Indonesia Power, Memperkuat Lini EBT dan Melestarikan Keanekaragaman Hayati

Muhammad Ahsin Sidqi, Direktur Utama Indonesia Power
Muhammad Ahsin Sidqi, Direktur Utama Indonesia Power

PT Indonesia Power, yang berdiri tahun 1995, adalah salah satu anak perusahaan andalan PT PLN (Persero). Perusahaan yang sebelumnya bernama PT PLN Pembangkitan Tenaga Listrik Jawa Bali I (PLN PJB I) ini berperan memberikan solusi pemenuhan kebutuhan pasokan listrik di Indonesia.

Saat ini, Indonesia Power mengoperasikan lima Unit Pembangkitan milik sendiri; 13 Unit Jasa Pembangkitan yang mengelola jasa operation & maintenance pembangkit milik PLN; tiga Unit Pembangkitan dan Jasa Pembangkitan, yang mengoperasikan pembangkit milik Indonesia Power dan PLN; serta satu Unit Jasa Pemeliharaan.

Dalam 10 tahun terakhir, ukuran bisnis Indonesia Power berkembang signifikan. Dari sisi daya listrik terpasang yang dioperasikannya, terjadi peningkatan dari 8.993 MW pada 2009 menjadi 15.595 MW pada 2019. Dalam periode yang sama itu, jumlah unit kerjanya meningkat dari 10 unit menjadi 24 unit. Seiring dengan itu, juga terjadi penambahan karyawan dari 3.293 orang menjadi 4.308 orang.

Sasaran utama Indonesia Power di bidang lingkungan dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan antara lain termuat dalam Hijaunesia Power. Sasarannya adalah menjadi perusahaan pembangkit yang aman, bersih, hijau, andal, dan efisien.

Menurut Muhammad Ahsin Sidqi, Direktur Utama Indonesia Power, komitmen perusahaan terhadap lingkungan juga termaktub dalam pernyataan misi perusahaan, yakni “Menyelenggarakan bisnis pembangkitan tenaga listrik dan jasa terkait yang bersahabat dengan lingkungan.”

Ahsin berpendapat, kunci keberhasilan pengembangan pembangkit itu adalah tata kelola perusahaan yang efektif. Di Indonesia Power, tata kelola pengembangan pembangkit itu diformulasikan dalam sebuah sistem manajemen terintegrasi, yakni Indonesia Power–Integrated Management System (disingkat InPower IMS). InPower IMS merupakan sistem terintegrasi dari berbagai standar, sistem, ataupun metode yang relevan, berdasarkan best practices ataupun standar internasional. Sistem ini telah diterapkan Indonesia Power sejak 2013 di 10 unit perusahaan, termasuk kantor pusat.

Menyangkut green initiatives, menurut Ahsin, Indonesia Power fokus pada penguatan lini energi terbarukan sebagai second curve of business perusahaan. Ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang telah menetapkan porsi Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sebesar 23% dalam bauran energi primer di tahun 2025.

Selain berperan untuk memenuhi bauran energi primer, Ahsin menyebut bahwa pembangkit EBT juga telah berhasil meningkatkan efisiensi biaya pokok penyediaan (BPP) listrik, menurunkan emisi gas rumah kaca, serta mendukung akses energi yang berkelanjutan dan terjangkau. Komitmen pengembangan Green Power Plant ini diwujudkan dalam tema Hijaunesia Power untuk membangun perilaku mengutamakan safety & green di lingkungan internal dan eksternal. Direksi Indonesia Power pun sudah mengeluarkan surat keputusan tentang Pedoman Penerapan Green Power Plant di lingkungan perusahaan.

Indonesia Power punya program meningkatkan kinerja pengelolaan lingkungan atau PROPER, dari Hijau Menuju Emas (Green to Gold) dalam periode 2018-2022. Ahsin menyebut salah satu unit pembangkit yang telah menerapkan strategi untuk memenuhi seluruh kriteria pengelolaan Lingkungan Emas adalah Unit Pembangkit Listrik Tenaga Diesel dan Gas (PLTDG) Bali Pesanggaran.

Program unggulannya adalah pelestarian keanekaragaman hayati. Antara lain, ada upaya konservasi tukik (anak penyu) melalui program Bank Telur Penyu Berbasis Partnership dengan Nelayan. Program konservasi tukik dijalankan Unit PLTDG Bali Pesanggaran bekerjasama dengan nelayan Bali Selatan. Caranya, dengan mengedukasi masyarakat sekitar tentang larangan konsumsi telur penyu, tata cara penyelamatan, sampai bagaimana menetaskan dan melepasliarkan tukik.

Menariknya lagi, Unit PLTDG Bali Pesanggaran juga punya program TOSS, singkatan Tempat Olah Sampah Setempat. Program ini bertujuan mengatasi permasalahan sampah di unit dengan mengolah sampah organik menjadi pelet (briket), yang dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk proses gasifikasi, yang dapat menghasilkan listrik. Sampah diolah dengan teknik peuyemisasi selama 3-7 hari menggunakan bioaktivator. Bahan bakar yang dihasilkan dari proses ini mempunyai nilai kalori 2.600 kilokalori/kg. Listrik yang dihasilkan dipakai untuk fasilitas penunjang unit dan disuplai ke usaha peternakan.

Hasil pengelolaan lingkungan dibuktikan dengan pencapaian kinerja pngelolaan lingkungan. Dalam Program Penilaian Kinerja Pengelolaan Lingkungan Perusahaan (PROPER) yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2018, Indonesia Power berhasil meraih satu PROPER Emas, 11 PROPER Hijau, dan tiga PROPER Biru. (*)

Joko Sugiarsono & Jeihan K. Barlian

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)