3 Pilar Bank DBS Untuk Green & Sustainable Business

Aktivitas perbankan hingga saat ini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Fasilitas perbankan mulai dari tabungan hingga pembayaran tak dapat dipisahkan dari aktivitas masyarakat. Selain itu juga terdapat banyak pembiayaan penting yang diberikan oleh bank kepada perusahaan dari bebagai sektor industri.

Perjanjian Paris menyepakati pengendalian peningkatan suhu tidak lebih dari 1,5 derajat Celcius, dan telah disepakati oleh dunia agar sasaran yang mau dicapai tahun 2050 adalah net zero sum dalam karbondioksida (CO2). Mengingat cakupan bank yang luas tersebut, maka penting bagi bank untuk mendukung agenda Green & Sustainable atau ESG (Environmental, Social, Governance).

Bank DBS Indonesia sebagai salah satu peraih Indonesia Green & Sustainable Companies Award 2022 yang diselenggarakan oleh SWA, menyebut telah melaksanakan sejumlah upaya untuk mendukungnya. Ello Hanson, Team Head Institutional Banking Group (IBG) PT Bank DBS Indonesia, mengatakan, DBS sudah mengumumkan mengenai komitmen net zero lending by 2050, dan DBS menjadi bank Singapura pertama yang bergabung ke UN-linked Net-Zero Banking Alliance (NZBA).

Lebih lanjut Elllo menjelaskan, Bank DBS memiliki beberapa pilar untuk mencapai agenda tersebut. Pertama, Responsible Banking. Hal ini, kata Ello, kaitannya dengan eksternal. DBS melakukan asesmen terhadap ESG dalam semua proposal kredit, antara lain menganalisis aspek seperti environment, governance dari perusahaan.

“Apabila ada yang di luar aturan ESG maka harus diperjelas lebih lanjut mitigasinya seperti apa. Tidak hanya itu, DBS juga harus melakukan sustainable financing,” ujar Ello dalam Conference & Virtual Awarding Indonesia Green & Sustainable Companies Award 2022.

Lalu kedua, yang kaitannya dengan internal yakni Responsible Business Practices. Di antaranya waste management, solar panel installation, carbon footprint. “Lalu kami ada juga Sustainable Sourcing Principle (SSP), yakni kami meminta para supplier untuk tanda tangan untuk memastikan barang-barang yang ditawarkan ke kami berasal dari sustainable source,” jelasnya.

Ketiga, Creating Social Impact, yang terkait sisi karyawan, antara lain terdapat annual volunteering, workshop dan pembiayaan kepada social enterprise terpilih.

Mengenai sustainable financing (pembiayaan berkelanjutan), lanjutnya, DBS senantiasa memperhatikan portofolio klien apakah sudah memadai. Dia mengatakan bahwa Dekarbonisasi adalah keharusan bagi semua pelanggan dan institusi finansial. “Selain inisiatif dari bank sendiri, tentunya para perusahaan juga harus memiliki kesadaran untuk jemput bola terkait agenda ini,” tuturnya

Ello menerangkan, pembiayaan berkelanjutan yang ditawarkan kepada kliennya terbagi menjadi dua yakni working capital loans dan sustainability project financing, yang terdiri dari sustainability-linked loans, dan green loans atau green bonds.

“Kalau yang pertama fokusnya adalah KPI dari ESG di klien. Klien tidak harus serta merta melakukan green, tetapi yang penting mereka punya komitmen yang jelas untuk melakukan fokus terhadap reduce,” jelasnya.

Adapun hingga Oktober 2021, DBS sudah menyalurkan sustainable financing sekitar Sin$30 miliar dengan target sampai 2024 adalah Sin$50 miliar. “Kemudian pada 2039 kami punya komitmen untuk tidak ada lagi ke thermal coal,” tegas Ello.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)