Indonesia Power: Membangun Tiga Aspek Keunggulan dalam Koridor GCG

Sripeni Inten Cahyani, Presiden Direktur PT Indonesia Power

Program penyediaan listrik 35 ribu MW yang dicanangkan pemerintah makin membuat sibuk PT Indonesia Power (IP), anak usaha PT PLN (Persero) di bidang pembangkit listrik. IP bukan lagi sebatas assets operator yang bertanggung jawab terhadap layanan operasi dan pemeliharaan sistem pembangkit listrik, tetapi juga dituntut sebagai assets manager yang dapat menyusun strategi dan rencana pengembangan pembangkit listrik ke depan. “Peran Indonesia Power adalah sebagai enabler PLN dalam menyediakan listrik yang andal dan efisien. Artinya, tidak banyak gangguan dalam hal pasokan listrik dan harganya murah, serta mendukung PLN dalam menjaga keamanan pasokan listrik di sistem Jawa-Bali,” tutur Sripeni Inten Cahyani, Presiden Direktur IP.

Untuk menyukseskan program percepatan penyediaan listrik 35 ribu MW itu, IP bisa melakukannya dengan membangun pembangkit sendiri (swadaya) atau menjalankan kemitraan strategis dengan skema Independent Power Producer (IPP). Selama ini, IP mengelola pembangkit miliknya yang berada di Jawa dan Bali dengan kapasitas terpasang sekitar 8.700 MW. Sekarang IP juga mengurus layanan Operation & Maintenance (O&M) sistem pembangkit milik PLN dengan kapasitas terpasang total sekitar 6 ribu MW –yang tersebar di berbagai pelosok Nusantara dan banyak yang menggunakan mesin buatan China.

Dalam mandat baru, IP juga ditugaskan membangun sistem pembangkit di berbagai lokasi dengan kapasitas terpasang total sekitar 6 ribu MW. Tugas ini ditargetkan bisa diselesaikan dalam lima tahun ke depan. Total investasinya Rp 22 triliun. Selain itu, IP pun diharapkan bisa menyediakan pasokan listrik yang andal tetapi murah.

Tantangan yang tidak mudah, memang. Karena itu, menurut Inten, IP harus melakukan langkah-langkah transformatif. “Secara umum ada tiga arah transformasi yang dijalankan IP untuk merespons tantangan-tantangan tersebut,” katanya. Tiga arah transformasi tersebut menyangkut pengembangan keunggulan, yakni: human capital excellence, operation & maintenance excellence, dan business development excellence. Dengan demikian, langkah-langkah transformasi IP akan menyentuh aspek-aspek SDM, sistem manajemen, TI, organisasi, serta bisnis dan sumber pendanaan.

Di sisi human capital excellence, IP akan fokus bertransformasi dari pendekatan human resource menjadi human capital. Perubahan ini membawa makna bahwa karyawan yang tadinya sekadar sumber daya demi mencapai tujuan perusahaan, berubah menjadi modal untuk mencapai tujuan. Di bidang People System, misalnya, IP telah melaksanakan akselerasi kompetensi bidang jasa O&M. Pengakuan kompetensi SDM di bidang O&M itu kemudian dibuktikan dengan perolehan penghargaan Top 5 O&M Company dalam ajang Indonesia Best Electricity Award.

Nantinya human capital akan menjadi fondasi di dalam pengelolaan korporasi ini,” kata Inten.

Menurutnya, di dalam pendekatan human capital ini, ada dua hal yang penting. Pertama, manajemen IP ingin membuat setiap insan IP memiliki keunikan yang kemudian menjadi aset perusahan. Kedua, bagaimana membantu mereka mampu berkontribusi untuk bisa membuat perusahaan punya daya saing kuat.

Adapun dari sisi O&M Excellence adalah bagaimana memastikan bahwa aset-aset fisik pembangkit yang dikelola mampu bertahan dan memberikan performa operasi sampai dengan usia manfaatnya, sekaligus mengupayakan adanya modernisasi peralatan. Maklum saja, aset yang dimiliki dan dikelola IP memang banyak dan umurnya bervariasi. Tidak mengherankan, life cycle management menjadi salah satu isu penting.

Indonesia Power Sripeni Inten Cahyani dan Direksi PT Indonesia Power pada saat penjurian GCG di Kantor Indonesia Power, Jakarta.

Dalam kaitannya dengan aset yang dikelola, seiring dengan langkah revaluasi aset yang dijalankan induknya (PLN), IP pun menjalankan langkah revaluasi aset. “Di akhir 2015 kami memiliki total aset Rp 54 triliun. Sekarang menjadi Rp 221 triliun,” ungkap Inten.

Dari sisi Business Development Excellence, IP punya target untuk bisa tumbuh secara bersinambung, baik dari segi kinerja, pertumbuhan kapasitas pembangkit, maupun peningkatan dalam hal efisiensi biaya dan kemampuan pendanaan. “Kami memiliki 20 proses bisnis. Masing-masing proses bisnis tadi dibuatkan aplikasinya untuk mempermudah layanan dan kemudahan untuk berinteraksi, serta memastikan integritas data,” katanya. Semua sistem aplikasi tersebut terintegrasi dengan backbone yang menggunakan sistem ERP (Enterprise Resource Planning).

