Sumatera Timberindo Industry, Jagoan Ekspor Daun Pintu

Eric Tedja, General Business Manager STI (kiri) & Hidajat Ang, Direktur STI
Eric Tedja, General Business Manager STI (kiri) & Hidajat Ang, Direktur STI

Nama perusahaan mebel PT Sumatera Timberindo Industry (STI) identik dengan pendirinya, Hidajat Chang. Bagi pria kelahiran Medan, 16 Juli 1969 ini, STI yang dilahirkan tahun 2000 ibarat bayi yang telah lama diidam-idamkan. Dari awal Chang memang ingin mempersembahkan mebel yang berorientasi ekspor.

Maka, ketika memulai bisnis pada tahun 2000, Chang langsung tancap gas fokus menggarap pasar ekspor, terutama Eropa. Saat itu, pasar utama perusahaan pembuat pintu kayu adalah Belanda. STI mengimbangi dengan melancarkan ekspor ke Inggris, India, Amerika Serikat, Karibia, Thailand, dan Australia. Total jenderal ada 15 negara yang kini berhasil dirambahnya.

Menurut Hidajat Ang, Direktur STI, pasar ekspor terbesar perusahaannya saat ini adalah Inggris dengan porsi 60%. Lalu, diikuti Australia dan negara-negara di Asia Tenggara. “Dari tahun 2000, total pintu yang terjual kurang-lebih sebanyak 2,2 juta buah dengan lebih dari 100 pelanggan/buyer dari dalam dan luar negeri,” ujar Hidajat. Jenis pintu yang dikembangkan STI adalah pintu internal, pintu eksternal, pintu french, pintu bi-fold, pintu tahan api, pintu kaca, dan aksesori pintu lainnya (finishing, kusen pintu, architraves, jendela pintu).

Lokasi pabrik STI ada di Tanjung Morawa, Sumatera Utara. Perusahaan ini telah mendapatkan penghargaan sebagai pabrikan kayu yang paling lestari di Indonesia. “Hal ini dibuktikan dengan penggunaan kayu yang bersertifikat (FSC dan SVLK),” kata Hidajat.

Strategi yang dilakukan STI untuk meningkatkan ekspor dalam menghadapi krisis global adalah delivery produknya selalu tepat waktu, terus berinovasi melalui R&D, dan melalukan efisiensi dalam proses manufacturing. Kemudian, untuk berekspansi menggarap pasar baru, pihaknya selalu melakukan riset budaya di sebuah negara. Contohnya, di Inggris budayanya adalah mengganti pintu 1-3 tahun sekali. “Kami mengirim 16 ribu pintu ke Inggris per bulan. Jadi, apa pun yang terjadi di negara tersebut, market kami tetap ada. Sejauh ini kami tidak mengalami penurunan permintaan,” Hidajat menuturkan.

Strategi lainnya untuk menggaet pelanggan baru adalah mengundang mereka ke pabrik STI untuk melihat proses produksinya. “Kami kasih lihat performance, produk, dan mengundang mereka untuk datang ke pabrik. Kami berusaha membangun kepercayaan terlebih dahulu sebelum transaksi,” katanya. STI juga terus mencari mitra dagang dengan studi banding ke luar negeri dan bekerjasama dengan atase dagang.

Untuk menembus pasar ekspor, ada sejumlah tantangan yang dihadapinya. Selama ini, bahan baku pembuatan pintu STI berasal dari impor. Untuk itu, dalam upaya mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor, pihaknya membentuk tim khusus untuk meneliti spesies kayu di Indonesia yang dapat digunakan sebagai bahan baku pengganti kayu oak dari Amerika. Saat ini pun, pihaknya sedang memperkenalkan kayu meranti dan progress-nya cukup bagus diterima pasar. Misalnya, dari 10 kontainer yang dibeli pelanggan, 1-2 kontainer merupakan produk dari kayu meranti.

Kami juga menemui adanya pergeseran permintaan produk dari produk massal ke produk custom, sehingga R&D kami terus berkembang. Kami mengadopsi teknologi terkini seperti Enterprise Resource Planning untuk meningkatkan efisiensi dan perencanaan produktivitas. Kapasitas produksi kami untuk pintu custom 4.000 ribu buah per bulan,” kata Eric Tedja, General Business Manager STI, menambahkan.

Tantangan lainnya adalah masalah fluktuasi kurs rupiah terhadap dolar AS karena bahan baku kayu oak porsinya 60% dari total keseluruhan bahan untuk produk pintu STI. “Kami beli bahan baku dalam harga dolar dan jual barang jadi dengan harga dolar juga. Jadi, cost bahan baku ter-cover. Kemudian untuk kelangsungan ketersediaan bahan, kami kan beli kayu yang bersertifikat, jadi selalu terjamin,” Hidajat menjelaskan.

Memang untuk memasuki pasar ekspor, pihaknya harus menawarkan advanced technology dalam produk, tetapi dengan harga rendah agar bisa bersaing. Mengapa harus bisa bersaing? “Karena, sekarang pesaing terbesarnya adalah China. Kalau kami tidak bisa bersaing secara harga, sudah pasti kalah,” kata Hidajat.

Kendati penuh tantangan dalam menebus pasar ekspor, kinerja STI dalam lima tahun terkahir (2014-2018) terus meningkat. Penjualan naik 138%, dari US$ 6,7 juta pada 2014 menjadi US$ 16 juta di 2018. “Di 2019, target kami US$ 18 juta,” ungkap Hidajat. Di 2019 ini, STI memiliki 900 karyawan dengan kapasitas produksi 25 ribu pintu per bulan.

Selain menyasar pasar ekspor, STI juga memasarkan produknya di dalam negeri. Sejak 2010, STI mengembangkan merek sendiri bernama Wira Door untuk memenuhi permintaan domestik dan sudah mematenkan merek tersebut pada 2010. Namun, saat ini Wira Door belum masuk ke pasar ritel, baru masuk ke proyek, terutama di Sumatera.

Kalau di luar negeri, kami tidak akan masuk dengan brand sendiri, karena sudah pasti kompetitornya banyak. Kalau ke luar negeri, kami tetap menyesuaikannya dengan kebutuhan masing-masing konsumen supaya kompetitor yang menyesuaikan dengan kami,” ungkap Hidajat. (*)

Dede Suryadi dan Andi Hana Mufidah Elmirasari

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)