PKT Terapkan GCG Lewat Pendekatan Teknologi

Direktur Utama PT Pupuk Kalimantan Timur Rahmad Pribadi (dok, SWA)

PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) meraih predikat Most Trusted Company (Sangat Terpercaya) dengan skor 87,61 dalam ajang Indonesia Good Corporate Governance Award (GCG Award) yang diadakan The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG) dan Majalah SWA.

Direktur Utama PT Pupuk Kalimantan Timur Rahmad Pribadi menilai GCG bukan hanya audit, financial control, anti fraud, dan anti corruption. Tetapi sebagai alat untuk memastikan tercapainya strategis perusahaan. Menurutnya, hal ini penting untuk perusahaan besar seperti PKT.

“Tidak ada perusahaan yang tangguh tanpa GCG. Ini terjadi karena GCG adalah suatu sistem yang kuat bagi perusahaan. Tanpa GCG, perusahaan tentunya akan sulit untuk bertumbuh dan mencapai target kinerja positif,” kata dia dalam acara Indonesia Good Corporate Governance Award 2022 yang dilaksanakan secara hybrid di Jakarta (20/12/2022).

Rahmad menerangkan, perusahaan besar memiliki banyak level pendelegasian yang kadang membuat seorang pemimpin takut untuk mendelegasikan. Karena takut kehilangan kontrol dan tidak percaya dengan bawahan. Hal itu bisa terjadi karena adanya psychological barrier sehingga menyebabkan hilangnya check and balances di dalam critical business processes.

“Ada psychological barrier yang sangat besar yang harus diselesaikan dalam organisasi dan penyelesaiannya adalah GCG,” kata dia. Ketika GCG sudah teraplikasikan dengan kuat, maka psychological barrier tersebut bisa dihindari dan konsep transparency, accountability, responsibility Independence, dan fairness (TARIF) bisa dilakukan dengan baik.

Lantas bagaimana penerapan GCG di tubuh PKT? Dalam paparannya, Rahmad menjelaskan jika PKT menggunakan pendekatan teknologi. Sejak tahun 2021, PKT telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai industri 4.0 light house. Artinya, PKT telah menjadi contoh bagi industri manufaktur yang ingin menjadi industry 4.0. Saat ini, PKT telah memiliki 85 aplikasi yang terintegrasi dalam sistem management terpadu. “Dalam konteks GCG, kami memiliki 8 aplikasi, dimana 6 di antaranya sudah mendapatkan HAKI (paten).”

Dia menjelaskan bahwa digitalisasi penting karena membawa transparansi. Misalnya saja ketika direktur ingin mengecek aplikasi kredit. Dia bisa melihat apakah kredit dari konsumen sudah di review atau belum dan siapa yang bertanggung jawab terhadap hal itu. Review itu, menurutnya, menjadi lebih transparan sehingga perusahaan lebih mudah dalam mengelola responsibility serta accountability.

Melalui teknologi yang diterapkan tersebut, PKT berhasil membukukan peningkatan revenue dari Rp20 triliun pada 2021 menjadi Rp35 triliun per November 2022. Sementara itu, CSR Satisfaction juga naik dari 89,63% pada tahun 2020 menjadi  88,94% pada 2021. Peningkatan pun juga terjadi pada costumer satisfaction dan employee engagement yang masing-masing naik dari 4,39 di tahun 2020 menjadi 4,81 tahun 2021, serta 86,17% pada 2020 dan 86,37% pada di 2021.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)