Bintang Mas Triyasa, Berinovasi dan Bangun Merek untuk Tangkap Peluang

Audrie Soekoco

Jangan remehkan produk bulu mata palsu (false eyelashes) yang dibuat di sentra produksinya di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Berkat produk ini, PT Bintang Mas Triyasa (BMT), produsennya, bisa menyediakan lapangan kerja untuk ribuan warga Purbalingga. Dengan mengekspor produk ini pula, pada 2017 BMT berhasil menggaet nilai penjualan US$ 12 juta. Bukan itu saja, produk bulu mata palsu buatan BMT pun dipakai para artis kelas dunia, seperti Madonna dan Katy Perry. BMT juga merupakan pemain yang diperhitungkan di kancah industri bulu mata palsu dunia.

Siapa sangka BMT bisa berkembang dan produknya bisa kondang seperti sekarang. Bisnisnya dimulai pada 2008 dengan hanya mempekerjakan 50 orang. Yang pasti, BMT memang perusahaan lokal Indonesia yang menjadi pionir bisnis bulu mata palsu. Saat ini BMT mempekerjakan sekitar 1.800 karyawan. Selain itu, juga menggandeng sekitar 4.000 pengrajin di desa-desa sekitar. Produk bulu mata palsu ini 100% merupakan hasil kerajinan tangan (handmade). “Kami telah berhasil memproduksi 1 juta pasang bulu mata palsu dalam dua tahun terakhir,” kata Audrie Soekoco, Presdir BMT.

Menurut Audrie, banyak kesempatan di pasar yang bisa dimanfaatkan pihaknya. Indikasinya, pertumbuhan industri kosmetik global selalu positif, per tahun hingga dua digit. Selain itu, juga ada perkembangan media sosial, sehingga informasi dapat menyebar dengan cepat dan dalam skala masif. Apalagi, dikatakannya, selama 10 tahun terakhir, perkembangan di industri bulu mata palsu belum signifikan, karena sejauh ini cuma perubahan model. “Jadi, kami melihat potensi dan peluang untuk produk-produk inovatif,” ujarnya.

Namun, Audrie menyebutkan, produsen bulu mata palsu menghadapi sejumlah tantangan. Yang paling utama, dalam penyediaan bahan baku. “Kami terpaksa masih harus impor bahan baku, baik dari Korea, Jepang, maupun China,” ungkapnya. Sudah begitu, dalam dua tahun terakhir banyak terjadi perubahan regulasi impor, sehingga BMT merasakan adanya hambatan dalam proses impor bahan baku.

Tantangan lainnya, kata Audrie, situasi ekonomi global yang sulit diprediksi dan adanya persaingan harga dengan kompetitor dari China dan Vietnam. “Mereka berusaha memberikan harga yang lebih murah dibandingkan kami,” katanya.

Nah, untuk menghadapi tantangan sekaligus mengisi peluang yang terbuka, BMT melakukan sejumlah langkah. Pertama, mendirikan pusat inovasi, dengan tim R&D khusus untuk mengembangkan produk inovatif, dan berciri consumer-oriented. “Ini akan menjadi backbone aktivitas produksi kami,” ujar Audrie. Ada sekitar 50 orang yang bekerja di unit ini. Unit ini pun bekerjasama dengan sejumlah make-up artist, dengan alasan merekalah yang mengetahui perkembangan industri bulu mata palsu di pasar.

Di tahun 2018, ada sejumlah produk inovatif yang dihasilkan BMT. Di antaranya, Ultra-Dramatic Luxe Faux Mink, yakni bulu mata palsu yang memberikan kesan dramatis dan penuh.

Lalu, yang cukup menarik adalah produk yang diberi nama Snap on Magnetic Lashes 2.0. Produk ini dibuat karena mengetahui banyak orang yang tidak mau memakai bulu mata palsu lantaran sulit dan ribet karena mesti menggunakan semacam lem. “Kami menciptakan produk ini dengan menggunakan magnet,” kata Audrie. “Produk ini ternyata mendapatkan respons bagus di pasar,” ia menambahkan.

Langkah lainnya, membangun merek (build the brand). “Kami ingin lebih dari sekadar tukang jahit, dan ingin menjadi desainer. Karena itu, kami membangun merek,” ujar Audrie. Pihaknya telah membangun brand korporat Eyelashes World. “Kami dikenal dengan brand ini di pasar global,” katanya. Lalu, dari sisi produk, BMT memperkenalkan D'eyeko sebagai produk premium bulu mata palsu, yang sudah dipasarkan di Timur Tengah, Amerika Latin, dan Eropa Timur.

Selain itu, seiring dengan tren go green, BMT juga membangun green factory. Praktiknya antara lain menerapkan waste water treatment untuk pengolahan limbah dan menerapkan ISO 14.000. Dalam konteks lingkungan sosial, perusahaan ini pun telah bergabung dalam Business Social Compliance Initiative.

Dari segi kinerja bisnis, Audrie menyebutkan bahwa nilai penjualan sebesar US$ 12 juta pada 2017 merupakan pencapaian tertinggi BMT selama ini. Ia mengaku ingin lebih baik lagi pada 2018, dengan menargetkan penjualan sebesar US$ 15 juta. (*)

Joko Sugiarsono & Anastasia A. Suksmonowati

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)