MRT Jakarta, Kreatif Kembangkan Platform Pendapatan Baru

William P. Sabandar, Direktur Utama PT MRT Jakarta (MRTJ

PT MRT Jakarta (MRTJ) belakangan ini semakin sering menjadi buah bibir. Perusahaan yang punya visi meningkatkan mobilitas dan pertumbuhan dengan mengurai kemacetan itu terus dipuji sejak mulai beroperasi Maret lalu.

Dalam menjalankan bisnisnya, diam-diam MRTJ memiliki tiga platform utama. Yakni, pembangunan infrastruktur (stasiun, depo, rel kereta, dan kereta MRT Jakarta), operasi dan pemeliharaan (stasiun, depo, rel kereta, dan kereta MRT Jakarta), serta komersialisasi (di kereta, stasiun, maupun di kawasan sekitar stasiun/Kawasan Berorientasi Transit) yang terintegrasi dengan konsep pengembangan kota.

Sejauh ini MRTJ telah membangun infrastruktur dari Bundaran HI sampai Lebak Bulus, dimulai pada 2013 dan beroperasi sejak Maret 2019, yang terdiri dari tujuh stasiun atas tanah dan enam stasiun bawah tanah. Targetnya, di tahun 2030 MRTJ sudah membangun 230 km di seluruh Jakarta. Setelah menyelesaikan fase pertama, rute Lebak Bulus-HI, MRTJ kini mulai memasuki fase kedua, membangun jalur utara. “Dalam enam tahun ke depan, kami akan menjangkau wilayah Timur, Barat, Utara, dan Selatan,” ungkap William P. Sabandar, Direktur Utama MRTJ. Perusahaan ini mengoperasikan kereta dengan 16 rangkaian gerbong. Sejauh ini tingkat on time MRTJ 100% karena semua serba otomasi.

Diam-diam MRTJ juga mengembangkan platform bisnis dan transit development oriented (TOD) yang terbilang praktik baru di Indonesia --bisnis pengembangan kawasan. “Konsep kami adalah urban regeneration, pebisnis akan mendapatkan manfaat dengan adanya area pertumbuhan yang baik dan kami pun akan mendapatkan revenue,” kata William.

MRT sengaja diarahkan untuk menjadi platform bagi masyarakat yang datang dengan berbagai ide dan pemanfaatannya, baik itu untuk sosial, ekonomi, maupun lingkungan. Saat ini MRTJ sudah mendapatkan izin dari Pemda DKI untuk membangun lima kawasan pertama, di antaranya kawasan Dukuh Atas, Farmawati, Istora-Senayan, Lebak Bulus, dan Blok M-ASEAN. Banyak bisnis dan layanan baru yang akan muncul mengikuti perkembangan MRT dan kawasan sekitar stasiun.

Yang pasti, untuk mengembangkan platform baru tersebut, manajemen MRTJ juga berkomitmen menjalankan Good Corporate Governance, Risk Management & Business Continuity Management, Quality Management System, serta Safety, Health Environment & Security. “Skor penerapan GCG kami dari BPKP progress-nya meningkat. Per tahun 2018, skor assessment-nya mencapai 85,14 dibandingkan tahun 2017 yang hanya 80,45,” kata William. Berbagai infrastruktur GCG sudah dibangun di perusahaan yang pengembangannya didanai dari program G2G dengan Pemerintah Jepang ini.

Dalam waktu singkat MRTJ memang telah menunjukkan kinerja yang oke. Dari sisi target penumpang, di awal ditargetkan 65 ribu penumpang per hari, pada September 2019 sudah mencapai 90.993 penumpang dan pada Oktober 2019 ada 89.056 penumpang. Laporan keuangan MRTJ 2018 memperoleh penilaian Wajar Tanpa Pengecualian. Tahun pertama, MRTJ rugi Rp 137,51 miliar (maklum, belum beroperasi saat itu), sedangkan tahun 2019 ini labanya diproyeksikan Rp 68,31 miliar.

Pendapatannya diperoleh dari dua komponen utama: fare box (tiket) dan non fare box (nontiket). “Yang unik, pendapatan nontiket lebih besar dibanding pendapatan tiket. Terutama dari advertisement, ritel, telekomunikasi, hingga naming right atau penamaan stasiun seperti Lebak Bulus Grab,” katanya.

Di seluruh dunia, pendapatan nontiket biasanya 25% dari pendapatan tiket. Di MRTJ, pendapatan nontiket justru melebihi pendapatan tiket. “Kami estimasi untuk nontiket akan mencapai 250% dari KPI, jadi hampir tiga kali lipat dari target,” kata William. MRTJ berhasil mengubah pendekatan ke pasar. Stasiun-stasiun itu “dijual” ke perusahaan lain sebagai area marketing/branding. Stasiun Lebak Bulus, misalnya, dijual ke Grab, dan stasiun Blok M ke BCA. Stasiun Lebak Bulus laku terjual Rp 33 miliar per tahun dan Blok M terjual Rp 30 miliar per tahun, masa kontrak lima tahun. Jelas, ini sebuah model bisnis menarik, belum lagi nanti masih ada tambahan pendapatan dari listing fee yang jumlahnya juga miliaran.

Yang juga menarik, kini MRTJ memiliki daya tarik bagi profesional muda untuk bekerja. “Di MRT, 80%-nya merupakan anak-anak muda,” ujar William. Pada 2018, pelamarnya tak kurang dari 195 ribu orang dan tahun ini mencapai 216 ribu orang. Per akhir 2018, MRTJ memiliki 661 karyawan, 400 orang di antaranya bekerja di depo untuk menjalankan operasi dan selebihnya di kantor pusat. Turnover karyawan pun terbilang sangat kecil, hanya 1,36%. (*)

Sudarmadi & Chandra Maulana

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)