Seken Living, Menembus Pasar Global dengan Kreasi Kayu Tua

Jangan anggap remeh kayu jati bekas. Di tangan orang kreatif, kayu jati bekas bisa jadi barang yang bernilai. Bahkan, produk hasil kreativitasnya bisa dipasarkan ke mancanegara.

Ferryal & Vera

Adalah Seken Living atau CV Seken, sebuah perusahaan yang berupaya melestarikan lingkungan dan berkomitmen untuk menggunakan kayu jati reklamasi sebagai material utama dalam industri mebel. Perusahaan mebel yang berbasis kayu solid ini berdiri sejak 2014 di Yogyakarta. Di Kota Pelajar inilah, kantor utama dan pabriknya berada. Adapun ruang pajangnya berlokasi di Bali. Tahun depan, perusahaan ini akan membuat ruang pajang juga di Yogya.

Buah karya Seken Living telah diekspor sejak 2015 ke berbagai negara. Antara lain, Singapura, Malaysia, Australia, Taiwan, China, Korea Selatan, India, Rusia, Uni Emirat Arab (Dubai), Mesir, Turki, Afrika Selatan, Belanda, Prancis, Yunani, Ceko, Kanada, dan Amerika Serikat.

Visi kami menjadi perusahaan ekspor yang profesional yang mampu bersaing di pasar global. Sedangkan misi kami membangun lingkungan kerja yang profesional dan produktif, memproduksi furnitur yang berkarakter dan berkualitas, membangun kepercayaan konsumen, dan melayani dengan hati,” kata Ferryal, CEO sekaligus pemilik Seken Living.

Karena memanfaatkan kembali kayu-kayu tua yang didapat dari rumah dan bangunan tua, Seken Living tidak melakukan penebangan pohon. Kayu tua yang rusak menjadi daya tarik dan tantangan untuk dieksplorasi menjadi produk yang sangat berharga dan mengandung unsur sejarah. “Bermula dari satu konsep yang unik, kami mencoba mengangkat cerita dan memori masa lalu, dengan berbagai koleksi furnitur dan dekorasi untuk hunian dengan gaya desain rustik dan antik,” ungkap Ferryal.

Awalnya, Seken Living fokus membuat mebel seperti meja dan lemari. Di tahun-tahun berikutnya, ada pengembangan ke produk dekorasi dengan menggunakan akar jati. Selanjutnya, melakukan pengembangan dengan membuat tableware kayu yang diberi hiasan ukiran, seperti piring, sendok, dan mangkuk. “Dan di dua tahun terakhir, kami develop juga produk lighting serta produk fabric (kain) dan anyaman,” kata Ferryal sambil menambahkan, kapasitas produksinya mencapai 8 x 40 kaki persegi/bulan.

Bagaimana strategi pemasarannya? Dikatakan Ferryal, Seken Living mengikuti banyak pameran, di antaranya Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2015-18, Trade Expo Indonesia 2016, dan Crafina 2017. Sementara untuk pemeran internasional, antara lain mengikuti pemeran Imm Cologne 2017-2018 dan Ciff Shanghai 2017. Selain itu, juga aktif melakukan pemasaran melalui e-catalog, e-commerce, serta media sosial seperti Intasgram @sekenliving @sekenwood, dan website www.sekenliving.com. “Kami juga telah menerima beberapa penghargaan, yaitu Best Stand Award 2015 dan Best Product Award IFEX 2016,” ujar perempuan asli Madura itu.

Tantangan yang dihadapinya saat ini yaitu persaingan bisnis global. Seperti kita ketahui, China bisa menjual produk yang sangat murah. Bahkan di Indonesia, produk mebel kebanyakan dari China. “Tapi kami menang dari segi kualitas dan material. Kami punya kayu jati, dan jelas kualitasnya bisa bersaing di pasar global. Tip untuk menghadapi tantangan ini adalah dengan kreativitas dan kami selalu develop desain baru setiap tahunnya,” kata Ferryal.

Kinerja bisnisnya pun terus tumbuh. Di 2015 (sejak mulai ekspor), perusahaan ini berhasil meraih omset Rp 8 miliar dan terus meningkat hingga saat ini: per September 2018, mencapai Rp 22 miliar. “Kami optimistis hingga akhir tahun ini target kami bisa mencapai Rp 30 miliar,” Ferryal menandaskan. Saat ini, karyawan Seken Living ada 90 orang di bagian produksi dan 30 orang staf.(*)

 Dede Suryadi dan Sri Niken Handayani

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)