Ridwan Kamil: Bandung Makin Probisnis

Lain dulu, lain sekarang. Bandung kini lebih probisnis. Investasi baru menyerbu Kota Kembang. Walikota Bandung, Ridwan Kamil, adalah orang dibalik kemajuan Bandung seperti halnya Surabaya yang sukses di tangan Tri Rismaharini.

“Kami melakukan revolusi kemudahan bisnis dengan menghilangkan izin untuk bisnis di bawah Rp 500 juta. Mereka cukup melapor melalui aplikasi yang bernama Gampil yang bisa di-download lewat Android maupun iOS,” katanya.

Pria yang akrab disapa Kang Emil itu menyebutkan, sejak dirilis Januari 2016, saat ini sudah ada
30.000 pelaku bisnis yang telah mendaftarkan bisnisnya. Tak terhitung berapa banyak tenaga kerja yang terserap. Gampil adalah kependekan dari Gadget Mobile Application for Licence.

Aplikasi ini diluncurkan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung pada 25 Februari 2016. Bandung dianggap sebagai kota pertama yang meluncurkan aplikasi pendaftaran untuk usaha kecil-menengah (UMK) ini. Dengan Gampil –dalam bahasa Sunda, gampil artinya gampang- para pelaku usaha tidak perlu bolak-balik memboyong dokumen ke kantor pemerintahan. Cukup dengan mengunduh aplikasinya, mereka bisa melakukan semua tahapan proses pendaftaran dari mana saja.

Ridwan Kamil(utama)

Aplikasi ini juga sudah terhubung dengan perbankan. Dengan legalitas tersebut, perbankan telah siap menyalurkan kredit usaha rakyat (KUR) dan kredit mikro bila diperlukan. Intinya, program Gampil memberikan proteksi dan pemberdayaan potensi ekonomi lokal bagi warga yang ber-KTP Bandung.

“Kami juga melakukan pemberian kredit mikro sampai Rp 30 juta tanpa agunan dan bunga berbunga. Setahun dirilis, pemakainya sudah 10.000 orang. Yang tidak mampu, ada kredit melati singkatan dari melawan rentenir,” kata alumni Jurusan Teknik Arsitektur ITB itu.

Dari segi pemasaran, Kang Emil memiliki branding untuk Kota Bandung, yakni Little Bandung. Untuk yang berwujud toko fisik ada Flexi Store yang sudah merambah Malaysia, Korea, dan Prancis. Saat ini, mereka tengah fokus mengembangkan e-commerce.

“Kami bekerjasama dengan Tokopedia untuk penetrasi pasar lokal. Sudah ada 16 juta transaksi, 10 jutanya barang dari Bandung dibeli keluar dan 6 jutanya barang dari luar dibeli orang Bandung,” ujar dia.

Untuk meningkatkan penetrasi ke pasar ASEAN seiring pasar bebas (MEA), lanjut dia, Pemkot Bandung diajak bekerjasama dengan Facebook sejak Februari 2016 lalu. Sementara, kerjasama dengan Tokopedia sudah berlangsung sejak Mei 2016 lalu.

“Kami unggul di kreativitas sehingga memberi nilai tambah besar. Jadi, lebih ke perdagangan. Kelebihan kami adalah menghasilkan produk kreatif seperti baju, kuliner, desain, dan wisata. Sebanyak 60% bisnis adalah UKM,” ujar Kang Emil.

Saat ini, Pemkot Bandung tengah membangun Silicon Valley di tanah seluas 600 hektare yang bernama Bandung Teknopolis. Ini untuk mengundang pelaku ekonomi global di bidang teknologi informasi. Pebisnis yang ingin buka kantor, pebisnis dunia tinggal datang ke Bandung Teknopolis. (Reportase: Aulia Dhetira)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)