Karpet Merah Untuk Investor di Banyuwangi

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas membeberkan beragam programnya untuk mendukung dunia bisnis. Selain terus membangun infrastruktur, perizinan juga dipermudah. Investor juga bisa mendapatkan insentif pajak.

“Infrastruktur seperti jalan, bandara, pelabuhan, dan sumber daya air. Termasuk, infrastruktur IT. Tiap tahun, kami membangun jalan rata-rata 300 kilometer. Tapi, masih kurang karena Banyuwangi adalah daerah terluas di Pulau Jawa,” katanya.

Bandar Udara Blimbingsari terus dikembangkan. Sejak operasional pertama tahun 2010, panjang landasan sudah mencapai 2.250 meter. Jumlah penumpang yang lalu-lalang melonjak tajam hingga kapasitas terminal harus ditingkatkan. Nah, pembangunan terminal akan dipadukan dengan pasar untuk memperkuat industri pariwisata.

Untuk mendukung investor yang ingin menanamkan dananya di sektor agribisnis, lanjut dia, Pemkab Banyuwangi juga terus memperbaiki dan menambah saluran irigasi. Saat ini, sudah lebih dari 1.000 saluran irigasi yang diperbaiki. Tahun ini, mereka menargetkan pembangunan 10 embung dan 7 bendung.

“Tak kalah penting adalah infrastruktur IT. Kami membuat program smart kampung agar TI bisa masuk desa. Itu semua adalah dukungan Pemda untuk meningkatkan daya saing usaha,” katanya.

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas

Di sektor agribisnis, Banyuwangi adalah sentra produksi beras dan hortikultura di Jawa Timur. Setiap tahun, mereka surplus beras lebih dari 220 ribu ton. Pemda tengah mengembangkan plasma nutfah 20 jenis padi organik lokal, 16 diantaranya beras merah dan 4 lainnya beras hitam. Beras merah organik telah diekspor ke sejumlah negera seperti Amerika Serikat, Qatar, dan Jepang.

Yang menarik, Pemkab Banyuwangi siap memberikan insentif untuk investor yang berkontribusi pada peningkatan pendapatan masyarakat, menyerap banyak tenaga kerja lokal, dan menggunakan sebagian besar sumber daya alam sekitar.

Termasuk, untuk yang memberi kontribusi terhadap peningkatan pelayanan publik, kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), berwawasan lingkungan berkelanjutan, serta bermitra dengan UMKM dan Koperasi.

“Bentuk insentif berupa pengurangan, keringanan, atau pembebasan pajak daerah; pengurangan, keringanan, atau pembebasan retribusi daerah. Ada juga kemudahan dan penyediaan data serta informasi penanaman modal sektor potensial dan peluang kemitraan,” ujar Azwar.

Saat ini, Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) direalisasikan berdasarkan Perda No 6 Tahun 2011 dan Peraturan Bupati No 63 Tahun 2011 dengan dukungan sarana dan prasarana yang memadai. Inovasinya, sistem informasi manajemen kini terintegrasi dengan satuan kerja dan perbankan. Ada juga SMS gateway, pendaftaran izin secara online (SIPO), pengaduan di website, help desk, dan call center.

“PDRB Banyuwangi terus meningkat dari Rp 32,46 triliun di tahun 2010 menjadi Rp 60 triliun di tahun 2015. Pendapatan perkapita masyarakat Banyuwangi melonjak dari Rp 20,8 juta (2010) menjadi Rp 37,53 juta,” kata dia.

Dari sisi kapasitas fiskal, APBD Banyuwangi juga terus membesar. Belanja pemerintah dari hanya Rp 1,29 triliun di tahun 2010, telah naik menembus Rp 3 triliun hingga akhir 2015 lalu. Perkembangan bisnis ini juga terlihat dari kenaikan penyaluran kredit perbankan dari hanya Rp 3,29 triliun menjadi Rp 9,43 triliun pada periode yang sama. (Reportase: Tiffany Diahnisa)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)