Cara Muhammad Awaluddin Bangun Angkasa Pura II

Sumber foto: www.angkasapura2.co.id

Transformasi  Angkasa Pura II (AP II) dilakukan untuk menciptakan perbaikan di segala aspek bisnisnya. Strategi fokus pada customer centric organisation sengaja diambil sebagai langkah besar untuk menyesuaikan diri pada dinamika bisnis yang berkembang saat ini.

AP II  menjalankan lini bisnisnya untuk memberikan infrastruktur bandara terbaik di Indonesia dan mempertajam kompetisinya dari  sisi pelayanan yang diberikan.

Indikator keberhasilan pelayanan AP II terdiri dari 3 hal yaitu level of service, tingkat kenyamanan, dan nilai tambah. Indikator ini berdasarkan Peraturan Menteri 178 Tahun 2015 dan melaluinya AP II dapat mengetahui aspek mana yang harus dilakukan pembenahan dan improvisasi. Selain itu, penilaian customer services satisfication index yang mencapai angka 4,30, melampaui target.

Visi AP II juga menjadi to be connected smart airport in the region, mengacu pada standar internasional, salah satunya Airpot Service Quality. Dari 13 bandara yang dikelola, rata-rata AP II mendapatkan nilai di Q3 sebesar 4,4. Ada 3 bandara berstandar internasional yang dikelola AP II yaitu bandara di Pontianak, Jambi, dan Tanjung Pinang. Tiga bandara ini berdasarkan kategori ASQ mendapat ranking 1 dan 2 dunia.

Untuk kategori yang dilansir Skytrax, AP II memiliki berapa bandara yang mendapatkan ranking internasional, seperti Soekarno-Hatta sebagai The Most Improve Airport yang mendapatkan bintang 3, Kualanamu bintang 4, Pekanbaru bintang 4, Palembang bintang 4. “Ada 7 bandara AP II dari 13 bandara yang sudah terdorong menjadi bandara internasional,” ungkap Direktur Utama Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin. ISO 9001:2015 untuk layanan juga diperoleh bandara Soekarno Hatta, Kualanamu, dan Bandung khusus untuk customer service dan terminal inspection service.

Sistem whistle blower AP II dilakukan melalui media sosial, kontak center, kontak saran dan komunitas untuk mem-viralkan perbaikan yang telah dilakukan. Transformasi layanan terbaru adalah airport helper yang gratis untuk memberikan pelayanan kepada penumpang. “Ke depan kami akan meluncurkan premium airport helper dengan kategori premium service dan berbayar melalui sistem booking,” tambahnya.

Tanggung jawab baru bagi AP II yaitu pengelolaan bandara di Banyuwangi di tahun 2018. Akuisisi organik untuk mengelola bandara Banyuwangi dapat menambah aset dan trafik. Strategi lain perusahaan adalah dengan masuk ke bisnis perkebunan sebagai pengembangan portofolio. “Lainnya adalah digital business, karena jiwa kami ada di sana. Bagaimana kami akan monetizing 100 juta traffic passenger. Opportunity tersebut ada dan kami membangun, menyiapkan SDM serta people development yang akan mengisi area ini,” jelasnya.

Saat ini komposisi revenue terdiri dari kontribusi aero 62% dan non-aero 38%.  Tahun 2020 akan berubah  revenue stream-nya dengan komposisi non aero sudah di atas 50% dan aero  di bawah 50%. Menurut Awaluddin, cara cepat untuk mewujudkannya adalah fokus pada non organic business. Memang tidak semuanya akan dibawa ke sana, sebab non aero akan didorong oleh anak perusahaan. “Hasilnya sudah tampak, tahun lalu kontribusi anak perusahaan terhadap pendapatan kami sebesar 5%. Harapannya di tahun ini menembus 12%, karena sampai September sudah 10%,” paparnya.

Infrastruktur aero dan non aero sesuai aturan internasional diharuskan kontribusi non aero lebih besar dari aero. Kondisi Indonesia belum seperti itu, masih mengandalkan tarif dan pertumbuhan penumpang yang rentan terhadap pengaruh ekonomi. Non aero memiliki banyak peluang, seperti Singapura 70% kontribusinya lewat non aero dengan menitik beratkan pada menarik pengunjung untuk berbelanja. “Hal ini akan kami lakukan untuk membesarkan space bandara di Palembang, Jambi. Tahun 2020 nanti rencananya akan mulai membangun terminal 4 yang menampung 40 juta penumpang,” jelasnya.

Untuk pengelolaan operasional, tahun 2016 total jumlah penumpang di bandara yang dikelola AP II sebesar 95 juta, naik 12,82% dari tahun sebelumnya. Tahun 2017 jumlah penumpang diprediksi 103 juta atau naik 8,67%.

Sedangkan aircraft movement naik 14,17% dengan rincian tahun 2015 sebanyak 632 ribu dan tahun 2016 sebesar 722 ribu. Tahun 2017 diprediksi 784 ribu atau naik 8,63%. Hal ini didukung dengan alam yang kondusif dan pergerakan pemerintah di sektor pariwisata yang gencar. “Untuk omset per 2 oktober 2017 lalu mencapai Rp2,3 triliun dari 842 outlet dan 459 tenant, dan 192 retail,” ujarnya.

Reportase: Anastasia Anggoro Suksmonowati

 

www.swa.co.id

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)