Menurut Inten, untuk pengembangan bisnis ini, IP juga telah menerapkan Project Management Office (PMO). Dengan demikian, IP memiliki tool untuk memonitor bagaimana kondisi proyek di lapangan dan bagaimana mencocokkan antara kurva kemajuan fisik dan kemajuan finansial, serta bagaimana menyelaraskan progres keuangan ini dengan kondisi treasury perusahaan.

Dari sisi pendanaan, IP telah menjalankan pendekatan inovatif untuk memanfaatkan sumber pendanaan baru. Akhir tahun lalu IP berhasil melakukan sekuritisasi Efek Beragun Aset (EBA) dengan raihan positif. Sambutan yang baik dari para investor membuat sekuritisasi aset keuangan IP di tahap pertama mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 2,7 kali, yaitu mencapai Rp 10,05 triliun dari target yang hanya Rp 4 triliun.

Meskipun punya agenda transformasi yang cukup banyak, sebagai salah satu anak usaha andalan dari BUMN besar, IP memiliki komitmen bahwa setiap transformasi yang dilakukan harus dalam koridor GCG yang baik. Inten menyatakan, pihaknya telah menyadari bahwa tata kelola perusahaan (good corporate governance, GCG) telah menjadi salah satu elemen penting bagi IP dalam mempertahankan keberlanjutan pertumbuhan bisnis.

Sejak 2002, IP telah memiliki Pedoman Kebijakan Tata Kelola Perusahaan (Good Corporate Governance Code) dan Pedoman Etika Perusahaan (Code of Conduct) yang sampai saat ini dikaji secara berkala. Inten mengklaim bisnis yang dijalankan IP memperhatikan betul aspek-aspek penting GCG: transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, dan fairness (TARIF).

Kami menyadari bahwa GCG bukan hanya soal skor. GCG merupakan komitmen. Perusahaan tidak mungkin sustain kalau tidak kuat GCG-nya. Apalagi, untuk perusahaan sebesar Indonesia Power dengan aset hampir Rp 220 triliun,” kata Inten. Ia menjelaskan pula, komitmen dalam penerapan GCG tidak hanya ditujukan untuk penciptaan nilai perusahaan secara ekonomi, tetapi juga menciptakan nilai secara sosial dan lingkungan.

Dalam rangka memastikan praktik bisnis yang beretika, sehat, dan berintegritas, menurut Inten, IP telah memiliki dan menerapkan kebijakan Sistem Pelaporan Pelanggaran (Whistle Blowing System) sejak 2011. Perusahaan ini juga memiliki program Indonesia Power Bersih yang berisi pedoman pengendalian gratifikasi dan kewajiban melaporkan harta kekayaan bagi pejabat perusahaan.

Inten menjelaskan pula, selain melakukan penguatan dari sisi SDM, IP juga terus mendorong penerapan sistem pengendalian internal yang efektif. Penerapan sistem pengendalian internal diarahkan untuk memastikan bahwa perusahaan telah memiliki keandalan laporan dan informasi keuangan, kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku, serta efisiensi dan efektivitas kegiatan operasional. IP telah menerapkan kebijakan sistem pengendalian internal dalam bentuk Internal Control over Financial Reporting (ICoFR) yang akan menjadi payung dari penerapan sistem pengendalian internal korporat. “Tujuan pemantauan tersebut adalah untuk melihat dan memastikan efektivitas pelaksanaan pengendalian internal antara rencana dan realisasi,” katanya.

Adapun dari sisi manajemen risiko, IP telah menerapkan Enterprise Risk Management (ERM) untuk membuat pengelolaan risiko menjadi bagian dari budaya kerja korporasi. Penilaian risiko dilakukan melalui pelaksanaan Maturity Level Assessment untuk memastikan bahwa risiko yang ada telah dikelola dengan baik dengan tindakan mitigasi yang diperlukan.”Kami telah melaksanakan Maturity Level Assessment untuk unit-unit bisnis dan korporat,” ujarnya.

Kini, memasuki awal 2018, IP punya tantangan baru. Berdasarkan Roadmap GCG tahun 2014-19, perusahaan ini menargetkan bisa masuk dalam jajaran perusahaan terbaik dalam hal GCG pada 2018-19. Target ini telah bergeser dari target sebelumnya, menjadi The Best GCG of State of Enterprise (SOE) Subsidiaries. “Strategi penguatan GCG ini kami bagi menjadi tiga hal, yaitu: Perfomance System, Process System, dan People System,” kata Inten.

Dalam beradaptasi dengan perubahan, baik eksternal maupun internal, IP telah menyiapkan sistem untuk mengelola perubahan (change management) dengan cara melakukan review Rencana Jangka Panjang Perusahaan setahun sekali. Manajemen dalam hal ini mengumpulkan senior leader tertentu dan diajak berdiskusi. Arah semua ini adalah menghasilkan tiga output utama: value creation, good governance, dan sustainability. (*)

Reportase: Sri Niken Handayani

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!