Omyra Global Resources, Mengolah Limbah Menjadi Berkah Mendunia

Ali Burhan Haryotomo, CEO CV Omyra Global Resources

Bagi sebagian orang, tempurung kelapa hanyalah limbah yang tempatnya di tong sampah. Namun, bagi sebagian orang lainnya, tempurung kelapa bisa dibuat menjadi arang yang kemudian dipres dan dibentuk kotak menjadi briket arang. Seperti halnya briket batu bara, briket gambut, dan briket biomass, briket arang pun bisa digunakan sebagai bahan bakar untuk memulai dan mempertahankan nyala api.

Adalah Ali Burhan Haryotomo, CEO CV Omyra Global Resources, yang mengolah limbah tersebut menjadi berkah yang mendunia. Pria yang pernah enam tahun tinggal di Jerman untuk menyelesaikan pendidikan S-1 dan S-2 ini tergerak menjadikan limbah tempurung kelapa sebagai briket arang yang sangat dibutuhkan negara-negara yang memiliki musim dingin seperti di Eropa atau Amerika.

Maka, di tahun 2012, Ali mulai bergerak. Setelah briket arang tempurung kelapa jadi, ia segera memasukkannya ke lembaga uji laboratorium nasional dan internasional agar memperoleh standardisasi produk yang teruji. Dan setahun kemudian, 2013, usaha ekspor briket arang di bawah naungan CV Omyra ini sudah berhasil menembus pasar Amerika. “Sebagai perusahaan skala UKM, kami senang berhasil menembus pasar ekspor, bahkan bisa bertahan dan berkembang sampai sekarang,” ucapnya bangga.

Apa rahasia suksesnya? Dikatakan Ali, ada empat langkah strategis untuk menggarap pasar global. Yang pertama, mengurus legalitas. Sejak awal mendirikan perusahaan, ia sudah mengurus semua legalitas yang diberikan, termasuk yang utama: Nomor Identitas Kepabeanan (NIK), sebagai syarat untuk bisa ekspor secara langsung menggunakan bendera sendiri. Kedua, membuka rekening bank atas nama perusahaan. Ketiga, menyertifikasi produk. Keempat, membuat website resmi perusahaan dengan bahasa Inggris untuk mendisplai produk, juga menampilkan sertifikat yang dimiliki. Di luar itu, yang tak kalah penting, ketika menggarap pasar global, harus menampilkan contact person dan membuat surat elektronik yang bersandar pada website perusahaan.

Setelah menyiapkan langkah-langkah strategis itu, selanjutnya menggarap strategi pemasaran. Yang dilakukan Omyra lima tahun lalu: bergabung dengan Alibaba.com yang masih membuka free member. “Dari Alibaba.com saya aktif menawarkan produk dan berkomunikasi dengan calon-calon pembeli yang tertarik,” kata Ali. Biasanya buyer meminta pengiriman contoh produk berikut sertifikasinya. “Ketika negosiasi dan menunjukkan progress, biasanya buyer meminta legalitas perusahaan. Lalu, ketika terjadi deal dan melakukan penandatanganan sales kontrak, kami memberikan nomor rekening atas nama perusahaan sebagai media transfer down payment dan pembayarannya,” Ali memaparkan.

Intinya, eksportir harus profesional dan bonafide. Kunci kesuksesan ekspor hanya satu: adanya kepercayaan. Kepercayaan ini bisa dicapai dengan dua hal, yaitu jaminan kualitas produk yang stabil dan jaminan harga yang tidak berubah. Untuk itu, Omyra menjalankan strategi yang dibagi menjadi tiga bagian. Pertama, bagian hulu, yakni pemasok arang, harus aman. “Kami melakukan kerjasama dengan petani arang dengan memberikan bantuan peralatan kerja,” kata Ali. Kedua, mekanisme internal, dengan menerapkan kontrol kualitas dari proses awal sebelum produksi, masa produksi, hingga di proses akhir pengemasan sebelum dimuat ke kontainer. Dan ketiga, bagian hilir, harus bisa memberikan jaminan stabilitas kualitas ataupun stabilitas harga.

Untuk melahirkan kepercayaan, tentu saja Omyra juga harus berani menerima konsekuensi. Misalnya, jika buyer menemukan produk di bawah standar, dengan bukti yang dipertanggungjawabkan, Omyra harus memberikan ganti penuh. Konsekuensi lain, Omyra harus memberikan jaminan stabilitas harga selama satu tahun, saat memberikan harga di kontrak jual-beli.

Sebuah konsekuensi NIK yang tidak mudah bagi Omyra. Pasalnya, sebagai pemain baru, Omyra sering menjumpai banyak hambatan. Seperti diketahui, briket arang merupakan hasil dari alam karena bahan bakunya batok kelapa. Ketika produksi limbah kelapa ini menurun, otomatis persediaan bahan baku menurun. Selain itu, ketika musim hujan, kualitas bahan baku juga menurun karena kurang kering, dan sebagainya.

Namun, dengan memegang teguh prinsip-prinsip bisnis dan keyakinan, selama 2012-18 Omyra yang memiliki 111 karyawan berhasil mengirimkan total 162 TEU, sebagian besar, 60%, dikirim ke Eropa (terutama Jerman), 30% ke Amerika, dan sebagian kecil 5% ke Timur Tengah, dengan nilai penjualan hingga saat ini sebesar hampir US$ 1 juta. “Dan di tahun 2018, kami akan membukukan rekor baru melebihi apa yang sudah kami capai sebelumnya,” ujar Ali yang menargetkan ekspor 2018 mencapai 100 kontainer 20 kaki.

Ini yang membanggakan Ali. Apalagi, briket arang batok kelapa termasuk komoditas baru yang relatif tidak terpengaruh oleh krisis global. “Tidak ada efek signifikan terhadap permintaan, cuma ada efek perlambatan pertumbuhan permintaan,” katanya menegaskan.(*)

Dyah Hasto Palupi dan Sri Niken Handayani

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)