner memang lebih banyak dari lokal dan juga franchise. Tapi, belum sebanyak di kota-kota lain,” ujar dia.

Ia berharap pendapatan asli daerah akan terus naik seiring meningkatkan aktivitas ekonomi. Pada tahun 2010, PAD Kota Semarang baru Rp 320 miliar. Angkanya sudah naik menjadi Rp 1,2 triliun di tahun 2015. “Tahun ini, kami targetnya Rp 1,5 triliun,” kata dia. (Reportase: Sri Niken Handayani)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)