Sekar Bumi Integrasikan Bisnis Udang dari Hulu ke Hilir

Harry Lukmito Harry Lukmito , Presdir PT Sekar Bumi Tbk

Tahun ini PT Sekar Bumi Tbk. kembali meraih Primaniyarta Award. Ini merupakan penghargaan ke-5 kalinya secara berturut-turut yang diterima Sekar Bumi sejak 2013. Pada 2013, Sekar Bumi memperoleh penghargaan untuk kategori Pengembang Pasar Global (Global Brand Developer). Pada 2014 hingga tahun ini, perusahaan di bidang manufaktur dan distributor produk makanan beku tersebut berhasil menyabet penghargaan untuk kategori Eksportir Berkinerja (Extraordinary Performance). “Saat ini ekspor terbesar kami masih udang,” ujar Harry Lukmito, Presdir Sekar Bumi.

Selain udang, Sekar Bumi telah mengembangkan dan mengekspor produk makanan beku olahan lainnya, seperti tempe frozen, pecel frozen, dan pete frozen. Namun, menurut Harry, karena ekspor makanan beku tersebut baru dimulai sekitar lima tahun lalu, angkanya belum terlalu besar. “Masih kecil, dan pertumbuhan per tahunnya hanya 20%,” katanya agak merendah.

Jika dilihat dalam gambaran lebih besar, pada 2016 nilai ekspor Sekar Bumi tercatat US$ 102,54 juta. Harry menyebutkan, dalam lima tahun terakhir ini tren ekspornya meningkat 4,32%. Hampir seluruh produk Sekar Bumi saat ini memang ditujukan untuk pesar ekspor. “Rata-rata porsi ekspor kami 85%,” katanya. Negara tujuan ekspornya antara lain Amerika Serikat, negara-negara Eropa, Jepang, dan Korea.

Gebrakan Sekar Bumi tahun ini antara lain mengintegrasikan bisnis udangnya, mulai dari hulu ke hilir. Sekar Bumi memutuskan masuk ke dalam bisnis benur (bibit udang) atau pengembangbiakan udang (hatchery), budidaya tambak udang (akuakultur), pakan udang, nutrisi untuk udang (probiotik), pabrik pengolahan udang (processing), hingga distribusi produknya.

Sekar Bumi menganggap aspek rantai pasok sangat penting dalam menunjang aktivitas ekspor. Di antaranya, agar pembeli semakin yakin untuk memilih produknya. “Perusahaan besar di luar negeri, khususnya di AS, menginginkan traceability atau kemudahan dalam melacak produk. Karena itu, kami berusaha menyediakannya,” kata Harry.

Dengan adanya integrasi bisnis tersebut, Sekar Bumi bisa mendapatkan sertifikat bintang empat best practice di bidang akuakultur. Sertifikasi ini, kata Harry, dinilai penting agar pihaknya bisa memasok ke jaringan ritel besar di AS seperti Wal-Mart dan Fish.co. “Pada 2020, hal seperti ini akan menjadi kewajiban, bahwa setiap eksportir seperti kami harus bisa memenuhi syarat untuk bisa memasok ke ritel besar mereka,” ujarnya.

Pada April 2017, Sekar Bumi mendirikan perusahaan patungan bersama perusahaan agrikultur asal Tiongkok, Liaoning Wellhope Agri Tech Joint Stock Co. Ltd., untuk memperkuat bisnis di sektor hulu. Kedua perusahaan sepakat berbagi porsi saham dalam mengembangkan anak usaha Sekar Laut yang bergerak dalam bisnis pakan udang, PT Karka Nutri Indonesia. Setelah masuknya Wellhope, nama Karka akan berubah menjadi PT Sekar Golden Harvesta Indonesia. Masuknya Wellhope, kata Harry, diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi perusahaan pakan udang itu menjadi dua kali lipat.

Selain memperkuat rantai pasok dari hulu ke hilir, Sekar Bumi juga terus mengupayakan pengembangan pasar ekspor baru melalui berbagai produk olahan baru seperti frozen hakao warna warni, shrimp/seafood bomb, dan fruit spring roll. “Negara destinasi ekspor baru adalah Republik Dominika untuk udang dan Australia untuk makanan olahan,” katanya.

Menurut Harry, isu perlambatan ekonomi global tidak terlalu berpengaruh terhadap penjualan. Ia mengungkapkan, permintaan pasar untuk produk udang termasuk stabil dan positif. Berdasarkan data dari U.S. Department of Commerce, Bureau of the Census, jumlah impor udang AS tahun 2016 menunjukkan sedikit kenaikan, dan impor udang dari Indonesia menduduki peringkat ke-2, setelah India.

Sebagai perusahaan yang banyak mengekspor produknya ke Negeri Abang Sam, Harry mengaku Sekar Bumi tidak merasakan adanya penurunan penjualan. Namun, diakuinya, perlambatan ekonomi global itu memengaruhi strategi pricing. “Jika harganya naik, konsumen akan beralih ke produk lain,” ungkapnya.

Dari segi kinerja, penjualan produk Sekar Bumi mengalami kenaikan,19%, dari Rp 1,36 triliun di tahun 2015 menjadi Rp 1,50 triliun di tahun 2016. Dari angka itu, penjualan sebesar 90,88% adalah penjualan ekspor, sisanya penjualan lokal.

Adapun penjualan ekspor Sekar Bumi naik 8,24%, dari Rp 1,26 triliun di tahun 2015 menjadi Rp 1,36 triliun di tahun 2016. Penjualan lokal pun naik, yakni sebesar 33,91%, dari Rp 103,56 miliar di tahun 2015 menjadi Rp 138,68 miliar di tahun 2016.

Tahun 2017, hingga Juni, penjualan Sekar Bumi mencapai Rp 927 miliar atau naik 32% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 704 miliar. “Kami berharap hingga akhir tahun ini penjualan bisa tumbuh hingga 30%,” kata Harry. (*)

Reportase: Arie Liliyah dan Anastasia Anggoro Sukmonowati

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)