Seloagro , Melestarikan Kerajinan Rotan, Merajut Pasar Dunia

Marselinus Silimalar

Berwirausaha telah lama menjadi impian Marselinus Silimalar. Kendati sudah memiliki profesi sebagai programmer, Marselinus yang berpendidikan D-1 Analis Sistem Komputer tetap mengejar impiannya itu. Setiap ada kesempatan bisnis, tanpa ragu-ragu ia mencoba menggelutinya. “Sudah beberapa usaha saya rintis, semua berakhir bangkrut karena pengelolaan yang tidak maksimal dan juga ditipu oleh kawan sendiri,” ungkap pria yang penuh semangat ini.

Hingga suatu ketika Marselinus menemukan peluang bisnis kerajinan rotan. Walaupun tidak memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang rotan, juga tidak tahu seluk-beluk bisnis rotan,

feeling-nya mengatakan: harus dicoba dan pasti mampu menjalankannya. Apalagi, ia melihat bisnis kerajinan rotan punya prospek bagus karena menawarkan keunikan Indonesia. Selain itu, kerajinan rotan juga makin mendapat tempat di hati rakyat Indonesia.

Keyakinan Marselinus ternyata benar. Dari awal produksi tahun 2009, permintaan pasar sangat tinggi, yang justru datang dari negara-negara Eropa dan Amerika. Hal itu memunculkan semangat kuat menjadi pemain besar di bidang kerajinan rotan. Bahkan, agar fokus menjalankan usaha, ia pun memutuskan mundur dari pekerjaan yang sudah memberinya gaji dan kedudukan cukup bagus. “Membangun bisnis tidak bisa setengah-setengah. Saya harus fokus dan total,” ucapnya mengenang tekadnya sembilan tahun lalu, saat mulai merintis usaha dari sebuah rumah kecil di Tangerang.

Dengan melibatkan lebih dari 100 penganyam ahli yang berasal dari beberapa daerah, antara lain Curug, Tangerang, kini Seloagro memproduksi berbagai jenis keranjang rotan untuk rumah & dekorasi, keranjang untuk tanaman seperti pot, storage (kotak serba guna), sampai keranjang sepeda dan aksesori. Sebanyak 65-70% produknya menggunakan bahan rotan natural dengan sedikit kombinasi serat alam. “Kami sangat terbuka dengan custom product dan desain baru,” ungkap Marselinus. Mulanya, ia fokus menggunakan bahan rotan alami, tetapi sekarang mulai menggarap kerajinan dari bahan rotan sintetis.

Dari hasil produk Seloagro, 95% untuk memenuhi permintaan pasar ekspor. Eropa --Belanda, Inggris, Jerman, Italia, dan Republik Ceko-- masih paling banyak menyerap produk buatan Tangerang tersebut, yaitu 80%. Selebihnya, 10% diterima pasar Amerika dan 5% lainnya untuk beberapa negara, antara lain Australia dan Afrika Selatan.

Bagi Marselinus, menggarap pasar ekspor itu susah-susah gampang. Betapapun, konsumen menginginkan keranjang rotan terbaik, harga terbaik, kecakapan pekerjaan terbaik, juga ketepatan waktu. Untuk itu, ia benar-benar menjaga kepercayaan dengan fokus pada kualitas produk dari awal produksi sampai selesai untuk memastikan pelanggan puas menerima produk yang diinginkan.

Pengembangan produk memang menjadi tantangan. Mengapa? “Karena, saya buta sama sekali dengan rotan dan tidak bisa menggambar,” ujar Marselinus mengakui. Ia pun menyiasatinya dengan menerima ide dan riset dari konsumen. “Jadi, kalau konsumen ingin membuat seperti apa, ya kami harus mau,” ujarnya. Yang berarti, baik pelanggan maupun Seloagro sama-sama diuntungkan. Biasanya produk baru hasil ide/riset konsumen hanya akan diproduksi terbatas dan diberikan ke konsumen loyal terlebih dahulu. Jika tertarik, mereka akan mendapatkan hak eksklusif pemasarannya.

Marselinus mengakui, mengelola pasar ekspor kini makin menantang. Untuk mendapatkan customer besar, hambatannya ialah keharusan lulus Social Complience Audit. “Padahal, untuk lulus audit, kami diwajibkan mempunyai gudang/workshop/pabrik dengan standar kelayakan tinggi,” katanya. Hal itu, menurutnya, cukup memberatkan bagi perusahaan dengan skala UKM karena modal terkuras banyak untuk membangun pabrik dan untuk produksi.

Sejak krisis yang melanda Eropa (Yunani, Spanyol, dan Italia) beberapa tahun lalu, Seloagro juga harus pintar berakrobat menyiasati keadaan. Misalnya, ketika pada 2015 permintaan menurun drastis hingga 50% karena banyak pelanggan yang mengerem belanja kebutuhan sekunder, pihaknya menyiasatinya dengan menawarkan harga yang lebih murah untuk produk yang sama tetapi dengan kualitas bahan nomor dua (kw2) sehingga bisa menghemat bahan baku.

Karena itu, Marselinus mengatakan, Seloagro harus tetap kreatif. “Dalam situasi krisis ekonomi, kami harus tetap kreatif mencari ide, melakukan eksperimen agar produk-produk selalu fresh atau berbeda dengan pesaing,” ujarnya. Contohnya, mengembangkan rotan merah setelah berhasil mengembangkan rotan hitam. Intinya, perusahaan harus berani melakukan inovasi dan eksperimen agar menghasilkan produk yang sangat menarik dengan harga terjangkau.

Ajang pameran harus benar-benar dimanfaatkan. Belajar dari pengalaman, banyak peserta pameran dari Indonesia cuma sibuk melayani permintaan, tetapi lupa bahwa yang terpenting dari kehadirannya adalah memperkenalkan usahanya. “Kalau kami, pasti memilih. Bukan mencari direct consumer, tapi bagaimana kami bisa menyakinkan bahwa kami itu eksis, real bukan fake,” kata Marselinus yang rajin mengikuti berbagai pameran di dalam dan luar negeri, antara lain Ambiente, di Frankfurt, Jerman.

Meski masih ada hambatan sinkronisasi perizinan pusat dan daerah, menurut Marselinus, persoalan regulasi di dalam negeri kini sudah sangat membaik. Pemerintah pusat terlihat sangat mendukung usaha kecil dan menengah. Beberapa aturan yang memberatkan, seperti ketentuan eksportir terdaftar produk industri kehutanan (ETPIK), ketentuan Badan Revitalisasi Industri Kehutanan (BRIK), dan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) untuk keranjang rotan dicabut, sehingga sangat mempermudah pelaku usaha.

Yang terpenting bagi Seloagro, omset terkendali. Sejak 2012, omsetnya US$100 ribu-1 juta per tahun yang mencapai puncaknya pada 2014. Namun, karena persoalan ekonomi dunia dan perhatian yang semakin tinggi pada kualitas perusahaan, dalam hal ini social compliance seperti sertifikasi, sejak 2015 omset agak menurun. “Kami cukup terpukul dengan perubahan tersebut dan omset kami turun dalam beberapa tahun belakangan ini sehingga menyentuh sekitar US$ 500.000,” ungkap Marselinus. Ia berharap, pada tahun 2018 ini omset bisa mencapai US$ 1 juta.(*)

Dyah Hasto Palupi dan Sri Niken Handayani

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)