Tranformasi Antam untuk Terapkan Program GCG

Dimas W. Pramudhito, CFO PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) Direktur Keuangan PT Antam Tbk., Dimas Wikan Pramudhito.

Mengambil tema “Manajemen Perubahan Untuk Peningkatan Nilai Tambah Berbasis Sumber Daya,” PT Antam Tbk. berusaha menerapkan program GCG (good corporate governance) untuk mencapai performa perusahaan yang bagus.

Sebagai perusahaan berbasis sumber daya alam di Indonesia, Antam melakukan kegiatan operasi yag terintegrasi secara vertikal. Operasionalnya meliputi eksplorasi, penambangan, peleburan, pengolahan, pemurnian dan pemasaran komoditas utama. Komposisinya sebagai BUMN dengan 65% kepemilikan saham pemerintah yan tercatat di Bursa Efek Indonesia dan Bursa Efek Australia.

Antam juga berorientasi ekspor dengan pasar utamanya yaitu Korea Selatan, Tiongkok, dan India. Komoditas utama adalah bijih nikel, feronikel, emas, perak, bauksit, alumina, batubara, serta jasa pengolahan dan pemurnian logam mulia. Destinasi penjualan ekspor Antam yaitu 58% dan untuk pasar domestik 42%. Afrika dan Asia menjadi destinasi yang terus dijajaki karena memiliki potensi baru untuk pasar emas.

Menurut Direktur Keuangan PT Antam Tbk., Dimas Wikan Pramudhito, sepanjang semester I di 2017 komposisi penjualan Antam yaitu bauksit, batubara & bijih nikel sebesar 7%, feronikel sebesar 30% serta emas, perak & jasa pemurnian sebesar 63%. Perubahan manajemen pada Antam juga dilakukan atas regulasi pemerintah berdasarkan UU No. 4/2018 yang menginginkan adanya penambahan wilayah melalui hilirisasi.

“Komitmen hilirasi Antam dikukuhkan dengan perubahan visi Antam 2020 menjadi visi Antam 2030. Tujuannya untuk memaksimalkan nilai perusahaan bagi shareholders & stakeholders, meningkatkan kesejahteraan karyawan, kemandirian masyarakat di sekitar wilayah operasi, dan mempertahankan kelestarian lingkungan hidup,” ujar Dimas.

Melalui visi 2030, Antam ingin menjadi korporasi global terkemuka melalui diversifikasi dan integrasi usaha berbasis sumber daya alam. Dalam menjalankan strategi ini Antam telah memiliki modal dasar berupa transformasi bisnis ke sumber daya mineral. Selain itu diperlukan juga akselerasi untuk bisa meningkatkan nilai tambah komoditas. “Untuk itu, nikel dan bauksit sebagai sasaran hilirisasi harus dilakukan pengembangan dan peningkatan nilai tambah untuk menunjang industri pada tahap selanjutnya,” ujarnya.

Untuk logam mulia, Antam telah melakukan peningkatan nilai tambah komoditas emas secara lengkap dari bijih hingga ke pemurnian dan manufaktur. Strategi bisnisnya di tahun 2017 – 2021 yaitu peningkatan added value dengan membangun smelter. “Oleh karena itu kami harus memiliki strategi antara lain Quick Cash Action, Mineral Sustainability, Maximize Added Value, dan Asset Optimization,” jelasnya. Strategi ini dilakukan untuk dapat mengupayakan penambahan nilai perusahaan.

Quick Cash Action berfungsi untuk perbaikan posisi keuangan perusahaan melalui peningkatan revenue usaha pada peluang-peluang bisnis quick cash. Sedangkan Mineral Sustainability adalah intensifikasi wilayah eksplorasi dan akuisisi potensi cadangan dan sumber daya strategis, Maximize Added Value berguna untuk mengembangkan pabrik pengolahan FeNi dan SGA, dan Asset Optimization untuk membantu meningkatkan potensi dan nilai aset lancar.

Proses transformasi yang dijalankan Antam sebagai bentuk revitalisasi Enterprise Resource Planning (ERP). Tujuannya, untuk meningkatkan efektivitas dan akuntabilitas dalam bisnis dan meningkatkan efisiensi. Lewat transformasi ini, Antam berusaha untuk meningkatkan profitabilitas, daya saing, dan pertumbuhan berkelanjutan.

 

Reportase: Jeihan Kahfi Barlian

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)