Sunindo Adipersada, Lejitkan Ekspor di Tengah Perang Dagang AS-China

Iwan Tjen, pendiri dan CEO Sunindo
Iwan Tjen, pendiri dan CEO PT Sunindo Adipersada (Sunindo), produsen boneka

PT Sunindo Adipersada, produsen boneka, membukukan penjualan senilai Rp 130 miliar pada semester I/2019. Penjualan di Januari-Juni tahun ini mencapai 43,33% dari total target penjualan di tahun ini senilai Rp 250 miliar. “Penjualan ekspor sekitar 85% dari total penjualan di tahun 2019,” ujar Iwan Tjen, pendiri dan CEO Sunindo. Sementara, penjualan domestik berkontribusi 15% dari total penjualan.

Sunindo, yang didirikan Iwan di tahun 1991, menghadapi beragam tantangan bisnis untuk menggenjot penjualan ke pasar luar negeri. Dinamika eksternal, misalnya, dihadapi perusahaan ini lantaran perang dagang Amerika Serikat-China yang terjadi sejak awal 2018. Hal ini memicu ketidakpastian perekonomian global. “Tapi, kami justru melihatnya sebagai peluang untuk Sunindo mengembangkan bisnis,” Iwan menegaskan.

Turbulensi bisnis tak hanya dihadapi Sunindo di era perang dagang itu. Di tahun 2000-an hingga 2010, bisnis perusahaan ini sempat terdampak oleh boneka impor dari China yang meluber di pasar domestik. “Bisnis itu seperti main surfing, kalau ada ombak, kami harus menyiapkan diri menunggangi ombak dengan baik, ini yang saya sampaikan ke manajemen perusahaan,” kata Iwan.

Filosofi bisnis ala Iwan tersebut dipraktikkan oleh manajemen untuk beradaptasi dengan kondisi bisnis global. Bukti ketangguhan Sunindo menangkap peluang bisnis terindikasi dari pencapaian omset di tahun 2016-2017 yang nilainya berkisar Rp 170 miliar-180 miliar.

Pemesanan dari konsumen global pun masih tetap mengalir. Living Puppets GmBH --perusahaan yang memproduksi Sesame Street-- misalnya, pada Oktober 2019 kembali memercayai Sunindo untuk memproduksi boneka. Salah satu karakter boneka Sesame Street yang terkenal dari produksi Sunindo adalah Elmo. Living Puppets menjalin kemitraan dengan Sunindo sejak 2013.

Boneka produksi Sunindo semakin dikenal ketika perusahaan ini membuatkan merchandise untuk Pemerintah Indonesia di Sidang Umun PBB belum lama ini. Kemitraan dengan perusahaan global meningkatkan produksi boneka Sunindo.

Untuk menjaga kualitas produk seiring dengan peningkatan produksi itu, Sunindo melakukan modernisasi dan menambah mesin jahit, meningkatkan keterampilan 1.000 pegawai, meluncurkan boneka merek Ozco yang mudah dicuci serta berbahan ramah lingkungan dan aman, juga merekrut desainer artistik boneka yang terampil mewujudkan keinginan konsumen.

Kami berkomitmen mewujudkan kepuasan klien kami, menyediakan layanan dan produk terbaik, dan memiliki sertifikasi internasional dalam hal kualitas produk dan proses produksi,” kata Iwan, menerangkan kiat perusahaannya menembus pasar ekspor. Boneka Ozco, brand boneka yang diciptakan Sunindo, dijual di mancanegara, bermitra dengan distributor di delapan negara.

Perusahaan mainan (boneka) internasional juga memproduksi boneka di pabrik Sunindo di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat. Sebut saja,Wild Republic, Nature Planet, Hermes, Walmart, dan Starbucks. Penjualan Sunindo ke luar negeri itu diserap oleh pasar Eropa (40%), disusul Amerika Utara dan Kanada (30%), Australia (10%), dan Asia (5%).

Sunindo berhasil mempertahankan laju ekspor karena mengembangkan produk inovatif, menyediakan pelayanan konsumen nomor wahid, dan memberikan customer experience yang bernilai tambah, seperti membuat boneka yang didesain khusus untuk memperkuat merek konsumen Sunindo. “Kami dikenal di dalam negeri dan luar negeri sebagai produsen boneka yang menyediakan rentang produk yang komplet dan inovatif,” kata Iwan.

Beragam perusahan global pernah tercatat sebagai pembeli boneka Sunindo, di antaranya Walmart, Rusberry, Bramaier, Pluco/Quele, Friedheim, Sigikid, Tiptop, Douglas, Keel Toys, boneka Elmo (Sesame Street), Hawaii, Puppet Company, Commonwealth, Daphne, Trudi, dan Mattel. Reputasi Sunindo melejit, pemesanan konsumen global kian meningkat. Sebagai contoh, Sunindo pada 2002-2016 ditunjuk Walt Disney Company membuat boneka karakter film animasi Ice Aged.

Contoh berikutnya, membuat produk berlisensi, yaitu Oggy and The Cockroaches. “Mainan yang digemari anak-anak ini telah didistribusikan ke seluruh dunia,” Iwan mengungkapkan. Oggy and The Cockroaches adalah animasi komedi yang diproduksi perusahaan Prancis, Gaumont Multimedia dan Xilam Animation.(*)

Herning Banirestu & Vicky Rachman

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)